hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Tuesday, 1 October 2013

MENGUJI KESAKTIAN PANCASILA DI TENGAH ERA GLOBALISASI

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia selalu memperingati hari kesaktian Pancasila. Sejarah dari lahirnya peringatan kesaktian Pancasila, terlepas dari benar atau tidaknya sejarah, berawal dari pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 Oktober 1965 atau yang lebih dikenal dengan nama G30SPKI. Pemberontakan yang dilakukan oleh PKI ini dinilai sebagai salah satu langkah awal partai yang berpaham komunis ini untuk mengubah idiolagi bangsa Indonesia, Pancasila.
Pemberontakan G30SPKI ini, tercatat sebagai salah satu sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Indonesia tidak boleh larut dengan apa yang terjadi pada tahun 1965, tetapi bangsa ini harus belajar dari peristiwa tersebut. Jas merah memang tidak boleh dilupakan, begitulah pesan bapak proklamator kita, Soekarno.
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak boleh di otak-atik oleh siapa pun, apalagi oleh bangsa luar. Pancasila sebagai dasar negara memiliki peran yang sangat vital. Inilah yang perlu dijaga oleh bangsa ini. Arti dan makna di lima sila dalam Pancasila menggambarkan bahwa Indonesia seperti itu. Bangsa lain tidak akan mengerti dan yakinlah para penyusun Pancasila lebih tahu seluk beluk dari negeri ini.
Pancasila memiliki banyak fungsi bagi bangsa ini, mulai dari  Pancasila sebagai idiologi bangsa, pandangan hidup sampai kepada Pancasila sebagai pemersatu. Soekarno yang menjadi pioner lahirnya Pancasila juga mengakui bahwa isi dari Pancasila merupakan suatu ilham yang diterima beliau. Soekarno menyatakan bahwa isi dari Pancasila merupakan kalkulasi dari sejarah masa lalu, masa sekarang dan masa depan bangsa Indonesia.
Indonesia yang bisa dikatakan sangat plural harus disatukan oleh Pancasila. Pancasila dari sila pertama sampai sila kelima memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Sila pertama sebagai muara dari sila lainnya. Memang kalau dikaji arti dan makna yang terkandung didalamnya luar biasa. Banyak orang di luar sana yang sangat mengagumkan Pancasila. Mereka mengatakan isi yang terkandung di dalam Pancasila memang luar biasa.
Di tengah era globalisasi saat ini, Pancasila memiliki peran penting untuk bangsa Indonesia. Bangsa yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini, yang memiliki 1.340 suku bangsa (BPS tuhan 2010) membutuhkan suatu pemersatu yaitu Pancasila. Pancasila harus tetap ditegakkan, jangan sampai budaya luar menghancurkan pemahaman kita megenai sila dalam Pancasila.
Pancasila bukan pemikiran yang statis, tetapi isi dari Pancasila adalah hal yang sangat tahu tentang masa depan. Pancasila di era awal kemerdekaan akan sama pentingnya di zaman sekarang. Malah di era saat ini lebih penting, kita sangat perlu lebih memperkuat pemahaman Pancasila.
    Tanpa pemahaman yang mantang terhadap Pancasila, maka bangsa ini akan sangat gampang diadu domba oleh bangsa lain yang memiliki kepentingan yang jahat untuk merusak NKRI. NKRI harga mati yang kita dengung-dengungkan akan menjadi sejarah ketika kita tidak memilki suatu pemersatu.  
Jangan sampai di era yang serba terjangkau ini malah akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Keran globalisasi akan berpengaruh positif ketika kita bisa tetap berpegang kepada Pancasila. Pancasila ibarat sebagai filter bagi kita anak bangsa. Tetapi globalisasi akan menjadi bumerang ketika kita tidak mampu berpegang pada Pancasila.
Inilah saatnya kesaktian Pancasila akan benar-benar teruji. Ujian berat bagi anak bangsa ini untuk wajib bisa mempertahankan Pancasila. Tahun 1965 mungkin hanya PKI yang menjadi musuh, tetapi sekarang seluruh idiologi bangsa lain bisa masuk.
 Nilai-nilai yang ada dalam sila-sila Pancasila harus senantiasa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa pelaksanaan akan tidak ada artinya Pancasila. Pancasila akan memilki arti dan makna ketika kita tunjukkan dalam prilaku kita sehari-hari. Pancasila harus tetap bisa dipertahankan di era globalisasi ini.



Note: Mari kita sebagai anak bangsa saling mengingatkan untuk tetap memegang teguh nilai-nilai yang diamanahkan Pancasila, khususnya saya pribadi yang masih belum mampu secara maksimal.