hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Friday, 17 October 2014

REPUBLIK SIKUT MENYIKUT, MENUJU INDONESIA SATU

Ilustrasi by Mbah G
Oleh: Dedet Zelthauzallam (Rojet, Pujut) 
Akhir-akhir ini, publik Indonesia dipertontonkan dengan adegan yang amat luar biasa. Adegan yang dimaksud adalah adegan yang dipermainkan oleh para elit yang terhormat kedudukannya. Sepertinya adegan yang dimainkan oleh para elit yang terhormat ini bisa jadi menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari Republik yang kaya nan subur ini. Adegan seperti inilah yang membuat Republik ini ketinggalan kereta oleh negara tetangga yang bisa dikatakan tidak memiliki founding yang jelas. Namun mereka bisa menemukan momentum dalam menjalankan roda kehidupan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh publik (baca: rakyat).
Adegan yang dimaksud di atas adalah bagaimana sikap para anggota dewan yang terhormat dalam menjalankan sidang, baik disidang terakhir dan sidang perdana. Pada sidang terakhir tentunya publik tak akan lupa dengan bagaimana para anggota dewan yang bertameng atas nama rakyat melakukan hal-hal yang amat memalukan, jauh dari standar etika moral kehidupan yang tertanam di Republik ini. Kemudian tak berselang beberapa lama, mereka yang baru dilantik kembali melakukan hal yang serupa. Ini pun disebabkan oleh masalah sepele, yaitu memilih siapa yang jadi pemimpin mereka. Adu jatos antar kubu pun tak bisa dihindarkan, semuanya berakhir dengan aksi walk-out.
Ini baru yang dilakukan oleh elit yang terhormat, belum lagi yang dilakukan oleh mereka yang ada di lapisan bawah. Mereka juga sering kali harus saling sikut menyikut dalam roda kehidupan. Mulai dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas. Sebut saja mulai dari kompetisi antar tetangga sampai antar provinsi maupun kementerian/lembaga. Belum lagi kompetisi yang dilakukan antar satu profesi sangat mengerikan. Sebut saja sopir angkot. Berdasarkan pengalaman pribadi di Jakarta, sikut menyikut antar sopir tak terhindarkan. Komptensinya mengerikan dan amat membahayakan.
Banyak dari mereka takut lahannya (baca: kewenangannya) diambil. Padahal perubahan kebijakan yang diambil itu untuk perbaikan dan peningkatan kepentingan umum. 
Apa yang dilakukan oleh orang-orang terhormat dan contoh lainnya  itu sepertinya sudah bisa menjadi sampel yang mencerminkan apa yang pernah dikatakan oleh Hobbes, homo homuni lupus, manusia seperti serigala bagi yang lainnya. Mereka haus kekuasaan, ibarat mata air di Gurun Pasir Lut di Iran. Ini memang bisa dikatakan sebagai sifat alamiah yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk individu yang terus menerus ingin menggapai kepuasaan diri sampai titik didih terakhir, yaitu aktualisasi diri (Maslow).
Dengan cerminan seperti itu, dunia ini (baca: Indonesia) menurut Nietzsche dalam karyanya yang berjudul “der wille zur macht” atau nafsu berkuasa. Dalam karyanya tersebut, dunia ia gambarkan tidak lain adalah dunia dari segala macam kemauan untuk berkuasa. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Schopenhauer yang menyimpulkan bahwa dunia ini bukanlah merupakan gejala metafisik.
Apa yang disampaikan tersebut jelas gejalanya sedang mewabah di Republik ini. Bisa dilihat dari semua lapisan, mulai dari konglomerat sampai kuli pun ingin menduduki jabatan. Jabatan yang memberikan kekuasaan yang lebih dari orang lain. Mereka ingin terlihat lebih superior, sehingga bisa untuk menggapai apa yang diinginkan.
Anehnya, mayoritas mereka yang mengejar tahta kekuasaan banyak yang melupakan proses. Proses sering kali selalu disepelekan demi mencapai tujuan. Ada yang mengambil jalan tikus yang tentunya memiliki berbagai variasi. Variasinya mulai dari menghalalkan segala cara, mengkarbitkan diri dengan berbagai perhiasan yang mampu meningkatkan akseptabilitas, menghambur-hamburkan kepeng (baca: uang) dan masih banyak variasi lainnya yang tak terdeteksi oleh akal sehat.
Apabila hal-hal tersebut terus menerus dipertahankan tentunya akan menjadi bumerang bagi keberlangsungan masa depan Republik ini. Meskipun dalam berbagai riset dan penelitian menyatakan tanah kita adalah tanah surga, tetapi kalau terus menerus saling sikut-menyikut dalam hidup kehidupan akan malah menjadi bom waktu yang bisa saja meledak kapan saja. Organisasi yang memiliki tingkat pluralisme yang tak terbendung kuantitasnya akan menjadi kapal oleng yang hanya akan menunggu waktu saja.
Melihat sejarah dan kondisi empirik dewasa ini, banyak negara yang sukses bukan mengandalkan sumber daya alamnya, tetapi lebih mengandalkan manajemen organisasi yang mampu menerapkan prinsip manajemen, yaitu the raight man on the raight please. Sebut saja kerajaan Romawi. Menurut Romein, yang menjadi kunci kesuksesannya terletak pada kemampuan berorganisasi dari masyarakat Romawi. Masyarakat Romawi bukan masyarakat yang pemberani seperti masyarakat Mesir, tetapi mereka lebih mengandalkan tingkat kedisiplinannya. Itulah yang membawa mereka menjadi kekuatan militer terbesar di masanya.
Romawi memperlihatkan kesuksesan masa lampau, di era dewasa ini pun bisa kita lihat banyak negara yang sukses tanpa sumber daya alam yang tinggi. Tidak perlu jauh-jauh, lihat saja tetangga kita, Singapura. Singapura yang seper sekian dari Republik ini bisa menjadi salah satu sentral bisnis dan menjadi negara jasa yang super sibuk disebabkan karena mereka memahami keterbatasan dan kekurangannya, sehingga mereka akan terus menerus berusaha untuk survive ditengah bayang-bayang negara yang katanya kaya dengan sumber daya alamnya. Hasilnya pun bisa dilihat bagaimana perbedaan Singapura dengan Republik kita, meminjam pribahasa, bagaikan bumi dan langit.
Indonesia Satu
Dalam mempertahankan Republik ini untuk tetap eksis, maka perlu mematri semangat para founding father Republik ini di dalam sanubari seluruh lapisan rakyat Indonesia. Ini dilakukan untuk mengingatkan kita semua bahwa Republik ini ada bukan untuk sebagian orang, tetapi, katanya Soekarno, semua untuk semua.
Tentunya dalam membangkitkan rakyat yang mayoritas sedang terjangkit gejala amnesia butuh sosok figur pemimpin yang transformasional, supaya mereka bisa menjadikan pemimpinnya sebagai subjek yang bisa dicerminkan bukan sebagai objek hinaan.  Pemimpin juga harus menerapkan model kepemimpinan dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarsa sung talada, ing madya mangun karsa dan tut wuri hadayani.
Harapan baru tentang sosok pemimpin puncak di Republik ini pun akan segera muncul untuk melanjutkan suksesi kepemimpinan presiden sebelumnya, mulai dari Soekarno-Susilo Bambang Yudhoyono. Jokowi-lah menjadi pemimpin yang terpilih untuk menjadi garda terdepan dalam mengarungi ombak kehidupan yang semakin dinamis nan tak terkontrol selama lima tahun kedepan.
Pemimpin baru hendaknya bisa mengembalikan “tri sakti” yang sudah lama diabaikan dalam action. Mengembalikan semangat tri sakti akan menjadi langkah baru dalam menyatukan Republik ini yang kemudian mengarahkan kesatu rel menuju cita-cita bangsa dan negara.  Dengan begitu, maka apa yang dipertontonkan oleh elit yang terhormat bisa untuk segera ditanggalkan, karena perilaku yang seperti itu sudah kusam dan basi, hanya memperlambat gerakan menuju cita-cita.
Tri sakti akan menjadi langkah awal dalam menyatukan seluruh elemen di Republik ini, karena dengan seperti itu, distribusi ke bawah akan menjadi amat terarah dan disparitas akan bisa didekatkan, tidak seperti dewasa ini rentangnya amat jauh. Dengan demikian, maka mereka tak akan berfokus pada pencarian kekuasaan. Mereka akan lebih fokus pada pengembangan kapasitas yang dimiliki oleh masing-masing pribadi. Mereka tak akan lagi sibuk mencari kekuasaan yang tak tahu menahu ujungnya. Mereka akan saling bahu membahu, bukan menjatuhkan, menuju harapan para founding father.
Tentunya dalam mensuksesi tri sakti, pemimpin baru perlu memenej organisasi yang ada, mulai dari kementerian sampai tingkat paling bawah (desa/kelurahan). Organisasi tersebut harus mampu menerjemahkan tujuan organisasi dalam tindakan dan perbuatan, bukan hanya slogan. Tanpa perbaikan organisasi akan sulit untuk bisa menggapai cita-cita bangsa.

Dalam memenej, pemimpin baru harus berani berpikir out the box, bukan tunduk dan sujud pada prosedur yang sudah jelas-jelas membelenggu masa depan bangsa. Masa depan apa pun namanya tak boleh digadaikan pada prosedur yang penuh liku. Tetapi sekali lagi harus berani keluar demi perbaikan dengan pencapaian cita-cita Republik ini. Dengan catatan tidak melanggar nyawa dari sumber segala sumber hukum di Republik ini.