hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Friday, 25 April 2014

MENCARI PEMIMPIN INSPIRATIF DI ERA PESIMISTIS

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Republik Indonesia lahir dari sejarah yang panjang. Sejarah Republik yang terukir dari zaman batu sampai zaman modern. Tanah Republik yang dipijak oleh manusia purba, pithecanthropus erectus sampai manusia bertehnologi tinggi. Republik yang telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan yang berkharismatik. Seharusnya sejarah tersebut menjadi pelajaran anak bangsa dewasa ini untuk menata masa depan bangsa dan negara ini.
Sejarah tentang para pemimpin yang selalu mengobarkan semangat optimisme di tegah serba kekurangan harus tetap diingat oleh anak bangsa ini. Namun dewasa ini, anak bangsa Republik ini sudah banyak melupakan hal itu. Sejarah kepemimpinan yang telah diukir nenek moyang malah dilupakan. Keapatisan tentang perjuangan nenek moyang membuat Republik ini terperangkap dalam sebuah problem ketidak percayaan diri, sehingga menyebabkan ketertinggalan dalam segala aspek dari negara lainnya.
Anak bangsa menjadi pesimistif tentang masa depan. Padahal nenek moyang Republik ini jauh lebih memiliki masalah yang kompleks. Masalah yang menghantui Republik dewasa ini hanya seper sekian persen dari masalah yang didapatkan nenek moyang kita. Sehingga tidak salah kalau dikatakan era dewasa ini disebut sebagai era pesimistis.
Julukan era pesimistis memang tidaklah cocok untuk Republik yang dibangun dari semangat optimisme. Bisa dilihat bagaimana founding father Republik mampu menebar semangat optimisme kepada rakyat yang notabenenya mayoritas buta huruf. Buta huruf bukan menjadi masalah bagi pemimpin zaman itu, karena mereka mampu menggerakan mereka dengan menjadikan diri mereka sebagai pemimpin yang inspiratif dalam situasi dan kondisi apa pun.
Pemimpin Republik ini (baca: masa lalu) memang mengerti dan memahami hakekat dari kepemimpinan. Mereka bisa menebar buih isnspiratif yang menjadi fungsi dari pemimpin. Mereka mampu menempatkan diri dengan baik dan benar. Menurut Miftha Thoha, mereka memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasan.
Namun dewasa ini, prilaku  pemimpin Republik ini sangat memprihatinkan. Dimana mereka seolah-olah menjadi super hero yang bisa segala-galanya dengan mengindahkan aturan. Super hero ini juga bukan bekerja untuk publik tetapi lebih mengarah ke arah kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mereka seperti harimau yang memakan segala-galanya, tanpa melihat apakah itu haknya atau orang lain.
Mayoritas pemimpin dewasa ini memang seperti itu. Mereka mempertontonkan sifat yang tidak patut diikuti oleh anak bangsa, sehingga anak bangsa dewasa ini tidak memiliki panutan. Padahal pemimpin merupakan panutan utama dalam menata masa depan bangsa dan negara ini. Dengan hilangnya panutan dari mayoritas pemimpin, maka tidak salah kalau masa depan Republik ini semakin curam.
Itu memang pikiran yang lahir dari kelompok pesimistis. Namun sebenarnya itu tidaklah benar. Mengingat Republik ini sudah banyak menelurkan pemimpin yang inspiratif. Anak bangsa harus lebih mampu memahami sejarah, supaya menemukan pemimpin-pemimpin yang patut untuk dicontoh. Seperti Soekarno, Hatta, Buya Hamka, Syahrir dan lainnya.
Pemimpin yang inspiratif di Republik ini sebenarnya masih ada, tetapi masih disembunyikan oleh sistem. Sistem membuat mereka tidak bisa muncul kepermukaan. Mereka masih tidak bisa berbuat lebih dalam menebar buih inspiratif. Mereka masih berdedikasi dalam skala kecil. Namun itu tidak menjadi masalah, karena dedikasi yang dumulai dari hal-hal yang kecil akan berbuah agung.
Sistem demokrasi di Republik ini  harus direstorasi supaya pemimpin inspiratif bisa menyinari dalam skala yang lebih luas, yaitu mencangkup seluruh anak bangsa di pelosok nusantara. Demokrasi dewasa ini hanya akan mengangkat mereka yang berduit. Yang berduit mayoritas mereka berasal dari pengusaha yang tidak peka dengan kemauan mayoritas, karena mereka memiliki kepentingan sendiri.
Dalam perhelatan demokrasi dewasa ini memang sulit menemukan pemimpin inspiratif. Namun kita bisa menemukan pemimpin seperti itu dengan cara anak bangsa ini harus lebih selektif dalam memilih. Anak bangsa tidak boleh apatis yang malah akan menyebabkan mereka (baca: pemimpin yang memperkaya diri) akan terus bergentayangan di Republik ini. Persoalan pemimpin yang disajikan di media perlu menjadi rujukan, tetapi tidak boleh membuat anak bangsa patah semangat dalam melangsungkan semangat kemerdekaan demi cita-cita Republik ini. Generasi saat ini harus menjadi generasi yang memiliki visi optimisme yang tinggi, bulkan pesimistis.
Pemilu Presiden 2014
Kesempatan Republik ini mendapatkan pemimpin yang inspiratif akan bisa didapatkan melalui sebuah proses pemilu. Pemilu yang hadir dalam kurun waktu lima tahun sekali menjadi momentum perubahan bagi Republik ini. Namun dalam pelaksanaannya, masih jauh dari harapan.
Di tahun 2014 ini, perhelatan demokrasi akan berlangsung. Pemilu legislatif dan pemilu presiden akan dilangsungkan. Pada tanggal 9 April yang lalu, Republik sudah melaksanakan pemilu legislative. Harapan anak bangsa pastinya mereka yang melangkah ke Senayan periode ini adalah mereka yang mampu memberikan inspirasi kepada anak bangsa. Jangan mereka datang ke Senayan hanya untuk menguras uang rakyat. Mereka harus menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Pasca pemilihan legislative, KPU akan menyelenggarakan pemilihan presiden. Pemilihan presiden kali ini harus mampu memilih mereka yang memang benar-benar inspiratif, sehingga anak bangsa yang berjumlah ratusan juta bisa digerakan dengan melihat prilaku pimpinan tertingginya. Inspiratif itu berarti akan bisa mempengaruhi bawahannya yang awalnya pesimis dengan keadaan yang menerpa Republik ini. Pemimpin inspiratif akan bisa meningkatkan kepercayaan diri bawahannya. Itulah sosok presiden yang dibutuhkan.
Akankah pemilu presiden 2014 ini akan mampu menghadirkan pemimpin seperti itu? Tentunya itu akan tergantung dari banyak pihak, khususnya partai politik sebagai penyaji calon presiden dan wakil presiden. Partai politik harus bisa menyajikan menu yang terbaik dari yang terbaik, supaya konstituen lebih leluasa dalam menangkap presiden dan wakil presiden yang mampu menebar buih perubahan yang diawali dengan sikap inspiratif.
Konstituen yang diberikan kepercayaan juga harus menggunakan haknya dengan semaksimal mungkin. Jangan sampai demokrasi di Republik ini selalu dimenangi oleh mereka yang tidak menggunakan hak suaranya (golput). Konstituen tidak boleh tergiur dengan angka rupiah yang dijanjikan oleh calon tertentu, karena itu akan menjerumuskan Republik ini ke arah kehancuran.
Republik ini merindukan pemimpin yang inspiratif sebagai nahkoda utama dalam menghadapi gelombang glabalisasi. Mudah-mudahan mereka lahir di tahun ini, tepatnya pada tanggal 9 Juli mendatang.