hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Tuesday, 5 February 2013

“KONSPIRASI”, BUMERANG PKS


Oleh : Dedet Zelthauzallam
Menjelang pemilu 2014 bara politik di Indonesia makin membara. Partai politik peserta pemilu menyiapkan kuda-kuda yang kuat  demi memenangkan pemilu 2014. Parpol tersebut sibuk merancang strategi terbaik dalam mendulang suara rakyat. Tetapi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mungkin adalah partai yang bisa dibilang apes. Bayangkan saja Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq ditangkap KPK dengan tuduhan menerima suap impor daging. Padahal tahun 2013 ini merupakan tahun tempatnya partai mengambil hati rakyat atau partai melakukan pencitraan.
Kasus tersebut akan berdampak besar bagi PKS, mengingat orang nomor satunya di partai itu dijerat kasus korupsi. Tidak mau berpikir lama Luthfi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden PKS. Alhasil, Anis Mata selaku sekjen PKS naik menjadi Presiden PKS menggatikan Luthfi. PKS berharap dengan digantinya Luthfi bisa memperbaiki citra PKS tetapi ternyata tidak. Malah Anis Mata selaku presiden baru PKS memperkeruk suasana yang membuat PKS makin menjadi soroton media. Pernyataan Anis Mata yang mengatakan bahwa ada “konspirasi” dibalik penangkapan Luthfi Hasan Ishaq dianggap kontroversional, karena Beliau tidak dapat membuktikan hal itu.
Kata “konspirasi” menjadi buah bibir di media sosial saat ini, baik di media cetak, elektronik maupun dunia maya. Di jejaring sosial PKS menjadi olok-olokan masyarakat. Partai PKS menjadi gosip terhot di dunia maya baik twitter, fb dan BBM. Memang partai PKS sedang dilanda musibah besar bagai tsunami Aceh 2004.
PKS itu bukan Partai Keadilan Sejahtera tetapi singkatan dari Partai Korupsi Sapi, Presiden Korupsi Sapi dan sebagainya, itulah yang dikatakan publik tentang PKS. Banyak masyarakat tidak percaya lagi dengan  partai PKS. Masyarakat beranggapan negatif terhadap partai yang mengaku beridiologi islam ini. Masyarakat tidak senang dengan kader-kader PKS yang tidak mengakui kesalahannya, padahal KPK tidak akan berani menangkap apabila tidak ada bukti yang kuat. Tetapi inilah politikus Indonesia, yang menganggap dirinya bagaikan malaikat yang sempurna meskipun sudah ditangkap basah.
Hal yang harus dilakukan oleh kader-kader PKS saat ini adalah dengan mengakui kesalahan, berani berbuat berani bertanggungjawab. Partai yang berani itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat, kalau salah katakan salah dan kalau benar katakan benar, jangan diputar balikkan. Kalau memang PKS tidak seperti itu maka masyarakat membutuhkan bukti bukan pembelaan tanpa bukti. Bukan dengan kata konspirasi tetapi dengan perbuatan dan tingkah laku dari kader-kader PKS.