hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Saturday, 5 April 2014

RAPOR INCUMBENT MENJADI REPRENSI


Menjelang pemilu legislatif banyak rakyat masih galau. Kegalauan ini disebabkan oleh ketidaktahuan pemilih terhadap pilihannya. Masih banyak rakyat yang tidak mengenal calon sama sekali. Ada rakyat yang tidak tahu nama ataupun mengenal mukanya sama sekali, apalagi mengenal track record. Itulah salah satu yang menyebabkan wakil rakyat yang terpilih tidak memiliki kapabilitas untuk menyampaikan aspirasi para konstituennya, sehingga menyebabkan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya tidak menyentuh kebutuhan mayoritas rakyat.  
Rakyat sepertinya harus memiliki banyak reprensi supaya bisa menghasilkan wakil rakyat yang memang memiliki kapabilitas, integritas dan profesionalitas, sehingga bisa menghasilkan kebijakan yang pro dengan aspirasi mayoritas rakyat, bukan kroninya. Untuk mendapatkan itu tentunya rakyat harus cerdas dalam melihat calon-calon yang diusung oleh partai. Partai memberikan banyak pilihan yang akan dipilih.
Dalam pemilu legislatif 2014 ini, menurut data Formappi, ada 90% calon incumbent yang maju lagi menuju Senayan. Padahal apabila kita melihat kinerja mereka pada periode sebeleumnya sangat-sangat memperihatinkan. Peraturan yang bisa dihasilkan jauh dari harapan. Tidak sebanding dengan gaji dan tunjangan yang didapatkan olehnya.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Formappi pada tanggal 3 April 2014, maka DPR mendapatkan rapor merah, karena kinerjanya dianggap masih buruk. Dalam penelitian tersebut setidaknya ada enam indikator yang digunakan, yaitu pertama, kunjungan ke daerah pemilihan, kedua, memiliki rumah aspirasi, ketiga, menghadiri rapat komisi, keempat, melaporkan harta kekayaan, kelima, menyampaikan gagasan dan aspirasi dalam rapat komisi, dan keenam, melaporkan kegiatan selama siding dan reses.
Dengan adanya data tersebut, maka ini bisa menjadi reprensi bagi rakyat dalam memilih. Ini sangat urgent mengingat secara umum para incumbent ini jauh dari harapan. Jangan sampai rakyat jatuh kelubang yang sama untuk kedua kalinya.
Kecerdasan rakyat dalam memilih sangat menentukan bagaimana nasib bangsa ini untuk lima tahun kedepan. Bangsa ini akan semakin terpuruk apabila rakyat salah pilih. Rakyat harus berani mengatakan tidak pada money politic. Rakyat harus memilih orang yang memang benar-benar mampu untuk menyuarakan aspirasi. Kecerdasan rakyat akan teruji pada tanggal 9 April 2014 mendatang. Memilih karena uang atau memilih karena integritasnya.