hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Monday, 11 March 2013

Pengertian Penggerakkan (Actuating)



Manajemen pada hakikatnya adalah suatu kegiatan dari pimpinan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dengan melalui kegiatan orang lain. Karena itu, selain perencanaan yang terarah dan terorgnisasi secara matang maka diperlukan tindakan lanjutan yaitu actuating atau penggerakan.
Actuating adalah menggerakan orang agar supaya mau bekerja dengan sendiri dan penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang kita kehendaki. Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdurrachman, “Penggerakan adalah manajemen untuk membuat orang-orang lain suka dan dapat bekerja”. Teori x dan y Mac Gregor dalam leadership  dimana manusia memiliki kecenderungan berbuat baik dan juga memiliki kecenderungan berbuat sekehendak dirinya, maka unsur penggerakan di dalam aktivitas organisasi menjadi penting. Kelompok yang dominan tidak mau bergerak maka digerakkan oleh manajemen, kelompok yang penuh inisiatif cukup diberikan pengamatan sepintas, ia sudah dewasa dan ia sudah memilik rasa bertanggungjawab  sehingga manajemen hanya memberikan penghargaan psikis.
Terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja organisasi dengan penggerakkan terhadap bawahan yang dilakukan pimpinan, hubungan tersebut terletak pada :
a.    Dengan penggerakkan yang semula enggan dan tidak semangat, akan mengubah dirinya menjadi rajin dan bersemangat;
b.    Ketidakfahaman anak buah dalam pelaksanaan tugas seringkali menjadikan dirinya bersifat menunggu perintah, penggerakkan salah satunya berfungsi mengingatkan kelalaian;
c.    Bawahan memperoleh semangat ketika diberikan peringatan untuk peningkatan kinerja individu, hal ini terkait dengan teknik penggerakkan dari pemimpin, dan terkait pula dengan teknik pendekatan yang digunakan;
George R. Terry mengemukakan bahwa actuating adalah “Tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok suka berusaha untuk mencapai sasaran-sasaran agar sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi”.  Sedangkan Dr. Sondang P. Siagian menyatakan bahwa “Penggerakan (Motivating) dapat defenisikan sebagai kesuluruhan proses memberikan motif bekerja kepada bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis”.
Lain halnya dengan Prof. Dr. Mr. Prayudi Atmosudirjo, beliau mengemukakan bahwa actuating adalah aktivitas yang serba aneka ragam, yang terdiri atas:
a)    Komunikasi, artinya selalu berbicara dan berhubungan dengan bawahan;
b)    Human relation, artinya selalu memperhatikan nasib karyawannya;
c)    Leadership, artinya menunjukkan dan membuat bawahan merasa bahwa mereka dilindungi dan dibimbing;
d)    Pengembangan eksekutif, artinya selalu berusaha agar setiap bawahan dapat mengambil keputusan sendiri yang tepat dalam melaksanakan tugas atau kewajiban masing-masing;
e)    Pengembangan rasa dan tanggung jawab, artinya mengembangkan rasa pada diri setiap bawahan untuk menunaikan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi tugas dan kewajiban masing-masing;
f)     Pemberian komando, artinya memberikan perintah, instruksi dan petunjuk, meminta laporan dan pertanggung jawaban, juga memberikan pujian atau marah;
g)    Mengadakan pengamatan atas pekerjaan aktivitas bawahan yang langsung dipimpinnya;
h)   Pemeliharaan moral dan disiplin, artinya mendidik dan memberi contoh kepada bawahan tentang apa yang baik atau patut dijalankan, menjaga ketertiban, kesopanan dan kerukunan.
Lembaga Administrasi Negara (1958: 46), menjelaskan bahwa pengertian penggerakan adalah:
“Upaya agar tiap pegawai atau tiap anggota organisasi berkeinginan dan berusaha mencapai tujuan yang telah direncanakan, sebagaimana yang ingin juga dicapai oleh pimpinan”.
Selanjutnya dijelaskan bahwa penggerakan selalu bersangkutan dengan orang karena esensinya adalah:
a.    Mendapatkan orang-orang yang cakap.
b.    Menyampaikan kepada mereka tujuan yang perlu dicapai.
c.    Menjelaskan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana melakukannya.
d.    Memberikan kewenangan-kewenangan, dan
e.    Membangkitkan rasa kepercayaan pada diri sendiri mengenai kemampuannya dalam mencapai tujuan.
Bagi pemimpin organisasi penggerakan sangat penting artinya dan seorang pemimpin harus dapat mengarahkan bawahannya dengan bijaksana. Agar dalam menggerakan orang-orang dapat berjalan dengan objektif, maka ada 10 anjuran yang dikemukakan oleh George R. Terry dalam LAN (1985: 47) sebagai berikut:
1)    Buatlah orang merasa penting, yang dimaksudkan di sini adalah agar orang dihargai, terdapat dari apa pun pekerjaannya karena yang penting ialah bagaimana ia mengerjakannya;
2)    Kenali perbedaan-perbedaan individual perintah atau instruksi yang dikeluarkan harus memperhitungkan dan memperhatikan ini;
3)    Berikan bimbingan yang memadai, masalahnya memberikan pedoman kerja perlu jelas, tetapi singkat;
4)    Praktekkan partisipasi dalam manajemen. Tiap pegawai merupakan suku cadang dari seluruh mesin manajemen. Jika pegawai diajak berembuk mengenai apa yang akan dilakukan, maka semangat berparisipasinya akan tinggi;
5)     Akui bahwa kebanyakan orang adalah menurut hak. Jika hak pegawai diberikan, maka timbullah pengertian yang baik;
6)    Jadilah pendengar yang baik. Tiap pegawai perlu diberikan kesempatan untuk mengemukakan keluhan. Keluhan ini sudah sepatutnya didengar, diperhatikan dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan suatu keputusan;
7)     Cegahlah argumentasi, semua orang tidak senang pada alasan, lebih-lebih yang dicari-cari sebagai dalih;
8)    Ketahui perasaan orang yang dimaksud ialah jangan berbuat sesuatu yang menimbulkan sentimen dan emosi yang meluap;
9)    Lakukan sesuai dengan cara bertanya. Ini merupakan tekhnik persuasi;
10) Adakan pengawasan yang efektif. Hendaknya pengawasan tidak mematikan, melakukan justru mempertinggi motivasi pegawai untuk bekerja sebaik mungkin.
Dalam hubungan inilah, penggerakan amat penting artinya, seorang pemimpin harus dapat mengarahkan bawahannya secara sukarela. Harus diusahakan supaya para karyawan mau bekerja dengan sungguh-sungguh. Untuk itu diperlukan kegiatan dari “actuating” dari pimpinan, agar para pegawai mengetahui tugas masing-masing dan mencegah jangan timbul kesalahpahaman.