hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Thursday, 27 February 2014

MENUNGGU PERUBAHAN DARI PEMILIH MUDA

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Pemilu 2014 akan segera dilaksanakan. Namun, masih banyak problem yang melanda, mulai dari penetapan DPT, dana saksi parpol, kertas suara dan lain sebagainya. Itu baru masalah tehnis, belum lagi masalah partisipasi masyarakat dalam memilih. Secara statistik, partisipasi warga dalam memilih turun jika dilihat dari Pemilu 1999 (golput 10,21 persen), 2004 (golput 23,34 persen) dan 2009 (golput 39,10 persen)[1]. Atinya Pemilu 2014 tingkat partisipasi masyarakat akan lebih turun drastastis apabila penyelenggara pemilu dan partai politik tidak membuat startegi dalam menarik pemilih untuk datang mencoblos.
Melihat Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dirilis oleh KPU, maka angka pemilih pemula sangat tinggi. Ini artinya akan bisa memberikan suatu paradigma baru dalam memilih, sehingga bisa meningkatkan partisipasi pemilih dan menghasilkan hasil yang memang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Komisioner KPU, Ferry Kurnia Rizkiyansyah, mengungkapkan bahwa jumlah pemilih pemula pada Pemilu 2014 nanti yang berusia 17-20 tahun mencapai 14 juta jiwa. Sedangkan yang berusia 20-30 tahun sekitar 45,6 juta jiwa[2].  Jadi, jumlah pemilih pemula atau yang selanjutnya saya sebut sebagai pemilih muda mencapai sekitar 60 juta pemilih.
Pemilih muda inilah harapan baru dalam Pemilu 2014 untuk bisa membawa perubahan. Ini sudah terbukti di Amerika Serikat bahwa pemilih muda bisa menentukan arah perubahan dan itu dilakukan oleh Barack Obama ketika memenangi pemilu. Waktu itu, sosok Obama dan revolusi dunia media sosial telah menggerakkan partispasi pemilih muda pada rentang 18-24 tahun[3]. Menurut Direktur Riset Charta Politica, Yunarto Wijaya, menyatakan itu sangat efektif dilakukan dan bisa dilakukan di Indonesia.
Caranya adalah dengan melakukan pendekatan komunikasi dua arah, sesuai dengan gaya bahasa yang dipakai anak muda (anak gaul). Dan yang paling ampuh adalah masuk dalam media sosial, karena anak muda dewasa ini tidak bisa lepas dari jejaring sosial. Direktur Public Virtue Institute, Usman Hamid, meyakini bahwa media sosial adalah kekuatan baru untuk gerakan perubahan sosial. Media baru ini sudah menggantikan ruang publik yang selama ini dikungkung kekuasaan. Anak-anak muda yang menjadi netizen potensial bisa mengubah keadaan lebih baik[4].
Harapan besar terhadap kaum muda memang wajar dan tidak berlebih-lebihan, karena sejarah bangsa Indonesia telah membuktikannya bahwa anak muda memiliki andil besar dalam setiap perubahan. Mulai dari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai jatuhnya orde baru 21 Mei 19998 itu semua berwawal dari kekeritisan pemikiran dari anak muda. Mengapa tidak untuk 2014, anak muda yang memiliki hak pilih sekitar 60 juta jiwa melakukan hal yang sama, yaitu perubahan. Perubahan dalam artian bisa menggunakan hak pilihnya untuk memilih para caleg, partai dan capres/cawapres yang benar-benar memiliki integritas demi meraih cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam alenia keempat pembukaan UUD 1945.
Sang founding father, Soekarno, pernah menyatakan bahwa berilah aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia. Pemuda yang dimaksud adalah pemuda yang memiliki karakter, intergritas, profesionalisme, visioner dan optimisme yang tinggi. Bukan pemuda yang hanya bisa mencibir dari kekurangan pemerintah dan apatis terhadap program pemerintah. Memang saat ini kebanyakan pemuda di negeri ini adalah pemuda yang memiliki umur yang muda, tetapi pemikirannya tua.
Dilihat dari segi pendidikan, maka anak muda sekarang ini tingkat pendidikannya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan anak muda zaman dulu. Namun masih saja sikap apatis tertanam pada diri anak muda, khususnya tingkat partisipasi pada pemilu. Menurut saya, itu semua disebabkan oleh adanya sikap frustasi anak muda melihat banyaknya pemimpin (baca: kaum tua) di negeri ini yang tidak bisa amanah. Jadi, selain metode pendekatkan yang disebutkan di atas, perlu adanya pendidikan politik terhadap anak muda dengan memperlihatkan sikap yang amanah dan benar-benar mendidik, sehingga bisa ditiru. Apabila itu bisa dilakukan, maka saya yakin pemilih muda tidak akan menyia-nyiakan suara yang telah diberikan pada mereka.
Pemilu 2014 akan menjadi ajang yang dinanti-nantikan untuk membuktikan apakah pemuda generasi sekarang lebih baik dari yang sebelumnya. Tentunya itu tergantung dari bagaimana sikap pemilih muda ini. Kalau hasil dari Pemilu 2014 adalah baik, maka bisa dikatakan pemuda berhasil melakukan perubahan dan memiliki karakter pemuda. Saya yakin dan percaya, generasi pemilih muda (sekita 60 juta) tahu siapa yang pantas dan tidak pantas dipilih. Pemilih muda tidak memandang kuatnya ekonomi calon (uang), namun lebih memandang integritas yang dimiliki oleh calon.
“Salam perubahan untuk anak muda, menuju Indonesia lebih baik”



[1] Tinjauan Kompas, ”Menatap Indonesia 2014”, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2013), 139
[2] “Pemilih Pemula Capai 14 Juta Jiwa (25/07/2013)”, nasional.kompas.com., diakses tanggal 27 Februari 2013.  
[3] Ibid, 140
[4] Ibid, 140