hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Saturday, 9 February 2013

SIAPAKAH PRESIDEN INDONESIA SELANJUTNYA?


Oleh : Dedet Zelthauzallam
Menjelang pemilu legilatif dan presiden 2014, peta perpolitikan Indonesia masih dikatakan belum stabil. Partai politik yang akan bertarung masih memiliki peluang yang sama. Meskipun banyak survei menjagokan Golkar dan PDIP memenangkan pemilu. Namun hal itu tidak bisa dijadikan patokan, mengingat politik itu bisa berubah secepat kilat. Bisa kita melihat bagaimana suara PKS yang turun derastis sejak presidennya dijadikan tersangka oleh KPK.
 Saat ini parpol peserta pemilu sangat berambisi mendulang suara sebanyak-banyaknya pada pemilihan legislatif karena syarat untuk bisa mengusung calon presiden harus memiliki suara minimal 20%.  Suara 20% harus menjadi target minimal setiap partai yang mau memajukan kadernya menjadi capres. Koalisi untuk mengusung capres dan wapres adalah hal yang dihindarkan oleh parpol besar.
Untuk calon presiden 2014 sudah muncul beberapa nama yang akan diusung partai politik, diantaranya Abu Rizal Bakrie (Golkar), Prabowo Subianto (Gerindra), Wiranto (Hanura) dan Megawati Soekarnoputri (PDIP). Sedangkan Nasdem sebagai partai baru kemungkinan akan mengusung Ketua Umumnya, Surya Paloh. Sedangkan Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP dan PKB belum menetukan capres yang akan diusung. Dari nonpartai Farhat Abas telah mendeklarasikan dirinya sebagai capres. Sedangkan Rhoma Irama dan Jusuf Kalla belum diketahui akan diusung oleh partai mana.
Dalam beberapa survei memang nama-nama di atas sebagai kandidat capres yang dikatakan pontensial dan memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi. Namun dalam survei terakhir yang dilakukan oleh PDB terhadap 13 kandidat capres potensial, elektabilitas Jokowi paling tinggi dengan didukung 21,2% suara. Di bawah Jokowi menguntit Ketua Dewan Pembin Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan raihan 18,4% suara. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di bawahnya dengan 13% suara, diikuti Rhoma Irama yang mengantongi 10,4 persen suara. Sedangkan Ical, JK, Wiranto dan Surya Paloh  memperoleh suara berturut-turut 9,3%,  7,8%, 3,5% dan 1,3%.
Dari hasil survei PDB tersebut, bisa disimpulkan bahwa masyarakat saat ini sudah terhipnotis dengan gaya kepemimpinan Jokowi. Hal itu membuat suara Jokowi naik pesat mengalahkan Prabowo dan Mega untuk maju menuju kursi RI-1. Tetapi seperti diketahui, kecil kemungkinan untuk Jokowi maju sebagai capres pada pemilu 2014, mengingat Jokowi baru menjabat sebagai Gubernur DKI dan partai PDIP sudah mengusung Megawati sebagai capres.
Jadi andaikan kita tidak menghitung Jokowi sebagai capres 2014, maka Prabowo dan Mega memiliki peluang sangat besar menjadi pengganti SBY. Selain ke dua nama itu Jusuf Kalla, mantan wapres ini patut diperhitungkan andaikan ada parpol yang meminangnya. Sedangkan Ical (Ketua Umum Golkar) saya katakan tidak akan bisa menduduki kursi RI-1 meskipun dalam pemilu legislatif Golkar menang. Hal yang perlu diantisipasi adalah calon yang akan diusung oleh PD.
Tetapi sekali lagi nama-nama capres di atas tergantung dari hasil pemilu legislatif. Tidak ada gunanya elektabilitas tinggi namun tidak ada partai yang mengusungnya. Namun andaikan capres 2014 itu  Mega, Prabowo dan Ical. Maka Prabowo akan memenagkan kursi RI-1. Prabowo merupakan pemimpin alternatif bagi masyarakat Indonesia mengingat Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Kita tunggu saja bagaimana peta kekuatan politik menjelang pemilu 2014. Tidak ada yang mustahil dalam dunia politik. Dalam politik itu tidak ada lawan dan kawan yang abadi, yang abadi hanyalah KEPENTINGAN.