hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Saturday, 7 September 2013

KENANGAN IPDN KAMPUS SULUT ANGKATAN XXII

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Pertemuan setiap umat manusia pasti akan diakhiri dengan namanya perpisahan. Perpisahan merupakan konsekuensi yang absolute dari setiap pertemuan. Semua orang harus mampu menerima dan menyadari konsekuensi itu. Inilah yang terjadi saat ini di IPDN Kampus Sulawesi Utara, tepatnya di Desa Tampusu, Remboken, Minahasa. Ada 271 praja tingkat III (Nindya Praja) harus berpisah tempat, karena ada sekitar 33 diantaranya mendapatkan amanah untuk melanjutkan pendidikan di Cilandak, Jakarta Selatan atau di Kampus IIP.
Perpindahan 33 praja tersebut menjadi pukulan yang sangat berat bagi semua satuan praja IPDN Kampus Sulut. Raut muka yang mengisyaratkan penuh kesedihan membuktikan bahwa ada hubungan persaudaraan yang kuat yang sudah terjalin antar praja. Kesedihan ditinggal oleh rekan-rekan ini disebabkan karena praja IPDN Sulut selama sekitar 1,5 tahun memilki history yang sangat tidak bisa dilupakan. Sedih dan senang dalam menghadapi keadaan kampus yang luar biasa kerasnya. Keras disini bukan pemukulan, tetapi keadaan kampus yang serba kekurangan dan extreme.
Bayangkan saja, bagaimana praja IPDN Sulut Angkatan XXII harus berjuang setiap hari untuk melawan kejenuhan, kebobrokan dan kekurangan. Keadaan kampus sementara yang ada di Badan Diklat Provinsi Sulut tidak akan pernah terlupakan. Banyak kenangan yang terukir disana yang akan dikenang sepanjang masa.
Lain lagi kenangan di kampus baru, yang notabenenya terletak di wilayah terpencil. Kampus baru yang berada di Desa Tampusu, Kecamatan Remboken, Minahasa berada di daerah pegunungan. Kampus baru yang masih serba kekurangan ditambah cuaca yang extreme melengkapi cerita praja. Bisa dibayangkan setiap harinya kampus diselimuti kabut. Dinginnya minta ampun, tetapi praja IPDN Sulut tetap dituntut untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan petadupra.
Disamping cuaca extreme, praja IPDN Sulut dihadapkan dengan masalah listrik dan air. Alhamdulillah listrik sudah bisa diselesaiakan, tetapi air sampai saat ini masih belum. Masih banyak hal yang membuat praja IPDN Sulut memiliki cerita yang tidak akan bisa dilupakan.
Seperti itulah potret kehidupan praja IPDN Sulut. Dibutuhkan mental yang kuat untuk bisa hidup dalam keadaan seperti itu. Angkatan XXII sudah bisa menghadapinya. Dengan keadaan seperti itulah, hubungan kekeluargaan praja IPDN Sulut lebih erat. Kenangan di IPDN Kampus Sulut akan selalu menjadi topik pembicaraan yang tidak ada habisnya.
 Saya tidak mau mengatakan perpisahan, tetapi perpindahan tempat bagi 33 praja Angkatan XXII IPDN Sulut ke Kampus IIP tidak bisa menghapus rasa kekeluargaan  dan persaudaraan yang sudah dibangun. Perpindahan tempat ini harus lebih menguatkan hubungan persahabatan diantara kita. Di masa yang akan datang pasti kita aka dipertemukan lagi dan akan sama-sama mengenang masa-masa di IPDN Kampus Sulut.
Tetap semangat Angkatan XXII IPDN Sulut, baik yang dapat IIP maupun yang tetap tinggal disini. Semoga sukses selalu untuk kita semua. Cita-cita kita tercapai dan lebih penting lagi hubungan persahabatan, persaudaraan, kekeluargaan yang sudah terjalin tetap terjalin untuk selam-lamanya. Amiiiinnn