hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Monday, 6 January 2014

TAHUN 2014, RAKYAT SEBAGAI PENENTU UNTUK INDONESIA

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Tahun 2014 sepertinya akan menjadi tahun yang penuh dengan perubahan bagi Indonesia. Di tahun ini, akan banyak kegiatan dan program yang akan dilaksanakan. Di awal tahun sudah banyak sekali dinamika yang terjadi, mulai dari tanggal 1 Januari 2014 banyak kebijakan yang diterapkan, seperti jaminan kesehatan nasional, tugas pengawasan perbankan beralih dari Bank Indonesia ke OJK, sampai kenaikan elpiji 12 kg dari pertamina. Dibalik itu, kita semua diperlihatkan aksi penangkapan teroris di Tanggerang Selatan pada malam tahun baru. Inilah gambaran di awal tahun ini.
Tahun 2014 juga disebut sebagai tahun politik bagi Indonesia. Dimana pada tahun ini akan dilaksanakan berbagai pemilihan umum, mulai dari pemilihan legislatif pada tanggal 9 April dan pemilihan presiden pada bulan Juli. Ini berarti akan ada suatu perubahan dari pimpinan puncak di Indonesia. Hal ini pasti sangat berpengaruh besar terhadap kebijakan seperti apa yang akan diambil oleh partai pemenang (legislatif) dan presiden/wakil presiden (eskutif).
Masyarakat Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke pastinya sangat mengharapkan para wakil rakyat yang terpilih baik di MPR, DPR, DPD dan DPRD serta presiden dan wakil presiden beserta mentrinya adalah orang-orang yang benar-benar memiliki kapabilitas dan integritas yang tinggi, sehingga apa yang menjadi cita-cita bangsa ini yang tertuang dalam alenia ke empat pembukaan UUD 1945 bisa dicapai. Hal yang paling pertama dan utama yang perlu dilakukan oleh mereka yang hendak mencalonkan diri adalah say no to corruption. Korupsi harus dibuang jauh-jauh dalam diri para pemimpin dan wakil rakyat periode 2014-2019.
  Pemilihan umum 2014 harus bisa menjadi titik balik perubahan bagi bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia harus lebih jeli dalam memilih calon wakil rakyat dan presidennya. Jangan sampai para calon yang korup dan inmoral dipilih. Paling tidak masyarakat Indonesia memilih para pemimpin yang memiliki sifat dasar dari Nabi Muhammad SAW, yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Empat karakter tersebutlah yang menjadi indikator rakyat memilih para calon pemimpin. Jangan sampai indikatornya adalah money. Politik uang akan menjadi bumerang dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalan kurun waktu lima tahun ke depan. Jadi, rakyat Indonesia harus menjauhi namanya praktek money politik.
 Masa depan Indonesia untuk lima tahun ke depan sangat tergantung dari hasil pemilihan legislatif dan ekskutif tahun ini. Kualitas dari rakyat Indonesia sangat tergantung dari bagaimana hasil pemilu 2014. Apabila para wakil rakyat dan presiden/wakil presiden berkualitas, maka bisa dikatakan bahwa rakyat Indonesia semakin dewasa dalam berdemokrasi. Namun apabila masih tetap stagnan, maka perlu dievaluasi dari sistem pemilihan langsung ini. Percuma sistem pemilihan langsung apabila pemimpin yang dihasilkan tidak memiliki kualtas.
Indonesia membutuhkan para pucuk pimpinan yang benar-benar bisa mengambil kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa. Ini disebabkan banyak tantangan dan peluang yang akan dihadapi Indonesia ke depannya. Di tingkat internasional misalnya, pada tahun 2015, program AFTA antar negara ASEAN akan diterapkan. Selain itu persoalan dalam negeri masih sangat banyak, mulai dari kebutuhan pokok yang tidak stabil, lapangan pekerjaan yang kurang, kemiskinan yang semakin parah dan lain sebagainya. Itulah beberapa tugas berat yang akan menjadi tantangan bagi para pemimpin yang terpilih. Ini bukan tugas yang mudah, tetapi tugas yang berat.
Harapan terbesar kita adalah bagaimana rakyat Indonesia mampu untuk memilih pemimpin yang benar-benar amanah menjalankan tugas dan fungsinya. Jangan hanya memilih yang bisa retorika belaka tanpa action untuk rakyat. Saya yakin dan percaya, saat ini rakyat Indonesia sangat bosan dan muak dengan tingkah laku para pemimpin negeri ini. Meskipun demikian, rakyat Indonesia tidak bisa melakukan tindakan golput. Golput memang pilihan, tetapi mudaratnya akan lebih besar. Jadi, rakyat Indonesia memiliki tanggung jawab yang besar dalam menentukan pimpinan untuk lima tahun ke depan. Saya yakin, rakyat Indonesia menginginkan para wakil rakyat dan presiden/wakil presiden yang benar-benar mampu membawa perubahan untuk kebaikan bangsa ini.