hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Tuesday, 12 March 2013

PANCASILA DAN UUD 1945 UNTUK MEMBANGUN NKRI


Oleh : Dedet zelthauzallam
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang-Merauke, yang terdiri dari 17.504 pulau kecil dan besar merupakan sebuah Negara yang kaya. Tetapi masalahnya kekayaan alam Indonesia tidak bisa memberikan kontribusi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Sudah hampir 68 tahun Indonesia merdeka tetapi keadaannya tidak jauh dengan keadaan sebelum merdeka. Bayangkan saja, Malaysia yang notabenenya merdeka lebih lambat malah lebih mampu mendongkrak keadaannya kearah yang lebih baik. Saat ini sudah banyak anak bangsa ini yang pergi ke Malaysia untuk mencari pekerjaan (TKI). Sangat-sangat menyedihkan yang katanya kaya namun mengemis ke negeri orang.
Hampir 68 tahun Indonesia merdeka, yang menjadi masalah adalah bukan kepada sistemnya tetapi lebih kepada aspek orang/manusianya. Dikatakan demikian karena bisa dilihat dari keadaan saat ini bahwa Negara Indonesia masih terinveksi yang namanya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Para pejabat negeri ini memiliki paradigma bukan untuk bangsanya tetapi untuk private/golongan/partainya. Hal inilah yang menyebabkan bangsa ini tidak seperti bangsa lain. Bangsa lain miskin tetapi mampu untuk bersaing di dunia internasional.
Lalu, bagaimana caranya agar mampu menjawab permasalahan-permasalahan tersebut? Untuk menjawab masalah tersebut cukup dengan kita kembali ke tujuan Negara ini dibentuk yang sudah tertuang dalam pancasila dan UUD 1945. Anak bangsa ini seharusnya lebih memahami, mengerti dan mengaplikasikan apa arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Dewasa ini, bisa kita katakan banyak anak bangsa ini tidak mampu untuk mengamalkan nilai-nilai luhur yang ada dalam pancasila dan UUD 1945.
Pancasila dan UUD 1945 merupakan peninggalan yang paling berharga para pejuang kemerdekaan ini. Di dalamnya terkandung makna yang sangat luhur untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Pancasila yang memiliki lima butir mempunyai arti sangat penting. Dimna mampu mengatur kehidupan masyarakat Indonesia baik secara vertikal maupun horizontal.  Sedangkan di dalam UUD 1945 tertuang tujuan bangsa Indonesia yang sangat luhur. Dengan kata lain, apabila Indonesia menerapkan Pancasila dan UUD 1945 maka akan mmapu menjadi bangsa yang besar dan terpandang di dunia.
Saat ini, keadaan Indonesia yang sedang terombang-ambing harus secepatnya berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 1945. Baik itu masalah KKN, konflik SARA, ketenagakerjaan, kemiskinan, bencana alam dan sebagainya akan terjawab dengan kita lebih memahami pancasila dan UUD 1945.

 

Monday, 11 March 2013

Pengertian Penggerakkan (Actuating)



Manajemen pada hakikatnya adalah suatu kegiatan dari pimpinan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dengan melalui kegiatan orang lain. Karena itu, selain perencanaan yang terarah dan terorgnisasi secara matang maka diperlukan tindakan lanjutan yaitu actuating atau penggerakan.
Actuating adalah menggerakan orang agar supaya mau bekerja dengan sendiri dan penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang kita kehendaki. Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdurrachman, “Penggerakan adalah manajemen untuk membuat orang-orang lain suka dan dapat bekerja”. Teori x dan y Mac Gregor dalam leadership  dimana manusia memiliki kecenderungan berbuat baik dan juga memiliki kecenderungan berbuat sekehendak dirinya, maka unsur penggerakan di dalam aktivitas organisasi menjadi penting. Kelompok yang dominan tidak mau bergerak maka digerakkan oleh manajemen, kelompok yang penuh inisiatif cukup diberikan pengamatan sepintas, ia sudah dewasa dan ia sudah memilik rasa bertanggungjawab  sehingga manajemen hanya memberikan penghargaan psikis.
Terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja organisasi dengan penggerakkan terhadap bawahan yang dilakukan pimpinan, hubungan tersebut terletak pada :
a.    Dengan penggerakkan yang semula enggan dan tidak semangat, akan mengubah dirinya menjadi rajin dan bersemangat;
b.    Ketidakfahaman anak buah dalam pelaksanaan tugas seringkali menjadikan dirinya bersifat menunggu perintah, penggerakkan salah satunya berfungsi mengingatkan kelalaian;
c.    Bawahan memperoleh semangat ketika diberikan peringatan untuk peningkatan kinerja individu, hal ini terkait dengan teknik penggerakkan dari pemimpin, dan terkait pula dengan teknik pendekatan yang digunakan;
George R. Terry mengemukakan bahwa actuating adalah “Tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok suka berusaha untuk mencapai sasaran-sasaran agar sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi”.  Sedangkan Dr. Sondang P. Siagian menyatakan bahwa “Penggerakan (Motivating) dapat defenisikan sebagai kesuluruhan proses memberikan motif bekerja kepada bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis”.
Lain halnya dengan Prof. Dr. Mr. Prayudi Atmosudirjo, beliau mengemukakan bahwa actuating adalah aktivitas yang serba aneka ragam, yang terdiri atas:
a)    Komunikasi, artinya selalu berbicara dan berhubungan dengan bawahan;
b)    Human relation, artinya selalu memperhatikan nasib karyawannya;
c)    Leadership, artinya menunjukkan dan membuat bawahan merasa bahwa mereka dilindungi dan dibimbing;
d)    Pengembangan eksekutif, artinya selalu berusaha agar setiap bawahan dapat mengambil keputusan sendiri yang tepat dalam melaksanakan tugas atau kewajiban masing-masing;
e)    Pengembangan rasa dan tanggung jawab, artinya mengembangkan rasa pada diri setiap bawahan untuk menunaikan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi tugas dan kewajiban masing-masing;
f)     Pemberian komando, artinya memberikan perintah, instruksi dan petunjuk, meminta laporan dan pertanggung jawaban, juga memberikan pujian atau marah;
g)    Mengadakan pengamatan atas pekerjaan aktivitas bawahan yang langsung dipimpinnya;
h)   Pemeliharaan moral dan disiplin, artinya mendidik dan memberi contoh kepada bawahan tentang apa yang baik atau patut dijalankan, menjaga ketertiban, kesopanan dan kerukunan.
Lembaga Administrasi Negara (1958: 46), menjelaskan bahwa pengertian penggerakan adalah:
“Upaya agar tiap pegawai atau tiap anggota organisasi berkeinginan dan berusaha mencapai tujuan yang telah direncanakan, sebagaimana yang ingin juga dicapai oleh pimpinan”.
Selanjutnya dijelaskan bahwa penggerakan selalu bersangkutan dengan orang karena esensinya adalah:
a.    Mendapatkan orang-orang yang cakap.
b.    Menyampaikan kepada mereka tujuan yang perlu dicapai.
c.    Menjelaskan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana melakukannya.
d.    Memberikan kewenangan-kewenangan, dan
e.    Membangkitkan rasa kepercayaan pada diri sendiri mengenai kemampuannya dalam mencapai tujuan.
Bagi pemimpin organisasi penggerakan sangat penting artinya dan seorang pemimpin harus dapat mengarahkan bawahannya dengan bijaksana. Agar dalam menggerakan orang-orang dapat berjalan dengan objektif, maka ada 10 anjuran yang dikemukakan oleh George R. Terry dalam LAN (1985: 47) sebagai berikut:
1)    Buatlah orang merasa penting, yang dimaksudkan di sini adalah agar orang dihargai, terdapat dari apa pun pekerjaannya karena yang penting ialah bagaimana ia mengerjakannya;
2)    Kenali perbedaan-perbedaan individual perintah atau instruksi yang dikeluarkan harus memperhitungkan dan memperhatikan ini;
3)    Berikan bimbingan yang memadai, masalahnya memberikan pedoman kerja perlu jelas, tetapi singkat;
4)    Praktekkan partisipasi dalam manajemen. Tiap pegawai merupakan suku cadang dari seluruh mesin manajemen. Jika pegawai diajak berembuk mengenai apa yang akan dilakukan, maka semangat berparisipasinya akan tinggi;
5)     Akui bahwa kebanyakan orang adalah menurut hak. Jika hak pegawai diberikan, maka timbullah pengertian yang baik;
6)    Jadilah pendengar yang baik. Tiap pegawai perlu diberikan kesempatan untuk mengemukakan keluhan. Keluhan ini sudah sepatutnya didengar, diperhatikan dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan suatu keputusan;
7)     Cegahlah argumentasi, semua orang tidak senang pada alasan, lebih-lebih yang dicari-cari sebagai dalih;
8)    Ketahui perasaan orang yang dimaksud ialah jangan berbuat sesuatu yang menimbulkan sentimen dan emosi yang meluap;
9)    Lakukan sesuai dengan cara bertanya. Ini merupakan tekhnik persuasi;
10) Adakan pengawasan yang efektif. Hendaknya pengawasan tidak mematikan, melakukan justru mempertinggi motivasi pegawai untuk bekerja sebaik mungkin.
Dalam hubungan inilah, penggerakan amat penting artinya, seorang pemimpin harus dapat mengarahkan bawahannya secara sukarela. Harus diusahakan supaya para karyawan mau bekerja dengan sungguh-sungguh. Untuk itu diperlukan kegiatan dari “actuating” dari pimpinan, agar para pegawai mengetahui tugas masing-masing dan mencegah jangan timbul kesalahpahaman.

Friday, 8 March 2013

Bentuk-Bentuk Organisasi


1.    Bentuk-Bentuk Organisasi
a.    Dipandang dari sudut jumlah orang yang mempunyai organisasi, maka terdapat:
1)    Bentuk Tunggal.
Pada organisasi ini pucuk pimpinan organisasi berada dalam satu tangan (seorang).
Segala sesuatu bersumber pada seorang pemimpin tersebut dan sebaliknya segala pengawasan dan tanggung jawab berada dalam tangan seorang. Kebaikannya segala keputusan dapat diambil dengan cepat, tetapi kelemahan tersebut menjadi diktator.
2)    Bentuk Komisi dan Panitia.
Organisasi ini dapat mempunyai pimpinan yang berupa dewan yang terdiri dari beberapa orang. Segala kekuasaan dan tanggung jawab ada pada dewan tersebut sebagai satu-kesatuan. Bentuk ini sering dipergunakan bagi organisasi-organisasi yang mempunyai tugas-tugas membuat peraturan atau memberikan pertimbangan-pertimbangan. Kebaikannya masalah dapat dipecahkan oleh beberapa orang dan semua pekerjaan mendapat perhatian penuh. Keputusan-keputusan yang diambil atas dasar pemikiran beberapa orang, biasanya lebih baik dari pada hasil pemikiran seseorang. Kelemahannya keputusan tidak dapat diambil secara cepat dan letak tanggung jawab yang kurang jelas.
b.    Dipandang dari sudut lalu lintas kekuasaan dan tanggung jawab serta hubungan kerja kesatuan-kesatuan dalam organisasi dapat dibedakan:
1)    Bentuk Lurus.
Organisasi ini dalam bahasa asingnya lazim disebut line organization. Kekuasaan atau perintah-perintah dari pucuk pimpinan langsung diberikan kepada pimpinan-pimpinan kesatuan dalam organisasi yang selanjutnya secara langsung pula diteruskan kepada bawahannya masing-masing. Lalu lintas kekuasaan berlangsung lurus vertikal.
Semua petugas atau pegawai dalam bagian itu langsung bertanggung jawab sepenuhnya kepada atasan pada bagian-bagiannya menurut tingkat-tingkat pengawasannya. Bentuk ini dapat dipergunakan bagi organisasi yang tiddak/belum banyak. Bagi organisasi yang besar dan luas, bentuk ini kurang banyak dipergunakan.
Bentuk ini memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a)    Organisasinya kecil.
b)    Jumlah karyawannya masih sedikit.
c)    Pemilik biasanya menjadi pimpinan.
d)    Hubungan kerja antara pimpinan dan para bawahan pada umumnya masih bersifat langsung.
e)    Tingkat spesialisasi yang dibentukkan masih sangat rendah.
f)     Semua anggota organisasi masih kenal satu sama lain.
g)    Tujuan yang hendak dicapai masih sederhana.
h)   Alat-alat yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan masih sederhana.
i)     Struktur organisasi masih sederhana.
j)      Produksi yang dihasilkan belum beraneka ragam.
Kebaikan-kebaikannya:
Dilihat dari sifatnya yang masih dan sederhana itu, maka ada beberapa kebaikan dari bentuk ini, yaitu:
(1)  Proses pengambilan keputusan dapat berjalan dengan cepat karena jumlah yang perlu diajak berkonsultasi masih sedikit.
(2)  Rasa solidaritas para anggota pada umumnya masih besar dan masih saling kenal.
(3)  Rasa disiplinnya masih tinggi.
Keburukan-keburukannya:
1.    Tujuan organisasi sama, satu paling sedikit didasarkan atas tujuan pribadi pimpinan tertinggi dalam organisasi.
2.    Kecenderungan bagi pimpinan organisasi untuk bertindak diktatoris/otokratis cukup besar karena dipandang sebagai milik pribadi dan oleh karenanya kemauannya yang secara tepat harus dituruti.
3.    Seluruh organisasi terlalu bergantung pada seseorang sehingga kalau seseorang itu tidak mampu melaksanakan tugasnya, maka seluruh organisasi itu terancam oleh ketidak-langsungan kehidupannya.
4.    Kesempatan bagi para karyawan untuk mengembangkan spesialisasi sangat terbatas.
2)    Bentuk Garis (Lini) dan Staf
Bentuk organisasi garis (lini) dan staf adalah merupakan perpaduan antara bentuk garis dan bentuk staf. Kesatuan perintah tetap dipertahankan, di mana setiap atasan mempunyai bawahan dan hanya menerima perintah dari seorang atasan saja. Sementara itu tenaga ahli ditempatkan pada staf yang mempunyai kedudukan sebagai penasehat dan dapat juga sebagai kepala bagian.
Bentuk kegiatan dari garis (lini) dan staf ini paling banyak diterapkan, baik dalam bidang perusahaan, kemiliteran maupun dalam pemerintahan.



Dalam organisasi lini dan staf diadakan pembedaan antar unit pelaksana tugas pokok (lini) dan unit penunjang (staf). Organisasi lini dan staf mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a)    Organisasinya besar dan kompleks.
b)    Jumlah karyawannya banyak.
c)    Hubungan kerja yang bersifat langsung (face to face), tidak mungkin lagi bagi seluruh anggota organisasi.
d)    Terdapat dua kelompok besar manusia di dalam organisasi, yaitu:
(1)  Sekelompok orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas pokok organisasi dalam rangka pencapaian tujuan. Orang-orang inilah yang disebut pelaksana tugas pokok lini.
(2)  Orang-orang yang sifat tugasnya menunjang tugas-tugas pokok. Orang-orang yang melaksanakan fungsi-fungsi staf, yaitu:
(a)  Para penasehat (advisors): memberi pertimbangan-pertimbangan yang matang pada pimpinan.
(b)  Auxiliary Personel adalah mengurusi urusan rumah tangga, dukungan administrasi, administrasi personel, perlengkapan bahan dan sebagainya.
(c)  Spesialisasi yang beraneka ragam diperlukan dan dipergunakan secara maksimal.

Kebaikan-kebaikannya:
(1)  Ada pembagian tugas yang jelas antara orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas pokok dan tugas-tugas penunjang.
(2)  Bakat yang berbeda-beda dari pada para anggota organisasi dapat dikembangkan menjadi suatu spesialisasi.
(3)  Koordinasi mudah dijalankan dalam setiap kelompok dari kedua golongan karyawan itu.
(4)  Disiplin serta moral biasanya tinggi karena tugas yang dilaksanakan oleh seorang sesuai dengan bakat keahlian, pendidikan dan pengalamannya.
(5)  Penerapan prinsip “the right man in the right place” lebih mudah dijalankan.
(6)  Bentuk organisasi ini dapat dipergunakan oleh setiap organisasi yang bagaimanapun besarnya, apapun tujuannya dan betapapun kompleksnya struktur organisasi.
Keburukan-keburukannya :
(a)  Bagi para pelaksana tingkat operasional tidak selalu jelas yang mana perintah, yang mana nasehat. Artinya orang-orang lini dihadapkan pada dua macam atasan. Pertama, atasan yang telah ditentukan dalam garis komando, yang mempunyai hak memerintah. Kedua, para pelaksana operasional itu dihadapkan pula kepada pimpinan staf, yang meskipun hanya berhak memberikan nasehat, yang perlu pula ditaati karena nasehat itu didasarkan kepada keahlian dan wewenang fungsional.
(b)  Perintah dari hierarkhi lini tidak selalu seirama dengan nasehat dari hierarkhi staf, karena belum tentu kedua macam hierarkhi memandang suatu hal dari kaca mata yang sama.
3)    Bentuk Fungsional
Organisasi fungsional adalah suatu organisasi di mana pimpinan tertinggi melimpahkan wewenangnya kepada kepala unit struktural yang memimpin kelompok yang menduduki jabatan fungsional. Organisasi ini tidak menekankan pada hierarkhi struktural, akan tetapi lebih banyak didasarkan kepada sifat dan masa, fungsi yang perlu dijalankan.
Kebaikan-kebaikannya:
a)    Spesialisasi para karyawannya dipergunakan semaksimal mungkin.
b)    Solidaritas antara orang-orang yang menjalankan fungsi yang sama pada umumnya tinggi.
c)    Moral serta disiplin orang-orang yang menjalankan fungsi yang sama pada umumnya tinggi.
d)    Koordinasi antara orang-orang dalam satu fungsi mudah dijalankan.

Keburukan-keburukannya:
(1)  Orang menspesialisasikan diri dalam satu bidang kegiatan tertentu sehingga sukar untuk mengadakan tour of duty dan tour of area tanpa melalui pendidikan yang intensif lebih dahulu.
(2)  Orang-orang yang bergerak dalam satu bidang fungsi tertentu terlalu mementingkan fungsinya saja sehingga koordinasi yang bersifat menyeluruh sukar untuk dijalankan.
Bentuk organisasi Fungsional adalah bentuk di mana pimpinan dan para pelaksana dibentuk dalam kelompok-kelompok yang bersifat panitia. Artinya pada tingkatan pimpinan, keseluruhan unsur pimpinan menjadi panitia dan para pelaksana dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok yang bersifat task force.
Organisasi ini memiliki ciri-ciri:
(a)  Tugas pimpinan dilaksanakan secara kolektif oleh sekelompok orang.
(b)  Semua anggota pimpinan mempunyai hak wewenang dan tanggung jawab yang sama.
(c)  Para pelaksana dikelompokan menurut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam bentuk task force.

Kebaikan-kebaikannya:
(1)  Keputusan yang diambil pada umumnya tepat karena selalu dibicarakan secara kolektif terlebih dahulu.
(2)  Kemungkinan seseorang untuk bertindak diktatoris sangat kecil.
(3)  Usaha yng koperatif dikalangan bawahan lebih mudah dibina.
Keburukan-keburukannya:
(a)  Proses pengambilan keputusan biasanya berjalan sangat lambat karena segala sesuatunya harus dibicarakan terlebih dahulu.
(b)  Dalam hal timbulnya kemacetan, tidak ada satu orangpun yang dapat diminta pertanggung-jawabannya lebih dari pada yang lain.
(c)  Para pelaksana sering bingung karena perintah tidak datang dari satu orang, akan tetapi dari beberapa orang.
(d)  Daya kreasi pelaksana operasional tidak dapat menonjol karena semua pelaksana didasarkan kepada kolektivitas.


4)    Organisasi Lini dan Fungsional
Suatu bentuk organisasi di mana pimpinan tertinggi melimpahkan wewenagnya kepada para Pejabat Fungsional.
5)    Organisasi Lini, Fungsional dan Staf
Bentuk ini bentuk organisasi lini dan fungsional, hanya kemudian dibentuk/ditambah unit staf.
6)    Organisasi Matrik
Inti organisasi matrik adalah mengkombinasikan pola-pola fungsional dan hasil yang akan dicapai dalam kegiatan proyek.










Wednesday, 6 March 2013

Pengertian Pengorganisasian dan Organisasi



Pengorganisasian kata dasarnya adalah organisasi, pengorganisasian ialah pengaturan setelah perencanaan tersebut selesai digarap. Di dalam pengorganisasian, manajer memutuskan posisi-posisi yang perlu diisi serta tugas-tugas dan tanggung jawab yang melekat pada setiap posisi tersebut.
Adapun organisasi adalah merupakan wadah, di mana suatu pengelompokkan orang-orang mendapat tugasnya masing-masing yang tertentu untuk mewujudkan suatu maksud atau tujuan menurut sistem dan wewenang yang telah ditetapkan. Jelasnya organisasi adalah tempat, pengorganisasian adalah pembagian tempat-tempat atau pengkotak-kotakan tempat menjadi lebih kecil. Dengan denmikian berbicara pengorganisasian adalah sama dengan berbicara organisasi. Selanjutnya di dalam modul ini lebih dibahas pada organisasi yang berarti sama dengan pembahasan pengorganisasian.


Beberapa ahli administrasi mengemukakan definisi organisasi, sebagai berikut:
-        Organisasi ialah setiap bentuk perserikatan manusia untuk mencapai suatu maksud bersama (James D. Money).
-        Organisasi adalah suatu sistem mengenai kerja sama yang dilaksanakan oleh dua orang atau lebih (Chester/Bernard).
Dari penjelasan di atas bahwa sistem kerja sama yang diatur dengan sengaja untuk mencapai tujuan tertentu sifatnya menjadi formal. Sistem kerja sama itu mempunyai tujuan tertentu, berlangsung dalam suatu waktu tertentu dan mempunyai identifikasi sendiri.
Jenis kerja sama itu tidak terhitung banyaknya, tetapi dalam garis besarnya dapat dikelompokan menjadi empat kategori:
a.    Yang berhubungan dengan aspek lingkungan fisik.
b.    Yang berhubungan dengan aspek sosial.
c.    Yang berhubungan dengan aspek individual.
d.    Yang berhubungan dengan variabel-variabel lain.
Yang berhubungan dengan aspek lingkungan fisik adalah faktor geografis, faktor sarana-prasarana yang dipergunakan organisasi. Aspek sosial terjadi karena hakekat kerja sama itu sendiri kecuali itu dalam mencapai tujuannya. Organisasi merupakan sub-sistem dari organisasi yang lebih besar sehingga ia mempunyai lingkungan sosial yang lebih luas sesuai dengan hakekatnya itu, aspek sosial selalu ada dalam setiap organisasi.
Aspek individual terdapat dalam organisasi itu sendiri, adalah kelompok individual yang mempunyai interaksi dan sistematik.
Organisasi adalah suatu sistem kerja sama antara dua orang atau lebih yang secara sadar dimaksudkan untuk mencapai tujuan. Ada beberapa ciri dalam sistem kerja sama itu, yaitu:
1)    Ada komunikasi antara dua orang yang berkeja sama itu.
2)    Individu dalam kerja sama itu mempunyai kemampuan untuk berkerja sama.
3)    Kerja sama itu ditujukan untuk mencapai tujuan.

Bernard menyebut tiga butir itu sebagai elemen organisasi, yaitu:
a.    Kemampuan untuk berkerja sama.
Tidak ada organisasi tanpa individu. Dalam organisasi yang menjadi pokok masalah sebenarnya bukan individu itu, tetapi kemauan mereka untuk berkerja sama.
b.    Tujuan yang ingin dicapai.
Kemauan untuk berkerja sama itu tidak dapat dikembangkan jikalau tidak ada tujuan yang jelas, merupakan elemen yang penting dalam organisasi.
c.    Komunikasi.
Proses kerja sama untuk mencapai tujuan organisasi dapat dicapai melalui komunikasi. Komunikasi adalah sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai sub-sistem dalam organisasi.
Organisasi yang merupakan wadah atau ajang dari pada manajemen dapat dibedakan dalam dua pengertian:
(1)  Statis: Bahwa organisasi dipandang sebagai suatu struktur usaha.
Dalam pengertian yang statis, organisasi mempunyai pelbagai arti, yaitu:
a)    Suatu pengelompokkan orang-orang yang berkerja sama melaksanakan usaha.
b)    Sebagai sistem kewenangan dan wewenang mana yang memberikan kekuatan bagi setiap petugas/pejabat dalam melakukan tugasnya.
c)    Sebagai sistem pembagian atau distribusi tugas pekerjaan sehingga masing-masing pejabat memegang tugas tertentu.
d)    Sebagai rangka atau struktur dari pada kegiatan-kegiatan kerja.

(2)  Dinamis: Ialah merupakan salah satu fungsi dari manajemen yang disebut organisasi atau pengorganisasian. Hal ini merupakan pendistribusian dari kegiatan-kegiatan kerja.


Unsur-unsur dari pada suatu organisasi, yaitu:
a.    Bentuk atau konfigurasi.
b.    Struktur atau kerangka.
c.    Jabatan-jabatan.
d.    Prinsip-prinsip atau aturan-aturan permainan.

1.    Prinsip-Prinsip Organisasi
Organisasi sebagai suatu sistem kerja sama mempunyai prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan. Prinsip-prinsip adalah bahan-bahan bangunan dari pada organisasi. Makin banyak prinsip yang dipergunakan, akan makin kompleks sifat dari pada organisasi yang bersangkutan dan akan makin sukar administrasinya.
Lyndall F. Urwick di dalam buku kecilnya “Notes on The Theory of Organization”, mengemukakan adanya sepuluh prinsip organisasi, yaitu:
a.    Principle of The Objective.
Setiap organisasi beserta staf dan bagian-bagiannya harus mempunyai maksud dan tujuan yang jelas, bila tidak maka organisasi itu tidak ada gunanya.
b.    Principle of Specialization.
Kegiatan-kegiatan dari setiap orang warga organisasi sejauh mungkin harus dibatasi kepada satu fungsi saja.
c.    Principle of Coordination.
Maksud dan tujuan pengorganisasian (organizing) adalah justru untuk memungkinkan adanya koordinasi, yakni kesatuan gerak dan upaya.
d.    Principle of Authority.
Dalam tiap organisasi mesti ada pimpinan yang tertinggi. Dari pimpinan tertinggi itu harus ada garis kewenangan yang jelas dan tegas ke bawah, ke semua orang warga organisasi.
e.    Principle of Responsibility.
Atasan bertanggung jawab secara mutlak atas semua perbuatan dari pada bawahannya di dalam rangka fungsi dan tugas orgasnisasi.
f.     Principle of Definition.
Isi dari pada setiap jabatan (posisi) termasuk kewajiban-kewajiban, kewenangannya dan tanggung jawabnya serta tata hubungan dengan jabatan-jabatan (posisi-posisi) lainnya, mutlak harus dirumuskan dengan jelas dan tegas secara tertulis dan di umumkan (disampaikan) kepada semua pihak yang bersangkutan.
g.    Principle of Corespondence.
Dalam tiap jabatan (posisi), kewenangan dan tanggung jawab harus cocok, memadai, setimpal dan sesuai.
h.    Principle of Control.
Setiap orang tidak boleh membawahi (supervise) lebih dari 5 atau 6 orang bawahan yang tugas pekerjaannya berkaitan (inter-locks). Makin sempit span of control-nya, akan semakin banyak tingkatan-tingkatannya (eselon-eselonnya, level-levelnya, peringkat-peringkatnya). Bila mana jumlah tingkatannya terlalu banyak, maka organisasinya akan menjadi lamban dan kaku. Jadi harus menjadi span yang cukup ringan secara vertikal dan horizontal.
i.      Principle of Balance.
Berbagai unit organisasi yang ada satu sama lain harus saling selalu diseimbangkan.
j.      Principle of Continuity.
Organisasi harus dibuat begitu dinamis sehingga dapat disesuaikan secara terus-menerus (tanpa menggoncangkan suasana) kepada perubahan-perubahan keadaan lingkungan dan tugas.