hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Tuesday, 1 April 2014

BUKAN JANJINYA TETAPI ORANGNYA

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Kekuasaan merupakan sebuah power untuk berbuat lebih. Dengan adanya kekuasaan yang dimilikinya, maka akan dengan gampang menelurkan kebijakan yang baik dan benar menurutnya. Namun dalam memperolehnya, banyak lika-liku yang harus dilaluinya. Tidak gampang dan mudah memperolehnya. Perlu adanya kerja ekstra, baik berupa tenaga, pikiran maupun materil. Adapun yang memperolehnya melalui cara yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Dengan kata lain menghalalkan segala cara sesuai dengan teori Machiavelli.
Di bangsa kita, kekuasaan diperoleh melalui pemilu. Pemilu merupakan sebuah proses pengamanahan kekuasaan dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi ke segelintir orang. Pemegang amanah tersebutlah yang mewakili suara seluruh rakyat. Tentunya apa yang dikehendaki oleh rakyat wajib disampaikan dan diperjuangkan. Tetapi anehnya itu tidak berlaku di negeri ini.
Banyak dari pemegang amanah apatis terhadap suara rakyat. Mereka hanya menyuarakan apa yang menguntungkan bagi mereka, baik untuk dirinya, kelompok dan partainya. Sehingga hasil kerjanya itu tidak pernah menyentuh mayoritas kepentingan publik. Rakyat sebagai pemegag tertinggi tentunya muak dengan prilaku-prilaku pemegang amanah. Kemuakan itu tentunya wajar dilakukan oleh rakyat.
Lalu bagaimana caranya rakyat mengekspresikannya? Mudah sekali, yaitu dengan tidak memilihnya dalam pemilihan selanjutnya. Namun mayoritas rakyat kita mudah tertipu dengan wakil rakyat yang tidak amanah. Sering kali mereka yang tidak amanah terpilih kembali diperiode selanjutnya. Keterpilihannya mereka kembali ini mengundang pertanyaan bagi kita semua, apakah rakyat memang benar-benar marah atau hanya bersandiwara?
Sepertinya rakyat mudah lupa dengan perilaku para pemegang amanah dengan melihat janji-janji baru mereka. Dengan diberikan janji baru kepadanya, maka seolah-olah rakyat terhipnotis. Retorika yang menawan dan luar biasa membuat perilaku masa lalunya seolah-olah lenyap. Itulah budaya bangsa kita yang mudah memaafkan, meskipun berkali-kali diberikan janji.
Seharusnya rakyat menghukum mereka yang tidak amanah dengan tidak memilihnya lagi. Rakyat tidak boleh mudah percaya kembali kepada mereka. Dalam memilih, rakyat harus lebih melihat orangnya daripada janji yang dibawa olehnya. Mereka yang sudah terbukti tidak memiliki sifat amanah, jangan lagu dipilih. Rakyat harus mencari sosok yang memiliki track record yang bagus, supaya suara rakyat selalu didengar dan diperjuangkan.
Dalam banyak kesempatan, bisa kita lihat bagaimana para pencari kekuasaan berkelakar dengan janji-janji manis. Mereka sepertinya banyak yang terjangkit penyakit amnesia. Dimana mereka banyak yang lupa dengan masa lalunya. Semua mengklaim diri dan partainya sebagai yang terbaik. Tetapi kalau melihat kinerja masa lalunya, sepertinya hanya tong kosong nyaring bunyinya saja.
Konflik mengklaim kinerja pun marak terjadi. Ada yang menyerang, adapun yang hanya bertahan dari serangan. Ada pihak yang menyebutkan dirinya orang yang berani dan tegas, namun apabila melihat sejarah masa lalu, maka sebenarnya pihak tersebut sangat penakut. Ada juga pihak yang menyatakan dirinya pro rakyat, tetapi masalah yang diakibatkan dari korporasi pihaknya sampai sekarang belum terselesaikan. Banyak warna-warni yang menghiasi perjalanan proses perebutan kekuasaan di negeri ini.
Dari banyaknya saling serang dan mengklaim, saatnya rakyat harus menunjukkan kecerdasan dalam memilih. Memilih orang yang amanah, bukan orang yang hanya pemberi janji belaka. Rakyat juga tidak boleh tergiur dengan rupiah yang diberikan kepadanya. Rakyat harus berani meninggalkan budaya money politic, karena inilah sumber dari korupsi di negeri ini.

Rakyat sangat menentukan nasib bangsa ini untuk lima tahun kedepan. Rakyat tidak boleh tidak menggunakan hak pilihnya, karena golput bukan pilihan terbaik. Golput hanya sikap yang memberikan peluang kepada mereka yang tidak amanah. Jadi, rakyat harus memilih pada tanggal 9 April 2014. Selamat memilih. Semoga memilih yang terbaik sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.