hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Wednesday, 6 February 2013

RAKYAT MEMILIH FIGUR BUKAN PARPOL


Oleh : Dedet Zelthauzallam
Pemilu 2004 merupakan hal yang sangat bersejarah bagi pemerintah Indonesia yang untuk pertama kali memberikan kekuasaan kepada rakyat untuk menggunakan hak pilihnya secara langsung, bebas dan rahasia. Ini merupakan cerminan bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebelumnya, hak pilih yang dimiliki oleh rakyat hanya diwakili oleh MPR/DPR.
Partai pemenang pemilu legislatif 2004 adalah Golkar. Golkar mengalahkan PDIP dalam pemilu legeslatif tingkat pusat. Ini berarti pemilu 2004 masih didominasi oleh partai lama. Hal ini wajar karena rakyat belum ada pengetahuan tentang bagaimana memilih dengan baik. Mereka hanya mengenal pohon beringin yang berwarna kuning dan banteng yang warna merah. Faktor tersebutlah membuat mereka mencoblos kedua partai tersebut dalam pemilu legislatif sehingga mereka mendulang suara terbanyak.
Kejutan terjadi dalam pemilihan presiden 2004 dimana calon-calon presiden dari partai pemenang pemilu tidak mampu mendulang suara terbanyak. Bayangkan saja Susilo Bambang Yudhoyono bisa mengalahkan Wiranto yang diusung Golkar dan Megawati yang diusung oleh PDIP menuju kursi RI-1. Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan partai tidak berbanding lurus dengan kemenangan calon yang diusung. Jadi partai pemenang tidak bisa menjamin calon yang diusungnya akan menang.
Pada pemilu 2009 juga terjadi kejutan dimana Partai Demokrat yang dipimpin oleh SBY memenangkan pemilu dengan memperoleh suara sebesar 20,85% jauh meninggalkan Golkar diurutan kedua yang hanya memperoleh suara sebesar 14,45%. Dengan kemenangan ini SBY akan lebih tenang  menghadapi pemilu presiden untuk mengamankan posisi RI-1. Hasilnya dalam pilpres 2009, SBY tetap naik menjadi presiden untuk kedua kalinya.
Dari pemilu 2004 dan 2009 bisa dikatakan bahwa pemilih yaitu rakyat tidak terlalu mementingkan partai politik mana yang akan dipilih tetapi lebih menjurus kepada tokoh atau figur yang ada di partai. SBY sebagi figur yang dinilai oleh rakyat lebih baik dari yang lainnya bisa memenagkan dua kali pemilu presiden. Dan berkat kepopuleran SBY juga partai Demokrat bisa menjadi pemenang pemilu 2009.
Pemilu 2004 dan pemilu 2009 setidaknya menjadi pelajaran bagi parpol yang akan berlaga dipemilu 2014 mendatang. Ditengah-tengah krisis kepercayaan publik terhadap parpol maka parpol harus menjawab hal tersebut dengan menghadirkan figur yang bisa diterima oleh rakyat. Figur yang dibutuhkan saat ini oleh masyarakat adalah figur yang mengerti dan memahami kebutuhan rakyat. Andaikan parpol bisa memilih dan memiliki figur yang sesuai dengan harapan rakyat maka parpol tersebut bisa menang dan akan merebut RI-1. Janji yang akan diumbar oleh parpol tidak akan berarti apa pun andaikan parpol tersebut tidak memiliki figur.