hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Monday, 10 March 2014

BERINGIN DAN BANTENG BERSAING

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Menjelang Pemilu 2014, kekuatan parpol semakin tidak bisa dibaca. Namun dalamberbagai survei ada dua parpol yang selalu berada di atas dan memiliki suara yang signifikan. Dua parpol itu adalah PDIP dan Golkar. Parpol orde baru ini sepertinya akan kembali menguasai pemerintahan apabila melihat hasil survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Survei SMRC membagi persaingan parpol ke dalam tiga lapisan, yaitu lapisan pertama (PDIP dan Golkar), lapisan kedua (Partai Demokrat, Gerindra dan PKB) dan lapisan ketiga (PPP, PAN, PKS, Hanura dan Nasdem). Dalam survei terebut PDIP memimpin dengan perolehan suara 16,4 %, Golkar (15,0%), Demokrat (10,4%), Gerindra (8,6%), PKB (7,7%), PPP (5,5%), PAN (4,8%), PKS (4,5%), Hanura (4,1%), Nasdem (3,8%), PBB (1,2%) dan PKPI (0,3%)[1].
Melihat hasil survei tersebut, maka beringin dan banteng akan bersaing ketat untuk Pemilu 2014. Berdasarkan presentase hasil yang diperoleh, maka akan terjadi koalisi dalam mengusung capres dan cawapres. Deal politik antar partai pun akan memuluskan jalan koalisi antar partai, baik yang berhaluan nasional maupun islam.
Menurut saya, PDIP memperoleh suara tertinggi disebabkan oleh adanya trust publik terhadap pemerintah menurun. Inilah yang menyebabkan partai di luar pemerintah diuntungkan, karena rakyat akan beralih haluan ke arah partai oposisi. Selain itu juga, PDIP dinilai berhasil menelurkan generasi emasnya. Sebut saja, mulai dari Jokowi, Risma, dan Ganjar Pranomo. Ketokohan yang dimiliki oleh PDIP inilah yang menyebabkan konstituen menaruh kepercayaan pada partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarno Putri ini.
Sedangkan Golkar mampu meraup suara tinggi, disebabkan oleh adanya struktur pengurus yang mengakar sampai ke bawah dan caleg dari Golkar lebih banyak mantan pejabat dan tokoh di suatu daerah pemilihan/dapil. Ini merupakan warisan yang diperoleh Golkar dari masa keemasannya pada saat orde baru.
Menurut saya, Golkar akan kembali menjadi pemenang dalam pemilu 2014. Ini mengingat Golkar lebih memiliki para caleg yang memiliki pengaruh yang besar di daerah. PDIP saya nilai akan bisa menyalip Golkar dengan catatan Jokowi dideklarasikan menjadi capres sebelum Pemilu 2014. Memang akan terjadi persaingan yang ketat untuk Pemilu 2014 ini. Kursi yang akan diperoleh dua partai ini akan tidak jauh berbeda. Kemungkinan besar perolehan suara dua partai atau salah satu darinya akan bisa mencapai 20%, sehingga tidak perlu koalisi.
Untuk urutan ketiga, saya melihat Gerindra lebih memiliki peluang yang besar dibandingkan dengan Demokrat. Ini disebabkan oleh keretakan internal Demokrat dengan berbagai isu negatif, sehingga masyarakat tidak terlalu percaya pada partai yang dipimpin oleh SBY ini. Kejayaan partai Demokrat sepertinya akan runtuh pada Pemilu 2014 ini. Sedangkan Gerindra diuntungkan oleh ketokohan Prabowo Subianto. Mengingat publik saat ini sedang merindukan pemimpin yang memiliki sikap yang tegas dan berani. Sikap itulah yang tertuju pada sosok mantan Danjen Kopasus ini.
Pemilu 2014 ini juga akan menjadi ajang yang berat bagi PBB dan PKPI, karena dalam berbagai survei perolehan suara dua partai ini di bawah ambang batas parlemen. Ini menjadi warning bagi pengurus partai untuk terus bisa meningkatkan keoercayaan publik terhadap visi dan misi yang diusung untuk lima tahun ke depan.



[1] “Survei Jelang Pemilu, PDIP dan Golkar Bersaing Ketat (09/03/2014)”, vivanews.com, diakses tanggal 10 Maret 2014.