hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Tuesday, 25 March 2014

PEMIMPIN BERNURANI RAKYAT

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Pemimpin merupakan seorang nahkoda yang paling menentukan arah organisasi. Baik dan buruknya sebuah organisasi ditentukan oleh pemimpinnya. Pemimpinlah yang paling memiliki tanggung jawab penuh. Pemimpin menurut Ki Hajar Dewantara harus mampu memposisikan dirinya ke tiga posisi, yaitu ing ngarso sing tulodha, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. Pemimpin tidak hanya harus bisa memimpin, tetapi juga dipimpin.
Pasca reformasi, peluang rakyat Indonesia untuk menjadi pemimpin sama rata. Siapa pun bisa menjadi pemimpin dengan catatan harus ikut bertarung dalam pemilu. Pemilu sebagai wahana untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas, professional dan kapabel dalam memimpin bangsa Indonesia, sehingga mampu untuk membawa ke arah cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alenia ke empat.
Namun pemilu yang sudah berlangsung di negeri ini belum mampu menghasilkan pemimpin yang diharapkan. Ini bisa dilihat dari bagaimana prilaku para pemimpin yang dihasilkan dari pemilu masih jauh dari harapan. Ego individual, partai dan kelompok masih mendominasi dalam pengambilan keputusan. Padahal mereka merupakan pemegang kedaulatan tertinggi yang berasal dari rakyat. Rakyatlah pemegang kekuasaan yang sebenarnya, bukan mereka yang duduk manis di istana, senayan dan kantor-kantor pemerintahan/perwakilan.
Pemilu juga disinyalir sumber dari semua masalah saat ini, khususnya korupsi. Korupsi yang melanda wakil rakyat, baik di daerah maupun pusat berawal dari pemilu. Pemilu yang ongkosnya terlalu mahal membuat para pemimpin terpilih mencari sumber lain di luar gaji dan tunjangannya. Proyek menjadi jalan utama mereka. Mereka juga membuat rancangan anggaran yang semu, tidak tahu kemana arahnya.
Perilaku amoral juga masih menghiasi para pemimpin negeri ini. Banyak dari mereka masih suka jajan sana-sini dengan wanita yang bukan muhrimnya. Mereka juga masih asyik melihat atraksi-atraksi dewasa di-hp super canggih yang dimilikinya.
Masalah di atas perlu dijawab dan diselesaikan. Caranya adalah rakyat menghukum mereka dengan cara tidak memilihnya kembali. Jangan sampai pemimpin dalam pemilu kali ini menghasilkan pemimpin yang berwajah lama yang notabenenya memiliki rekam jejak yang mengecewakan. Rakyat dalam pemilu kali ini harus bisa memilih yang terbaik, bukan memilih uangnya.
Money politic yang selalu menghiasi perhelatan dua pemilu sebelumnya (2004 dan 2009) harus bisa diminimalisir. Mau tidak mau, suka tidak suka harus. Kalau hal ini masih dilakukan dan diterima oleh rakyat, maka hal yang sama yang sudah terjadi akan terjadi kembali dan akan malah lebih parah lagi, sehingga masa depan bangsa kita akan semakin tidak jelas.
Pemimpin yang diharapkan dalam pemilu kali ini adalah pemimpin yang bernurani rakyat, bukan pemimpin yang haus dengan kekuasaan. Pemimpin bernurani rakyat akan menampilkan segala bentuk pikiran, sikap dan perbuatan yang pro dengan rakyat yang sudah memberikan amanah kepadanya. Kepentingan partai dan kroninya akan dikesampingkan demi melaksanakan amanah. Pemimpin yang amanah adalah salah satu kriteria pemimpin yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW.
Pemimpin bernurani rakyat sebenarnya sudah ditunjukkan oleh para pahlawan pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia. Mereka melawan penjajah dengan ketulusan dan keihlasan tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun. Bapak proklamator bangsa, Soekarno, menyatakan bahwa kami berjuang bukan mengharapkan jabatan dan harta, tetapi demi kemerdekaan anak cucu bangsa dikemudian hari. Cita-cita luhur mereka bisa dilihat dari bagaimana isi dari dasar dan konstitusi bangsa kita. Para pahlawan juga banyak dari mereka tidak meninggalkan harta benda kepada keluarga mereka. Ini bisa dilihat dari Soekarno. Ini sangat afirmatif dari para pejabat bangsa ini yang hidup dengan kemewahan.
   Saat ini, ada sekitar 240 juta penduduk Indonesia. Saya yakin diantara mereka masih ada yang memiliki jiwa seperti pahlawan pendiri bangsa ini. Tinggal bagaimana cara mereka diberikan kesempatan. Tentunya ini kembali ke partai politik, karena partailah wadah menelurkan pemimpin. Kaderisasi partai yang saat ini masih jauh dari namanya berhasil. Bentuknya hanya sebatas siapa yang berduit dan siapa yang dikenal, tanpa melihat bagaimana kualitas dan kemampuan yang dimiliki olehnya. Itulah sebabnya partai politik dan wakil-wakil rakyat dibanjiri oleh pengusaha. Pengusaha yang hanya memperjuangkan kepentingan mereka sendiri.

Pemimpin pemilu 2014 harus yang bernurani rakyat, supaya apa yang terjadi periode sebelumnya tidak terulang kembali. Dan cita-cita luhur pahlawan negeri ini bisa tercapai. Semua itu ada ditangan rakyat. Rakyat harus membuktikan bahwa mereka muak dengan mereka yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Rakyat harus mencoblos orang yang benar-benar benar pada pemilu kali ini. “INDONESIA JAYA”