hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Thursday, 22 May 2014

PILPRES 2014: HEAD TO HEAD ANTARA JOKOWI-JK VS PRABOWO-HATTA

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Pertanyaan besar mengenai siapa yang akan menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia untuk lima tahun ke depan sudah bisa dikatakan hampir diketahui. Itu disebabkan karena KPU sudah memastikan pemilu presiden 2014 hanya akan diikuti oleh dua pasangan calon, yaitu pasangan Jokowi-JK dengan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dengan majunya dua pasang capres dan cawapres tersebut, maka dipastikan presiden dan wakil presiden Indonesia akan bisa diketahui pada tanggal 9 Juli mendatang, karena otomatis pemilihan presiden akan dilakukan satu putaran saja.
Dengan majunya dua pasang calon ini tentunya akan menjadi pertarungan yang bisa dikatakan sangat seru. Kubu Jokowi-JK yang diusung oleh empat partai, yaitu PDIP, PKB, Nasdem dan Hanura memiliki image yang sangat afirmatif dengan pasangan Prabowo-Hatta yang diusung oleh 6 partai, yaitu Gerindra, PPP, PKS, PAN, Golkar dan PBB. Dikatakan demikian karena banyak pengamat mengatakan bahwa koalisi Jokowi-JK itu memperlihatkan koalisi rakyat kecil, sedangkan koalisi Prabowo-Hatta lebih ke elit. Itulah sebabnya pertarungan pilpres 2014 bisa dikatakan pertarungan antara kekuatan rakyat dengan elit.
Tentunya pandangan tersebut juga lahir dari banyak persepsi. Salah satu contohnya pada saat melakukan deklarasi. Meskipun sama-sama berada di tempat yang bersejarah yang berkaitan dengan para founding father, khususnya sosok Soekarno, tetapi cara setting-nya sangat berbeda. Kubu Jokowi-JK melakukannya dengan sangat sederhana dan merakyat. Namun kubu Prabowo-Hatta dilakukan dengan cara yang cukup mewah dan dihadiri oleh mayoritas elit.
Memang hal itu tidak menjadi indikator kita untuk memilih. Namun dari cara-cara seperti itulah kita mampu mem-filter mana yang lebih baik dari dua pasangan ini. Tentunya antara ke dua pasang ini memiliki plus minus. Dan sebagai rakyat kita harus cerdas untuk melihat bagaimana track record dari dua pasangan ini, supaya pilihan kita bisa jatuh pada pilihan yang tepat untuk memimpin Indonesia lima taun ke depan.
Metro vs TVOne
Pertarungan antara Jokowi-JK dengan Prabowo-Hatta juga bisa dikatakan sebagai dua pertarungan media berita yang bisa dikatakan terbesar di Indonesia, yaitu antara Metro TV dan TVOne. Ini disebabkan oleh ke dua bos media tersebut mendukung pasangan capres dan cawapres yang berbeda. Surya Paloh (Ketua Umum Nasdem) berada di kubu Jokowi-JK sedangkan Aburizal Bakrie (Ketua Umum Golkar) berada di kubu Prabowo-Hatta. Tentunya ini akan menjadi suatu hal yang sangat menarik, karena ada peluang dan sudah hampir dilakukan oleh dua stasiun ini untuk melakukan penyiaran secara tidak proporsional.
  Untuk itulah, rakyat Indonesia sebagai pemegang suara tidak boleh terlalu terbawa oleh informasi media, karena media pun tidak akan dijamin mampu memberikan berita yang akurat, valid dan terpercaya. Rakyat harus melihat lebih jauh ke belakang bagaimana track record dari ke dua pasang ini.
Pasangan capres dan cawapres ini juga akan menggunakan media lainnya sebagai sarana komunikasi, sehingga rakyat sekali lagi harus lebih hati-hati dalam menyerap informasi. Rakyat sebagai konsumen media tidak boleh langsung menelan informasi tersebut tanpa adanya pembanding. Rakyat harus membandingkan informasi yang didapatkan di media A dengan media lainnya. Dengan melakukan pembandingan, maka insaAllah rakyat akan menemukan berita yang sebenarnya.
Siapa yang Lebih Kuat?
Dalam beberapa survei yang dilakukan oleh lembaga survei, maka saat ini Jokowi-JK masih berada di atas pasangan Prabowo-Hatta. Dengan perbedaan suara yang cukup besar, ada di kisaran 17%. Tetapi ada yang menarik dari hasil lembaga survei tersebut, yaitu pasangan Jokowi-JK suaranya bisa dikatakan stagnan dan memiliki kecenderungan turun, sedangkan Prabowo-Hatta meranjak naik. Dan dalam survei-survei tersebut juga menunjukkan bahwa masih banyak rakyat yang masih menentukan pilihan, sehingga bisa dikatakan ke dua pasang ini memiliki peluang untuk menang.
Namun apabila melihat dari segi basis suara, dengan lebih melihat suku, maka pasangan Jokowi-JK akan unggul dibandingkan dengan pasangan Prabowo-Hatta. Pasangan Jokowi-JK dinilai sebagai pasangan yang bisa merangkul dan masuk ke semua kalangan dan suku dari Jokowi-JK merupakan suku besar di Republik ini, yaitu suku Jawa dan Bugis.
Dalam pertarungan pilpres 2014 ini juga, ada hal yang menarik, dimana ke dua capres sama-sama berasal dari suku Jawa, sedangkan cawapres berasal dari luar Jawa, sehingga banyak pengamat mengatakan ini pertarungan yang hampir sama kuat. Berbicara masalah Jawa, maka berdasarkan pengalaman pada pemilu sebelumnya, bisa dikatakan bahwa siapa yang menguasai Jawa dialah akan menjadi pemenang. Kita ketahui bersama bahwa Jawa terdiri dari dua suku terbesar di Indonesia, yaitu suku Jawa (41,7% dari penduduk Indonesia) dan Sunda 15,4% dari penduduk Indonesia).  
Namun menurut pandangan saya, Jokowi akan lebih mampu untuk menarik suara suku Jawa. Saya katakan demikian, karena beberapa alasan. Pertama, Jokowi lebih memperlihatkan kejawaannya dari pada Prabowo. Itu bisa dilihat dari bagaimana sikap dan tutur katanya seperti orang Jawa tulen. Kedua, Jokowi didukug oleh PDIP yang merupakan partai trahnya Soekarno. Kita ketahui bersama bahwa mayoritas orang Jawa masih yakin dan percaya kepada trahnya Soekarno, sehingga dengan adanya sosok Megawati, Buruh dan Puan akan mampu meraup suara pemilih dari suku Jawa.
Sedangkan kalau kita melihat bagaimana basis suara pasangan capres dan cawapres di luar Jawa, maka bisa dikatakan akan berimbang. Namun sekali lagi saya lebih condong mengatakan bahwa Jokowi-JK akan kembali unggul. Ini disebabkan oleh sosok Jokowi-JK bisa diterima di semua kalangan maupun suku bangsa. Dan terlebih lagi, JK merupakan tokoh yang yang berasal dari Indonesia timur dan memiliki track record yang sudah terbukti. JK pada saat menjabat sebagai wakil presiden 2004-2009 sudah membuktikan kapabalitas yang ada dalam dirinya, khususnya penyelesaian konflik di Aceh dan Poso.
Dari pendapat saya itulah, saya memprediksikan pasangan Jokowi-JK akan menang dalam pilpres 2014 dengan meraup suara di atas 60%. Namun hal itu akan bisa berubah, tergantung dari bagaimana strategi politik yang akan dilaksanakan oleh ke dua pasang capres dan cawapres ini dalam waktu yang tersisa, khususnya dalam menangkal black campaign, karena akhir-akhir ini banyak isu yang dihembuskan.

Dan akhirnya saya mengatakan bahwa pemenang pilpres 2014 akan ditentukan oleh rakyat pada tanggal 9 Juli 2014 mendatang, apakah Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta? Jawaban realnya akan kita ketahui bersama setelah pencoblosan. Pastinya harapakan kita seluruh rakyat Indonesia adalah melalui pilpres ini akan menelurkan pemimpin yang akan mampu membawa angina perubahan untuk Republik ini.