hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Tuesday, 5 February 2013

KURIKULUM 2013 SEHARGA 2,4T


Oleh : Dedet Zelthauzallam
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan melakukan perubahan kurikulum pendidikan mulai tahun ajaran 2013/2014. Rencana ini menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat. Uji publik kurikulum ini juga sudah dilakukan. Setiap perubahan pasti mengharapkan yang lebih baik dari keadaan sekarang, begitu juga kurikulum 2013 ini diharapkan mampu mengubah wajah pendidikan di Indonesia.
 Banyak yang pesimistis dengan kurikulum 2013 ini baik dari pakar pendidikan, tenaga pengajar dan masyarakat umum termasuk saya. Apabila kita melihat di lapangan, yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia bukan kurikulumnya. Kurikulum  pendidikan Indonesia yang berlaku saat ini yaitu KTSP bisa dinilai baik. Yang salah adalah kurangnya kualitas tenaga pengajar(guru), sarana dan prasarana kurang menunjang. Bagaimana cara tenaga pengajar melaksanakan kurikulum kalau mereka tidak memiliki kemampuan. Jadi pemerintah harus lebih jeli dalam mengambil kebijakan, jangan asal mengubah tanpa arah.
Dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan kurikulum 2013 sebesar 2,491 triliun. Bayangkan anggarannya sangat besar. Andaikan anggaran tersebut digunakan untuk membangun gedung sekolah maka akan lebih meningkatkan dan menekan angka putus sekolah di Indonesia. Anggaran seperti itu juga bisa digunakan untuk meningkatkan mutu dan kualitas dari guru itu sendiri.
Mohammad Nuh  selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sangat optimis. Beliau mengklaim bahwa guru-guru di Indonesia sudah setuju dan siap dengan adanya perubahan kurikulum ini. Pernyataan M. Nuh menurut saya hanya mendengar sebagian guru yang ada. Sebenarnya guru khususnya di pelosok atau daerah terpencil banyak yang tidak setuju. Banyak guru bingung dengan adanya perubahan ini. Mereka harus mengubah administrasi yang ada, salah satunya adalah rapor siswa.
Inilah wajah pendidikan di Indonesia yang terlalu berorientasi pada sistem. Sedikit-dikit menyalahkan sistem. Pemerintah tidak mau melihat langsung masalah apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat khususnya di daerah pelosok negeri ini sehingga pendidikan kita seperti ini.
Kita sebagai masyarakat meskipun pesimis tetapi harus tetap berdo’a dan menunggu hasil kurikulum pendidikan 2013 ini. Apakah anggaran 2,491 T akan mampu menguba potret pendidikan Indonesia? Kita akan sama-sama menunggu jawaban dan hasilnya.