hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Saturday, 15 March 2014

MANDAT MEGA DAN PILEG 2014

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Pemilu 2014 diwarnai dengan berbagai strategi dari parpol peserta pemilu untuk mampu memenangkannya. Antara partai yang satu dengan lainnya tentunya caranya berbeda-beda. Ada yang menentukan capres dan cawapres dengan cara konvensi, pemira dan lainnya. Ada juga yang menentukan capres dan cawapresnya sebelum pemilihan legislatif. Adapun yang belum memikirkan siapa capres dan cawapres yang akan diusungnya.
PDI-P yang diunggulkan menjadi pemenang dalam berbagai lembaga survei menyatakan tidak akan menentukan capres dan cawapres yang akan diusungnya sebelum pemilu legislatif. Padahal publik sangat menunggu siapa yang akan diusungnya, apakah Megawati atau Jokowi. Apa yang dilakukan PDIP membuat rakyat bisa dikatakan galau, karena melihat hasil survei, Jokowi selalu menempati urutan teratas sebagai pengganti SBY.
Kegalauan publik akhirnya berakhir pada hari Jum’at tanggal 14 Maret 2014 sekitar pukul 14.45 WIB. Megawati selaku Ketua Umum PDIP secara mengejutkan mendeklarasikan Jokowi sebagai capres yang akan diusung partai berlambang banteng ini. Mandat tersebut ditulis tangan langsung oleh Megawati. Teka-teki pun berakhir mengenai siapa capres PDIP.
Keputusan Megawati ini patut diberikan jempol, karena ini menjadi pendidikan yang sangat berharga bagi politisi Indonesia. Sikap seperti ini sangat langka dimiliki oleh politisi kita. Adigium yang menyatakan bahwa mau jadi capres terlebih dahulu harus menjadi ketua partai dipatahkann di negeri ini. Megawati sudah membuktikannya dengan legowo memberikan mandat kepada sosok Jokowi yang notabenenya adalah pengurus partai tingkat daerah.
Penunjukan Jokowi sebelum pemilu legislatif akan memberikan efek yang besar. Efek langsungnya bisa dilihat dari nilai rupiah terhadap dolar semakin menguat dan IHSG pun melonjak ke arah positif. IHSG melejit sekitar 152 poin. Ini berarti pasar merespon positif pencalonan mantan Walikota Surakarta ini.
Direktur Pol-Tracking Institute, Hanta Yuda , memprediksi ada pergeseran peta politik paska PDIP mengumumkan Jokowi secara resmi menjadi capres. Majunya Jokowi disebutnya akan mengurangi jumlah capres yang akan bertarung pada tanggal 9 Juli 2014. Hanta memperkirakan hanya akan ada sekitar 3-4 pasangan yang akan maju dalam pilpres.
Banyak survei menyatakan bahwa dengan penunjukan sarjana kehutanan UGM ini sebelum pemilu legislatif akan melambungkan suara PDIP. Diyakini PDIP akan bisa meraup suara di atas 20% atau mampu mencapai targetnya yaitu 27%. Dengan kata lain penunjukan Jokowi memiliki korelasi positif dengan perolehan suara PDIP.
Caleg PDIP di seluruh Indonesia tentunya sangat senang mendengar pengusungan Jokowi, karena akan berdampak langsung terhadap mereka. Kita ketahui bersama, saat ini Jokowi sangat dielu-elukan publik di seluruh Indonesia, sehingga konstituen akan terpengaruh dan berpeluang mengubah pilihannya kepada PDIP.
Pendeklarasian Jokowi itu tentunya memberikan warning bagi parpol lainnya untuk lebih bekerja keras. Dikatakan demikian karena suami Iriana ini memiliki tingkat elektabilitas yang melambung jauh di atas lainnya dan diyakini akan mampu menarik suara pemilih, sehingga suara parpol lainnya akan bisa tertarik ke PDIP. Parpol lainnya harus menyiapkan strategi yang bisa membendung Jokowi efek. Paling tidak bisa mempertahankan basis suaranya supaya tidak beralih ke PDIP.  

Efek Jokowi ini akan kita lihat pada tanggal 9 April 2014. Apakah akan ada korelasi dengan suara PDIP atau tidak. Tetapi saya yakin, PDIP akan menjadi pemenang dan bisa memperoleh suara di atas 20%.