hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Friday, 1 February 2013

3K SYARAT MENJADI PEMIMPIN POLITIK


Oleh : Dedet Zelthauzallam
Dalam Islam setiap manusia adalah pemimpin, paling tidak sebagai pemimpin dirinya sendiri dan keluarganya. Jadi dengan kata lain semua manusia adalah pemimpin. Tetapi dalam pertumbuhan dan perkembangan pemimpin (baca manusia) yang makin hari makin banyak jumlahnya membutuhkan seorang yang mampu mengkoordinir pemimpin-pemimpin (baca manusia) itu agar keadaan tetap aman dan kondusif. Manusia harus membuat pemimpin dari mereka sendiri atau menunjuk salah satu dari mereka. Inilah awal mula dari proses adanya pemimpin.
Di zaman sekarang ini yang disebut pemimpin itu adalah mereka yang duduk dalam posisi strategi atau tertinggi dalam lembaga organisasi/ pemerintahan, seperti Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden, Direktur, Menejar dan sebagainya. Di Indonesia yang menganut sistem demokrasi seorang pemimpin dalam pemerintahan harus dipilih secara langsung melalui suatu proses pemilu. Pemilu ini merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui siapa yang bisa menjadi pemimpin bagi pemimpin (baca masyarakat).
Setelah memperhatikan situasi dan kondisi proses pelaksanaan pemilu yang berlangsung di Indonesia baik di pusat dan daerah, maka untuk bisa menjadi pemimpin politik harus memenuhi syarat yaitu 3K. 3K yang dimaksud adalah kemauan, kapabalitas dan kepercayaan. Tiga hal ini, tidak bisa dipisahkan. Salah satu dari ketiga syarat tersebut harus dimiliki oleh calon pemimpin politik.
Kemauan merupakan hal dasar yang harus dimilki oleh setiap orang yang ingin maju sebagai calon. Setelah memilki kemauan maka hal yang kedua adalah kapabalitas yaitu kemampuan yang harus dimiliki setiap calon. Baik dari segi intelektual, sosial dan spritual serta paling penting adalah materiil (uang). Seorang calon harus memiliki kemampuan dalam bagaimana mendapatkan simpati rakyat sehingga mampu mendulang suara yang banyak. Uang juga sangat berperan penting, tanpa modal yang besar akan mengurangi calon tersebut tidak bisa membantu dan melakukan kegiatan di masyarakat.
Hal yang terakhir adalah kepercayaan. Kepercayaan ini kita bisa katakan berasal dari dua aspek yaitu kepercayaan vertikal dan horizontal. Kepercayaan vertikal maksudnya adalah calon tersebut memang benar sudah ditakdirkan menjadi pemimpin oleh Allah, Tuhan YME. Sedangkan kepercayaan horizontal adalah rakyat sudah mempercayakan calon ini menjadi pemimpinnya.