hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Tuesday, 3 December 2013

MEMPERTANYAKAN PEKAN KONDOM NASIONAL?

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Dewasa ini memang kita akui bahwa penderita HIV/AIDS di Indonesia masih banyak. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, pada tahun 2012 ada 21.5111 orang terkena HIV dan 5.686 orang AIDS. Ini berarti peluang penyakit ini untuk menular sangat tinggi. Mengingat gaya hidup masyarakat Indonesia sudah sangat modern, seperti masyarakat Eropa dan Amerika.
Dengan angka penderita HIV/AIDS yang tergolong tinggi membuat banyak kalangan prihatin, khususnya pemerintah. Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan dan program untuk menekan angka penderita penyakit menular ini. Namun usaha pemerintah tidak serta mulus, malah pergaulan bebas dikalangan anak muda semakin meningkat. Alhasil, pemerintah melalui Menteri Kesehatan RI membuat suatu program yang diberi nama Pekan Kondom Nasional (PKN).   
Pekan Kondom Nasional yang digagas oleh Menkes ini bertujuan untuk menekan penularan penyakit HIV/AIDS di Indonesia. Tujuan dari Pekan Kondom Nasional ini memang sangat mulia. Namun program dari Kemenkes ini direspon negatif oleh berbagai pihak, khususnya para pemangku agama. Ini disebabkan oleh ketidaksesuain antara kultur Indonesia dengan penggunaan kondom. Kultur Indonesia bukanlah kultur seperti ini. Inilah yang menyebabkan Menkes kita mendapat kecaman dan sampai ada yang menyebutkan Menkes sebagai ratu kondom.
Memang kalau dilihat, program Menkes ini sangat tidak sesuai dengan norma, kultur dan agama yang ada di Indonesia. Dengan adanya program ini seolah-olah pemerintah mendukung pergaulan bebas yang marak di Indonesia. Seharusnya pemerintah mencari jalan lain untuk mengatasi penularan HIV/AIDS.
Dengan adanya Pekan Kondom Nasional ini memberikan sinyal kepada masyarakat bahwa pemerintah sudah kehabisan akal dalam mengatasi penularan HIV/AIDS. Pemerintah tidak boleh seperti ini. Pemerintah harus mampu untuk mencari ide selain pembagian kondom gratis ini, karena pembagian kondom seperti ini akan membuat remaja Indonesia semakin penasaran dengan fungsi dari kondom ini. Malah dengan adanya rasa keingintahuan remaja akan membuat pergaulan bebas semakin meningkat.