hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Monday, 1 April 2013

MONEY POLITICS MEWABAH DALAM PILKADA


Oleh : Dedet Zelthauzallam
Money politics merupakan fenomena yang dapat dilihat dalam setiap proses pemilihan langsung, dari mulai menjadi bakal calon sampai pemungutan suara. Money politic ini bisa melibatkan semua kalangan, baik kandidat, tim sukses maupun KPU. Semuanya memiliki cara tersendiri dalam memainkan politik uang. Money politics bisa dikatakan sudah membudaya di semua golongan.
Money politics di pemilihan langsung lebih bersifat luas dari pada waktu pemilihan oleh DPR/DPRD. Saat ini semua masyarakat sudah mengenal politik uang. Politik uang selalu dianalogikan dengan setiap pilkada. Serangan fajar adalah salah satu bentuk politik uang. Hal itu harus dilakukan oleh setiap calon untuk bisa memenangkan Pilkada.
Dalam Pilkada, sering kita dengar “ambil uangnya, tolak calonnya”. Sungguh memprihatinkan politik uang di era pemilihan langsung. Orientasi pemilih hanya untuk uang. Paling-paling setiap pemilih dikasih Rp 50.000. Politik uang bagaikan penyakit menular di masyarakat.
Money politics ini harus kita lawan bersama-sama. Jangan kita gadaikan daerah kita hanya dengan uang sekian puluh ribu ataupun ratusan rupiah. Kita harus bisa menjadi pemilih yang baik dan benar demi daerah kita 5 tahun ke depan. Dengan kita menerima uang dalam pilkada juga akan memberikan peluang calon tersebut untuk korupsi. Kalau mereka korupsi lalu salahnya siapa? Yang salah adalah kita sebagai pemilih. Dimana kita menerima uang darinya.
Untuk melawan money politics ini, pemilih (masyarakat) sebaiknya dididik untuk bisa memilih dengan benar. Pendidikan untuk memilih sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam rangka dapat menemukan, mendapatkan dan mewujudkan serta menghasilkan pemimpin yang kredibel dan berintegritas, sehingga bisa membawa keadaan yang lebih baik untuk daerah atau wilayah yang dipimpinnya.