hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Monday, 19 May 2014

KOALISI DIAKHIR FINISH

Oleh: Dedet Zelthauzallam
Menjelang penutupan pendaftaran capres dan cawapres di KPU, arah koalisi masih belum rampung. Ada dua partai yang masih belum menentukan sikap, yaitu Golkar dan Demokrat. Sedangkan sisanya sudah menentukan arah dukungannya. Poros Jokowi dan Prabowo sama-sama didukung oleh empat partai, sehingga kekuatan dua partai ini bisa dikatakan berimbang.
Sikap partai Golkar dan Demokrat memang menjadi tanda tanya besar kemana mereka akan berlabuh, apakah akan membentuk poros baru atau bergabung ke poros yang sudah terbentuk. Tentunya itu akan terjawab paling lambat pada tanggal 20 Mei 2014. Sikap dua partai ini memang akan bisa mempengaruhi peta kekuatan capres dan cawapres, karena basis suarannya bisa dikatakan besar. Apa pun sikap partai Golkar dan Demokrat harus tetap didasari oleh suatu proses koalisi yang tidak bagi-bagi kekuasaan. Tetapi sikapnya memang murni karena memiliki kesamaan cara dalam mencapai tujuan.
Rakyat pun sebagai konstituen akan sabar menunggu bagaimana sikap partai menjeleng pemilu. Rakyat sebagai pemegang amanah tertinggi juga harus lebih rasional melihat bagaimana latar belakang terbentuknya koalisi. Jangan sampai koalisi yang dibangun hanya bagi-bagi kekuasaan atau dalam istilah politik dagang sapi.
Budaya politik dagang sapi tidak boleh terus menerus dilakukan, karena akan menjadi penghambat dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Budaya politik dewasa ini harus dibangun karena disebabkan oleh kesamaan platform dan idiologi. Apabila hal ini dilakukan, maka koalisi yang dibangun akan tidak seperti pemerintah sebelumnya yang didominsasi oleh urusan politik.
Republik yang kaya ini akan menjadi hebat ketika para pemegang kekuasaannya memiliki satu hati dan satu sikap, yaitu mencapai cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Rakyat pun memiliki andil yang besar untuk bisa menentukan siapa penguasa Republik ini untuk lima tahun ke depan. Apakah akan memilih penguasa yang mempertahankan budaya lama atau budaya baru?