hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Saturday, 11 January 2014

PAHAM MACHIAVELLI DI TAHUN POLITIK

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Tahun 2014 disebut banyak orang sebagai tahun politik. Pastinya perpolitikan di negeri ini semakin memanas. Gesekan antar partai dan calon akan rentan terjadi. Ini memang hukum alamiah dari suatu pemilihan umum. Mau tidak mau, suka tidak suka pasti konflik akan terjadi dalam proses pemilu. Tetapi konflik yang diharapkan adalah konflik yang memang benar-benar memiliki dasar atau kita sebut sebagai konflik beretika. Konflik beretika artinya adalah konflik yang disebabkan oleh suatu keinginan dari setiap partai atau calon untuk memperbaiki keadaan bangsa ini. Konflik ini bisa berupa perang ide, yang meliputi visi dan misi.
Di tahun 2014, ada 12 partai politik nasional yang akan bertarung. Ini pasti akan menjadi pertarungan yang sangat menarik, karena setiap partai tentunya ingin menjadi pemenang. Dalam perebutan kekuasaan ini pastinya akan banyak yang menerapkan paham dari Machiavelli mengenai bagaimana cara untuk mempertahankan dan mendapatkan kekuasaan. Tentunya partai penguasa saat ini (Partai Demokrat) tidak mau kekuasaannya diambil oleh partai lain. Begitu juga partai lainnya akan berjuang untuk merebut kekuasaan dari Partai Demokrat.
Paham Machiavelli kita kenal sebagai politik yang menghalalkan segala cara dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Adu domba dan sejenisnya disahkan menurut Machiavelli dalam bukunya “The Prince”. Ini berarti paham Machiavelli itu sangat tidak memandang etika dan moral.
Namun apa yang dipikirkan oleh Machiavelli memang benar dan sangat sesuai dengan kebutuhan zamannya. Dimana pada masanya, di Florence, Italia, terjadi gejolak yang sangat mengganggu instabilitas berbangsa dan bernegara. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran seperti ini dari seorang Machiavelli. Ini berarti, paham Machiavelli ini tidak sesuai dan bertentangan diterapkan apabila suatu negara dalam keadaan aman dan damai. Palagi di negara yang menanut sistem demokrasi sperti Indonesia.
Apabila melihat dari latar belakang lahirnya pemikiran Machiavelli, maka untuk para elite politik di negeri ini tidak bisa mengikuti sepenuhnya ajaran/paham Machiavelli. Perlu ada modifikasi, sehingga dalam perebutan kekuasaan stabilitas politik di negeri tercinta ini tetap terjaga. Jangan sampai, antara partai yang satu dan lainnya saling hujat menghujat dan adu domba yang membuat keadaan negara ini semakin memburuk.
Namun apabila kita lihat bersama, sepertinya paham Machiavelli ini masih ada yang akan menerapkannaya di pemilu 2014 ini. Masih banyak partai dan elite politik yang suka saling lempar masalah, adu domba dan lainnya (lihat di mass media). Ini tentunya perlu diperbaiki supaya proses perpolitikan 2014 bisa berjalan sesuai dengan koridor hukum yang sudah ada.

Rakyat Indonesia tentunya sangat mengharapkan hasil dari pemilu 2014 ini mampu menghasilkan pemimpin yang memiliki idialisme, spirit, inovasi dan kekonsistenan dalam memperbaiki keadaan bangsa Indonesia. Bagsa ini sudah terlau lama menderita dengan oknum yang hanya mau memperkaya kroninya saja. Saatnya bangsa Indonesia untuk melangkah ke arah yang lebih baik lagi sehingga apa yang dicita-citakan oleh bapak bangsa bisa tercapai.