hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Monday, 27 May 2013

CAPRES 2014: LAGI-LAGI JOKOWI



Oleh: Dedet Zelthauzallam
Pemilihan presiden akan dilakukan pada tahun 2014 mendatang. Namun sudah banyak nama-nama calon yang muncul. Ada juga yang sudah mendeklarasikan dirinya menjadi calon presiden. Sebut saja Ketua Umum Partai Golkar, Abu Rizal Bakrie (ARB) sudah satu tahun yang lalu mendeklarasikan dirinya menjadi presiden. Ada juga Prabowo Subianto, Wiranto dan  Megawati Sukarno Putri yang berkeinginan kembali menjadi capres.
Nama-nama di atas mungkin tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, karena mereka itu bisa dikatakan muka-muka lama. Buk Mega dan Pak Wiranto sudah dari pmilihan presiden 2004 ikut berpartisipasi, baik menjadi capres maupun cawapres. Tetapi mereka selalu kalah dengan Susilo bambang Yudhoyono (SBY). Lalu yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana peluang muka-muka lama ini dalam pilpres 2014?
Kalau berbicara peluang, maka bisa dikatakan muka-muka lama ini masih memilikinya. Berdasarkan hasil survei di beberapa lembaga survei nama-nama mereka berada di deretan atas, hanya saja mereka kalah dengan Jokowi.
Setelah Jokowi menjadi gubernur DKI, elektabilitas dan kepopulerannya naik bak roket. Jokowi mampu mengalahkan nama-nama lama yang sudah lama menjadi politikus nasional. Bayangkan saja atasannya di Partai PDIP saja beliau kalahkan. Ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dari seorang tokoh baru.
Berdasarkan hasil survei yang terakhir yang dilakukan oleh CSIS di 31 provinsi, kecuali Papua dan Papua Barat. Survei ini dilakukan dengan metode tatap muka dengan jumlah responden 1.635 orang. Pada survei ini menempatkan Jokowi sebagai capres 2014 pilihan rakyat dengan mendapatkan 28,6% suara. Mengalahkan nama-nama lama seperti Probowo Subianto (15,6%), ARB (7%), Megawati (5,4%), JK (3,7%), Mahfud MD (2,4%) dan Hata Rajasa (2,2%).
Dalam survei yang sama juga menempatkan Jokowi sebagai pejabat negara yang paling populer dengan popularitas mencapai 85,9%, unggul jauh dari pejabat negara lainnya. Di belakangnya disusul oleh Ani Yudhyono (78,5%), Sri sultan Hambengkubowono X (59,5%) dan tokoh lainnya.
Berdasarkan survei di atas bisa disimpulan bahwa Jokowi merupakan tokoh paling pontensial untuk menggantikan SBY di kursi RI-1. Tetapi yang menjadi masalah adalah apakah Pak Jokowi akan mancalonkan diri dan partai mana yang akan meminang Jokowi untuk menjadi calon.
Mengapa Pak Jokowi mampu mengalahkan muka-muka lama?
Joko Widodo atau lebih dikenal Jokowi merupakan seorang sosok pemimpin yang baru muncul di permukaan. Lalu kenapa Jokowi bisa mengalahkan muka-muka lama? Ini disebabkan karena sosok Jokowi yang sangat berbeda dengan pemimpin lainnya. Sosoknya yang sederhana, merakyat dan apa adanya menjadi nilai lebih dari Jokowi. Ditambah lagi dengan gaya blusukan  yang dilakukan olehnya.
 Setelah menjabat menjadi gubernur DKI nama Jokowi menjadi buah bibir di seluruh penjuru nusantara. Sosok Jokowi yang sangat merakyat itu seolah-olah menjadi harapan baru rakyat Indonesia untuk bisa membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Krisis kepemimpinan yang sedang melanda Indonesia seakan-akan terobati dengan datangnya Jokowi.
Rakyat Indonesia sangat mendambakan pemimpin yang benar-benar mendengarkan suara rakyat. Harapan tersebut ditujukan kepada Jokowi. Dengan gaya Beliau yang sangat khas diharapkan mampu mengubah paradigma para birokrat saat ini, yang bisa dikatakan hanya duduk di kantor. Gaya blusukan dari Jokowi sangat disukai oleh rakyat Indonesia.
Faktor-faktor di ataslah yang membuat Jokowi mampu mengalahkan muka-muka lama yang notabenenya lebih dulu dikenal oleh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia menganggap Jokowi adalah calon presiden alternatife. Tetapi andaikan Jokowi tidak mencalonkan diri, maka peluang untuk tokoh-tokoh lama terbuka lebar dalam memperebut kursi RI-1.