hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Tuesday, 17 September 2013

MANAJEMEN KUDA MATI MENJADI BUDAYA DI INDONESIA

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Manajemen memang menjadi suatu topik yang sangat menarik untuk dibicarakan, apalagi kalau sudah dikaitkan dengan organisasi. Maju tidaknya suatu organisasi sangat bergantung dari bagaimana manajemen di dalam organisasi itu. Bengitulah  pendapat dari banyak orang.
Manajemen merupakan suatu proses kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Begitulah devinisi sederhana dari manajemen. Banyak pendapat para ahli mengenai pengertian manajemen. menurut Hilman, manajemen   adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.
Manajemen dinilai sangat memiliki posisi yang sangat penting dalam menentukan suatu proses pencapaian tujuan. Saat ini banyak pemimpin yang hanya menuntut staf/bawahannya untuk memiliki kemampuan manajemen yang baik. Pemimpin tersebut tidak mau tahu, hanya mau terima beres. Pemikiran seperti itu sangatlah salah besar, karena top leaderlah yang dituntut lebih mampu menguasai manajemen dari pada bawahannya.  
Kalau dilihat secara umum, di Indonesia lebih suka menerapkan manajemen kuda mati. Maksudnya adalah setiap kegagalan yang diterima oleh suatu organisasi pasti kesalahan tersebut akan ditujukan ke bawahannya. Pemimpin menganggap dirinya selalu benar meskipun salah.
   Banyak contoh di Indonesia yang bisa digolongkan sebagai manajemen kuda mati . Secara umum saja, pemerintah sering melakukan rotasi atau istilahnya mutasi pegawai, tetapi masalah di dalam pemerintahan tidak kunjung bisa diminimalisir apalagi diselesaikan. Malah lebih menimbulkan banyak persoalan yang tidak bisa dijawab.
 Memang manajemen kuda mati yang sering diterapkan ini tidak akan bisa menjawab akar permasalahan. Misalnya, turunnya tingkat pelayanan kepada publik di Rumah Sakit “A”, maka yang perlu diganti bukan stafnya, tetapi lebih ke pemimpinnya. Contoh lain lagi misalnya di era otda sekarang ini, suatu daerah di era kepemimpinan si A mengalami kemajuan yang cukup menjajanjikan, dengan indikator pembangunan dan PAD daerah tersebut semakin meningkat. Sedangkan setelah si B memimpin pembangunan daerah tersebut bisa dikatakan stagnan. Akar dari permasalah tersebut adalah lebih ke faktor pemimpinnya.
Manajemen kuda mati yang sering diterapkan di Indonesia menjadi budaya yang sangat buruk bagi keberlangsungan negara ini. Pemimpin yang selalu melempar permasalahan kepada orang lain atau ke rakyat adalah salah satu contoh dari manajemen kuda mati. Pemimpin seperti itu tidak boleh memimpin negeri ini. Negeri ini butuh pemimpin yang memiliki kemampuan manajerial yang luar biasa, supaya sumber daya baik SDA dan SDM bisa dimanfaatkan untuk hajat semua orang, bukan sekelompok orang.