hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Saturday, 15 February 2014

KEPEMIMPINAN DI ERA GLOBALISASI

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Dewasa ini dunia seolah-olah tanpa batas (borderless world). Informasi antar negara dengan cepat bisa diakses dan diketahui oleh negara lainnya. Kecepatan penyebaran informasi bisa dikatakan melebihi kecepatan cahaya. Internet dan media televisi menjadi pemain utama, karena kecepatannya melebihi media cetak. Mbah “Google” sebagai gudang informasi yang hampir bisa menyediakan semua kebutuhan pencari informasi dari seluruh penjuru dunia menjadi pemain inti. Luar biasa memang kemajuan informasi melalui tehnologi terkini.
Di era saat ini atau yang lebih kita kenal dengan era globalisasi banyak hal yang perlu diperhatikan., khususnya bagi negara berkembang. Langkah yang diambil harus tepat dan tidak gegabah demi menjaga stabilitas negara. Disinilah peran pemimpin dibutuhkan. Pemimpin harus bisa memfilter dengan cepat perubahan yang terjadi. Perubahan akan membawa dua hal, yaitu kebaikan dan keburukan. Tergantung dari mana pemimpin melihat perubahan itu sendiri. Kemampuan memenej perubahan sangat dibutuhkan.
Era globalisasi ini akan terasa sangat berat ketika Indonesia belum siap, terlebih saat ini sedang dilanda berbagai krisis multidemensi. Menurut Azizy (2007: 4) krisis multidemensi itu tampak menyerupai lingkaran setan (vicious crises). Jika diuraikan lingkaran setan ini mencakup hampir seluruh dimensi kehidupan bangsa dan bahkan mencapai tingkat paling mengerikan, yakni terjadinya krisis kemanusiaan yang meliputi: 1) krisis moral dan etika, 2) krisis hukum, 3) krisis moneter, 4) krisis ekonomi, 5) krisis kepercayaan antar elite, 6) krisis politk, 7) krisis kepercayaan dikalangan masyarakat, dan 8) krisis kemanusian atau krisis moral bangsa[1].
Peran pemimpin sangat dibutuhkan untuk bisa menghadapi dan memenangkan perubahan. Pemimpin disini harus bisa menghadapi tetapi harus tetap bisa mempertahankan nilai-nilai dasar yang ada di Indonesia. Ciri khas dari negara kita harus tetap dijaga, supaya menjadi sumber kekayaan. Pancasila dan UUD 1945 menjadi pedoman pemimpin dalam menjalankan dan menghadapi perubahan.
Berat memang tugas pemimpin di era globalisasi ini. Kualitas dari kepemimpinan nasional masih jauh dari harapan. Banyak kritik dari berbagai pihak, baik dari kalangan elite maupun awam. Sistem produksi pemimpin nasional juga masih banyak terdapat pokok-pokok persoalan yang ditemukan. Pokok persoalan itu berupa, pertama, rendahnya integritas moral dan etika kepemimpinan pada pemimpin nasional, dua, rendahnya komitmen pemimpin nasional untuk mewujudkan pemilu yang berkualitas, tiga, kurangnya legitimasi pemimpin nasional, dan empat, lemahnya manajemen penyelengaraan pemilu[2].
Persoalan tersebutlah menjadikan masyarakat pesimistis dalam menghadapi pemilu 2014. KPU sebagai lembaga independen penyelenggara pemilu dinilai masih belum mampu memperlihatkan hasil yang memuaskan. Masih banyak kelemahan, mulai dari DPT sampai sistem yang akan dilakukan. Itulah yang menyebabkan pemimpin yang dihasilkan dari kualitas masih sangat “less”, sehingga pemimpin belum bisa menghadapi era globalisasi dengan baik.
Seharusnya pemimpin yang akan dihasilkan dari pemilu adalah pemimpin yang berkualitas. Berkualitas dalam artian bisa menghadapi perubahan dan bisa mempertahankan ciri khas dari negara Indonesia, khususnya adat istiadat dan budaya yang sudah terbentuk dari zaman dulu.
Pemimpin global yang dibutuhkan memiliki pemikiran yang visioner tanpa meninggalkan karakter bangsa Indonesia yang ada dalam Pancasila dan UUD 1945. Dalam Pancasila paling tidak ada lima hal yang perlu diperhatikan, mulai dari ketuhan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan sosial. Lima hal mendasar tersebut tidak boleh hilang dan ditinggalkan dalam melakukan perubahan. Perubahan yang dilakukan harus tetap berpijak pada lima hal tersebut, sehingga perubahan ini bisa mengarah kepada perubahan yang dibutuhkan. Bukan perubahan yang tidak memiliki arah dan malah memperlemah karakter bangsa ini. Globalisasi akan bisa kita lalui dengan sukses dan berhasil dengan cara tersebut.
   



[1] Dr. Asmawi Rewansyah, MSc, “Reformasi Birokrasi Dalam Rangka Good Governance”,  (Jakarta: CV. Yusaintanas Prima, Februari 2010), 5-7
[2] Dr. Adi Sujatno, S.H., M.H dan Drs Asep Suhendar, M.Si, “Konsep Ideal Kepemimpinan Nasional Nusantara, Menjawab Tantangan Global”, (Jakarta: PT. Yellow Multi Media, 2013), 57-60.