hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Saturday, 6 July 2013

REVOLUSI MESIR YANG GAGAL

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Pada tahun 2011 banyak negara timur tengah yang melakukan revolusi, diantaranya Tunisia, Libya dan Mesir. Revolusi yang dilakukan untuk menumbangkan para diktator yang telah berkuasa puluhan tahun. Para diktator ini dianggap sudah menjadi penyebab utama dari kegagalan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Rakyat sangat marah dan muak dengan para pemimpin mereka, sehingga rakyat turun untuk berdemo menuntut mereka turun dari jabatannya.
Demo besar-besaran di timur tengah tidak sia-sia. Di Libya mampu menumbangkan Khadafi, sedangkan di Mesir menumbangkan Husni Mubarok. Jatuhnya para diktator ini memberikan angin segar bagi rakyat Tunisia, Libya dan Mesir. Rakyat berharap kehidupan mereka lebih bai dari segi. Pembangunan dan kesejahteraan di negara mereka bisa jauh lebih baik lagi.
Dalam revolusi yang dilakukan itu banyak rakyat menjadi korban. Banyak nyawa yang melayang. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah, yang penting pemimpin diktator bisa turun dari jabatannya yang sudah berpuluh-puluh tahun.
Harapan rakyat dari revolusi yang terjadi, khususnya di Mesir sangatlah besar. Rakyat Mesir mengharapkan pemimpin baru mereka setelah revolusi mampu menjawab permasalahan di Mesir. Mesir yang puluhan tahun selalu dipimpin dari kalangan militer ingin mengubahnya. Ini bisa dilihat dari hasil pemilu yang dilakukan pada tahun 2012. Partai islam meraih suara mayoritas dibawah organisasi Ikhwanul Muslimin. Militer kalah telak, sehingga inimenjadi pukulan baginya dan barat.
Di pemilu presiden, Mesir juga mampu menghasilkan pemmpin yang berasal dari non-militer, Mohammad Morsi. Morsi yang berasal dari sayap Ikhwanul Muslimin menjadi harapan baru rakyat Mesir untuk menuju kehidupan yang lebih baik.
Tetapi ternyata harapan dari rakyat Mesir setelah revolusi tidak sesuai dengan harapan, karena antara partai islam dan militer belum bisa menyatu. Militer selalu berusaha untuk mencari kesempatan untuk menurunkan kepemimpinan Morsi yang dipilih secara demokratis.
Ujung dari konflik antara pemerintahan Morsi dengan militer Mesir adalah ketika militer melakukan kudeta pada tanggal 3 Juli 2013. Militer berhasil menumbangkan Morsi dari pucuk kepemimpinan setelah kerusahan politik dan rakyat berunjuk rasa yang menelan korban.
Kalangan militer segera menunjuk presiden sementara, Adly Mansour. Tindakan kudeta dari militer ini jelas ditentang oleh partai islam di bawah Ikhwanul Muslimin. Bentrok antara militer dan pendukung Morsi pun tidak terhelakkan lagi. Sampai saat ini korban pun mulai berjatuhan.
Kudeta yang dilakukan oleh militer ini sebagai bukti dari gagalnya revolusi Mesir. Penyebab utama dari gagalnya revolusi Mesir adalah adanya konflik kepentingan yang terus menerus. Konflik itu berasal dari militer, negara barat termasuk AS. AS yang sangat mendukung revolusi pada tahun 2011 silam ternyata malah mendapatkan kerugian setelah terpilihnya presiden Morsi, yang notabenya berasal dari Ikhwanul Muslimin.
  AS sebenarnya sangat tidak mengharapkan hasil pemilu yang memenangkan Morsi. Jadi AS melalui militer terus menekan dan mencari kesempatan untuk menggulingkan Morsi sebagai presiden. Inilah yang menjadi penyebab utama dari konflik politik yang berujung kudeta terhadap Morsi.