Monday, 20 October 2014
"PIDATO PENATIKAN JOKOWI , PRESIDEN KE-7"
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,Om Swastiastu,Namo Buddhaya
Sunday, 19 October 2014
MEMBANGUN TRADISI TRANSISI POLITIKs
![]() |
| SBY-Jokowi |
Oleh: Dedet Zelthauzallam
Tak ada namanya terlambat. Ungkapan itu sangat pas
menggambarkan bagaimana transisi politik di Republik kita dewasa ini. Transisi
politik dari presiden keenam ke presiden ketujuh tentunya memberikan suasana
yang baru. Dimana baru pertama kali ada tradisi transisi yang sampai saat ini
berjalan dengan baik dan saling dukung mendukung.
Presiden dan presiden terpilih melakukan komunikasi
selayaknya seorang senior ke seorang junior. Dimana presiden dan jajarannya
memberikan gambaran mengenai bagaimana kondisi yang dihadapi. Hambatan,
tantangan sampai peluang disampaikan.
Tentunya ini adalah tradisi yang amat baru di
Republik ini. Kita ketahui bersama bahwa sejak Republik ini berdiri, tak ada
transisi yag berjalan dengan baik, mulai dari Soekarno hingga Susilo Bambang
Yudhoyono.
Transisi antara presiden pertama dan kedua diwarnai
dengan proses yang cukup memberikan perhatian serius dan tanda tanya besar bagi
generasi di Republik ini. Jawabannya pun tak tahu mau dicari dimana. Para
pelaku dan dokumennya pun hilang bagaikan ditelan bumi. Soeharto berdalih,
supersemar yang diberikan oleh Soekarno merupakan bukti penyerahan kekuasaan
kepada dirinya. Tetapi menurut Soekarno, supersemar hanya surat perintah untuk
menstabilkan situasi dan kondisi saat itu. Hal itulah yang menyebabkan hubungan
diatara keduanya tak berakhir dengan cerita indah, penuh dengan luka dan dendam
hingga membekas kepada keluarga dan generasinya (lihat hubungan keluarga
Soekarno dan Soeharto saat ini).
Sepertinya hukum alam pun berlaku bagi presiden
kedua yang populer dipanggil Bapak Pembangunan Republik ini. Setelah 32 tahun
berkuasa, beliau dijatuhkan melalui proses demonstrasi besar-besaran oleh hampir
semua elemen masyarakat, khususnya mahasiswa. Mereka menentang pemerintahan
yang dipimpin oleh Soeharto yang dinilai penuh dengan tindakan yang korup dan
dijalankan dengan otoriter. B.J. Habibi sebagai wakilnya pun naik
menggantikannya. Hubungan diatara keduanya, menurut beberapa sejarahwan, tidak
harmonis.
B.J. Habibi tak lama menduduki kursi RI-1, laporan
pertanggungjawaban beliau tak diterima oleh MPR selaku lembaga tertinggi saat
itu. Dengan demikian, maka dilakukanlah pemilihan umum tahun 1999. Hasilnya,
PDIP menjadi juara. Anehnya kursi RI-1 tak diduduki oleh kader atau ketua umum
PDIP, malah jatuh pada Gus Dur yang merupakan kader PKB yang notabenenya
berasal dari partai kecil. Hanya mereka menang
akibat dibentuk poros tengah yang diisi oleh partai yang berbasis islam.
Gus Dur memimpin Republik ini tak lama. Ini
diakibatkan oleh banyak argumen-argumennya bersifat kontroversial. Dengan tidak
direstui oleh lembaga tertinggi, maka Megawati selaku wakil presiden naik
ketangga puncak. Putri Soekarno menjabat sampai sisa jabatan.
Pada tahun 2004, Republik tercinta ini melaksanakan
pemilihan langsung yang pertama kali untuk memilih presiden dan wakil presiden.
Disinilah dimulai cerita awal retaknya hubungan Megawati dengan Susilo Bambang
Yudhoyono. SBY yang awalnya merupakan pembantu (baca: menteri) Megawati maju
sebagai salah satu calon presiden, kemudian keluar menjadi pemenang. Setelah
itu, komunikasi antara Megawati dan SBY tak kunjung menemukan benang merah.
Dalam perjalanan pemerintahan SBY, mulai pelantikan
sampai acara-acara besar, Megawati hampir tidak pernah menghadirinya. Hal itu
terjadi sampai saat ini, yang katanya kebanyakan orang (baca: pengamat) sebagai
biang kerok dari tidak bergabungnya demokrat ke koalisi Jokowi-JK.
Apa yang dilakukan oleh Megawati tak diteruskan
oleh SBY. Dimana SBY sebagai seorang presiden yang akan mengakhiri jabatan yang
telah diemban selama satu dasawarsa melakukan langkah-langkah yang patut
diapresiasi. SBY pernah mengatakan bahwa siapa pun yang terpilih menjadi
presiden, baik Jokowi atau Prabowo, beliau akan menyambutnya dengan upacara
penyambutan ala militer.
Apa yang dikatakan oleh SBY bukan hanya omong saja.
Beliau membuktikannya dengan bagaimana beliau memang sudah mempersiapkan
penyambutan di istana negara pada tanggal 20 Oktober 2014. Beliau juga
menginstruksikan para pembantunya untuk melakukan komunikasi dengan tim transisi,
supaya pemerintahan baru paham dengan keadaan Republik ini.
Transisi Hampir
Ternodai
Menjelang pelantikan Jokowi, ada beberapa
dinamika yang terjadi. Dinamika tersebut bisa tergolong cukup memberikan respon
yang negatif dari publik. Itu disebabkan oleh adanya adu jatos antara koalisi
yang dibangun Jokowi, Koalisi Indonesia Hebat, dengan koalisinya Prabowo,
Koalisi Merah Putih pada sidang paripurna pembahasan RUU Pilkada sampai memilih
pimpinan DPR/MPR.
Isu mengenai akan adanya penjenggalan terhadap
pemerintahan juga sempat muncul akibat tingginya tensi politik. Namun apa yang
terjadi tersebut akhirnya terjawab dengan bertemunya Jokowi dengan para
petinggi partai Koalisi Indonesia Hebat.
Dengan demikian, maka publik merasa lebih adem-ayam dengan hal tersebut.
Jokowi selaku presiden terpilih tidak
sungkan-sungkan bertemu dengan elit partai Koalisi Merah Putih. Ini adalah
pendidikan politik yang baik bagi publik. Publik akan merasakan efek yang
awalnya galau menjadi sangat yakin bahwa semua elemen akan bergabung dalam
pemerintahan mendatang. Bergabung bukan berarti pemerintah baru bebas kritik,
tetapi akan sejalan apabila kebijakan yang diambil untuk rakyat banyak. Jangan
sampai mereka hanya bertameng atas nama rakyat, tetapi semuanya untuk mereka.
Apa yang dilakukan oleh Jokowi merupakan hal yang
luar biasa. Beliau tahu bahwa Republik ini dibangun di atas Gotong royong. Jadi
semua pihak harus dirangku demi mencapai cita-cita bangsa.
Friday, 17 October 2014
REPUBLIK SIKUT MENYIKUT, MENUJU INDONESIA SATU
![]() |
| Ilustrasi by Mbah G |
Oleh: Dedet Zelthauzallam (Rojet, Pujut)
Akhir-akhir
ini, publik Indonesia dipertontonkan dengan adegan yang amat luar biasa. Adegan
yang dimaksud adalah adegan yang dipermainkan oleh para elit yang terhormat
kedudukannya. Sepertinya adegan yang dimainkan oleh para elit yang terhormat
ini bisa jadi menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari Republik yang kaya nan
subur ini. Adegan seperti inilah yang membuat Republik ini ketinggalan kereta
oleh negara tetangga yang bisa dikatakan tidak memiliki founding yang jelas. Namun mereka bisa menemukan momentum dalam
menjalankan roda kehidupan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh publik (baca:
rakyat).
Adegan
yang dimaksud di atas adalah bagaimana sikap para anggota dewan yang terhormat
dalam menjalankan sidang, baik disidang terakhir dan sidang perdana. Pada
sidang terakhir tentunya publik tak akan lupa dengan bagaimana para anggota
dewan yang bertameng atas nama rakyat melakukan hal-hal yang amat memalukan,
jauh dari standar etika moral kehidupan yang tertanam di Republik ini. Kemudian
tak berselang beberapa lama, mereka yang baru dilantik kembali melakukan hal
yang serupa. Ini pun disebabkan oleh masalah sepele, yaitu memilih siapa yang jadi
pemimpin mereka. Adu jatos antar kubu pun tak bisa dihindarkan, semuanya
berakhir dengan aksi walk-out.
Ini
baru yang dilakukan oleh elit yang terhormat, belum lagi yang dilakukan oleh
mereka yang ada di lapisan bawah. Mereka juga sering kali harus saling sikut
menyikut dalam roda kehidupan. Mulai dari tingkat paling bawah sampai tingkat
paling atas. Sebut saja mulai dari kompetisi antar tetangga sampai antar
provinsi maupun kementerian/lembaga. Belum lagi kompetisi yang dilakukan antar
satu profesi sangat mengerikan. Sebut saja sopir angkot. Berdasarkan pengalaman
pribadi di Jakarta, sikut menyikut antar sopir tak terhindarkan. Komptensinya
mengerikan dan amat membahayakan.
Banyak
dari mereka takut lahannya (baca: kewenangannya) diambil. Padahal perubahan
kebijakan yang diambil itu untuk perbaikan dan peningkatan kepentingan
umum.
Apa
yang dilakukan oleh orang-orang terhormat dan contoh lainnya itu sepertinya sudah bisa menjadi sampel yang mencerminkan
apa yang pernah dikatakan oleh Hobbes, homo
homuni lupus, manusia seperti serigala bagi yang lainnya. Mereka haus
kekuasaan, ibarat mata air di Gurun Pasir Lut di Iran. Ini memang bisa
dikatakan sebagai sifat alamiah yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk
individu yang terus menerus ingin menggapai kepuasaan diri sampai titik didih
terakhir, yaitu aktualisasi diri (Maslow).
Dengan
cerminan seperti itu, dunia ini (baca: Indonesia) menurut Nietzsche dalam
karyanya yang berjudul “der wille zur
macht” atau nafsu berkuasa. Dalam karyanya tersebut, dunia ia gambarkan
tidak lain adalah dunia dari segala macam kemauan untuk berkuasa. Hal ini
senada dengan apa yang disampaikan oleh Schopenhauer yang menyimpulkan bahwa
dunia ini bukanlah merupakan gejala metafisik.
Apa
yang disampaikan tersebut jelas gejalanya sedang mewabah di Republik ini. Bisa
dilihat dari semua lapisan, mulai dari konglomerat sampai kuli pun ingin menduduki
jabatan. Jabatan yang memberikan kekuasaan yang lebih dari orang lain. Mereka
ingin terlihat lebih superior, sehingga bisa untuk menggapai apa yang
diinginkan.
Anehnya,
mayoritas mereka yang mengejar tahta kekuasaan banyak yang melupakan proses. Proses
sering kali selalu disepelekan demi mencapai tujuan. Ada yang mengambil jalan
tikus yang tentunya memiliki berbagai variasi. Variasinya mulai dari menghalalkan
segala cara, mengkarbitkan diri dengan berbagai perhiasan yang mampu
meningkatkan akseptabilitas, menghambur-hamburkan kepeng (baca: uang) dan masih
banyak variasi lainnya yang tak terdeteksi oleh akal sehat.
Apabila
hal-hal tersebut terus menerus dipertahankan tentunya akan menjadi bumerang
bagi keberlangsungan masa depan Republik ini. Meskipun dalam berbagai riset dan
penelitian menyatakan tanah kita adalah tanah surga, tetapi kalau terus menerus
saling sikut-menyikut dalam hidup kehidupan akan malah menjadi bom waktu yang
bisa saja meledak kapan saja. Organisasi yang memiliki tingkat pluralisme yang tak terbendung
kuantitasnya akan menjadi kapal oleng yang hanya akan menunggu waktu saja.
Melihat
sejarah dan kondisi empirik dewasa ini, banyak negara yang sukses bukan
mengandalkan sumber daya alamnya, tetapi lebih mengandalkan manajemen
organisasi yang mampu menerapkan prinsip manajemen, yaitu the raight man on the raight please. Sebut saja kerajaan Romawi.
Menurut Romein, yang menjadi kunci kesuksesannya terletak pada kemampuan
berorganisasi dari masyarakat Romawi. Masyarakat Romawi bukan masyarakat yang
pemberani seperti masyarakat Mesir, tetapi mereka lebih mengandalkan tingkat
kedisiplinannya. Itulah yang membawa mereka menjadi kekuatan militer terbesar
di masanya.
Romawi
memperlihatkan kesuksesan masa lampau, di era dewasa ini pun bisa kita lihat banyak
negara yang sukses tanpa sumber daya alam yang tinggi. Tidak perlu jauh-jauh,
lihat saja tetangga kita, Singapura. Singapura yang seper sekian dari Republik
ini bisa menjadi salah satu sentral bisnis dan menjadi negara jasa yang super
sibuk disebabkan karena mereka memahami keterbatasan dan kekurangannya,
sehingga mereka akan terus menerus berusaha untuk survive ditengah bayang-bayang negara yang katanya kaya dengan
sumber daya alamnya. Hasilnya pun bisa dilihat bagaimana perbedaan Singapura
dengan Republik kita, meminjam pribahasa, bagaikan bumi dan langit.
Indonesia Satu
Dalam
mempertahankan Republik ini untuk tetap eksis, maka perlu mematri semangat para
founding father Republik ini di dalam
sanubari seluruh lapisan rakyat Indonesia. Ini dilakukan untuk mengingatkan
kita semua bahwa Republik ini ada bukan untuk sebagian orang, tetapi, katanya
Soekarno, semua untuk semua.
Tentunya
dalam membangkitkan rakyat yang mayoritas sedang terjangkit gejala amnesia
butuh sosok figur pemimpin yang transformasional, supaya mereka bisa menjadikan
pemimpinnya sebagai subjek yang bisa dicerminkan bukan sebagai objek
hinaan. Pemimpin juga harus menerapkan
model kepemimpinan dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarsa sung talada, ing madya mangun
karsa dan tut wuri hadayani.
Harapan
baru tentang sosok pemimpin puncak di Republik ini pun akan segera muncul untuk
melanjutkan suksesi kepemimpinan presiden sebelumnya, mulai dari Soekarno-Susilo
Bambang Yudhoyono. Jokowi-lah menjadi pemimpin yang terpilih untuk menjadi garda
terdepan dalam mengarungi ombak kehidupan yang semakin dinamis nan tak terkontrol
selama lima tahun kedepan.
Pemimpin
baru hendaknya bisa mengembalikan “tri sakti” yang sudah lama diabaikan dalam action. Mengembalikan semangat tri sakti
akan menjadi langkah baru dalam menyatukan Republik ini yang kemudian
mengarahkan kesatu rel menuju cita-cita bangsa dan negara. Dengan begitu, maka apa
yang dipertontonkan oleh elit yang terhormat bisa untuk segera ditanggalkan,
karena perilaku yang seperti itu sudah kusam dan basi, hanya memperlambat
gerakan menuju cita-cita.
Tri
sakti akan menjadi langkah awal dalam menyatukan seluruh elemen di Republik
ini, karena dengan seperti itu, distribusi ke bawah akan menjadi amat terarah
dan disparitas akan bisa didekatkan, tidak seperti dewasa ini rentangnya amat
jauh. Dengan demikian, maka mereka tak akan berfokus pada pencarian kekuasaan.
Mereka akan lebih fokus pada pengembangan kapasitas yang dimiliki oleh
masing-masing pribadi. Mereka tak akan lagi sibuk mencari kekuasaan yang tak
tahu menahu ujungnya. Mereka akan saling bahu membahu, bukan menjatuhkan,
menuju harapan para founding father.
Tentunya
dalam mensuksesi tri sakti, pemimpin baru perlu memenej organisasi yang ada,
mulai dari kementerian sampai tingkat paling bawah (desa/kelurahan). Organisasi
tersebut harus mampu menerjemahkan tujuan organisasi dalam tindakan dan
perbuatan, bukan hanya slogan. Tanpa perbaikan organisasi akan sulit untuk bisa
menggapai cita-cita bangsa.
Dalam
memenej, pemimpin baru harus berani berpikir out the box, bukan tunduk dan sujud pada prosedur yang sudah
jelas-jelas membelenggu masa depan bangsa. Masa depan apa pun namanya tak boleh
digadaikan pada prosedur yang penuh liku. Tetapi sekali lagi harus berani
keluar demi perbaikan dengan pencapaian cita-cita Republik ini. Dengan catatan
tidak melanggar nyawa dari sumber segala sumber hukum di Republik ini.
Sunday, 21 September 2014
MENGUJI IMUNITAS KURIKULUM 2013 DI PEMERINTAHAN BARU
Oleh: Dedet Zelthauzallam
Kurikulum
2013 secara serentak diberlakukan pada tahun ajaran 2014/2015 di seluruh
sekolah. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muh. Nuh, yang
mengatakan bahwa sekolah tidak ada alasan untuk tidak menerapkan kurikulum
2013. Pemberlakuan kurikulum 2013 ini sebagai
pengganti dari kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum KTSP. Dengan
digantinya KTSP menjadi kurikulum 2013 menambah rentetan pergantian kurikulum pendidikan
di Republik ini yang sudah mencapai 11 kali.
Seringnya
pergantian kurikulum di Republik ini diakibatkan oleh tidak adanya parametar
yang jelas mengenai pendidikan. Tidak adanya parameter inilah yang menyebabkan
kurikulum di Republik ini mengikuti kemauan penguasanya. Hal itulah yang
menimbulkan adigium, penguasa berganti kurikulum pun berganti.
Dengan
perubahan kurikulum yang mengikuti penguasa membuat wajah pendidikan di
Republik ini cenderung stagnan. Stagnan karena lebih cenderung bersifat
politis. Politis dalam artian hanya akan berlaku di era pembuatnya.
Tentunya
budaya perubahan kurikulum ini tidak boleh terus menerus dibiarkan. Apabila
dibiarkan, maka otomatis Republik inilah yang akan dirugikan, baik dari segi
materil maupun masa depan manusianya. Dari segi materi misalnya, biaya yang
dibutuhkan untuk pergantian kurikulum mencapai miliaran sampai triliunan
rupiah. Sebagai contoh, pergantian kurikulum 2013 menghabiskan anggaran sekitar
2,49 T. Anggaran yang tersedot tersebut bisa dikatagorikan amat tinggi,
sehingga apabila tidak ada konsep yang jelas akan menyebabkan uang tersebut
mubazir.
Pergantian kurikulum juga membuat tenaga
pengajar (baca: guru) menjadi pusing. Ini diakibatkan oleh buku yang digunakan,
metode pengajaran maupun materinya akan berubah, sehingga diperlukan adaptasi
yang cepat dan tepat dari guru. Namun, yang menjadi permasalahan, guru sulit
untuk beradaptasi, sehingga kurikulum baru secara formal berlaku, tetapi dalam
prakteknya masih menggunakan pola lama.
Revolusi Mental Pada Pemerintahan Baru
Berlakunya
kurikulum 2013 di tahun transisi pemerintahan membuat masa depan kurikulum ini
penuh tanda tanya. Penuh tanda tanya maksudnya adalah apakah kurikulum 2013 ini
sesuai atau tidak sesuai dengan konsep revolusi mental yang didengungkan oleh pemerintahan baru yang
dipimpin Jokowi-JK. Apabila tidak satu nafas, maka otomatis kurikulum yang
bernilai triliunan ini akan mati suri diusia muda.
Melihat
konsep revolusi mental dari Jokowi-JK yang disampaikan pada saat kampanye
pemilihan presiden, maka kurikulum 2013, menurut saya, belum sejalan. Kurikulum
2013 masih belum bisa mengekskusi visi misi pemerintahan baru, karena orientasi
kurikulum ini lebih berorientasi saintifik. Siswa lebih dituntut menemukan
sendiri keilmuan yang ada, tanpa terlalu banyak menggantungkan diri pada
pengajaran guru.
Hal
tersebut tentunya tidak sesuai dengan pendidikan yang dicita-citakan oleh
Jokowi-JK. Sesuai dengan apa yang disampaikan Jokowi pada saat kampanye, pendidikan
harus bernuansa revolusi mental yang akan dimulai dari tingkat pendidikan
dasar. Menurutnya, siswa SD harus lebih banyak diberikan pendidikan karakter,
etika dan budi pekerti, presentasenya sebesar 80%, sedangkan pengetahuan umum
hanya sebesar 20%. Untuk tingkat SMP, porsi materi pengetahuan umum dengan
pendidikan karakter sebesar 40%-60%. Sedangkan untuk SMA, porsi pengetahuan
umum lebih besar dengan presentase 80%-20%. Jokowi juga ingin memperbanyak
sekolah kejuruan yang bisa menghasilkan siswa yang lebih siap terjun langsung
ke lapangan dengan memiliki keahlian yang sudah didapatkan di sekolah.
Dengan
melihat konsep yang diberikan Jokowi, maka konsep pendidikan ke depan lebih mengarah
pada pembangunan karakter, tidak seperti dewasa ini, materi pendidikan lebih
didominasi oleh pengetahuan umum. Pendidikan budi pekerti, menurut saya,
penting diakibatkan oleh masalah yang multidemensi melanda Republik ini berawal
dari kekosongan etika moral masyarakat.
Sebut
saja korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara di Republik ini. Mereka
memiliki latar pendidikan yang tinggi dengan gelar yang tak terhitung. Namun
mereka tetap saja melakukan tindakan korupsi. Ini dilakukan bukan karena mereka
tidak paham atau kebodohannya, tetapi karena mereka tidak memiliki karakter
yang kuat dalam diri mereka, sehingga etika dan moral mereka nol besar.
Kekosongan
etika moral masyarakat perlu dibangun melalui pendidikan. Pendidikan sangat
tergantung pada model kurikulum yang digunakan. Apabila kurikulum yang
diterapkan sesuai dengan kebutuhan, maka akan menciptakan manusia Indonesia
yang memiliki karakter, beretika dan bermoral. Dengan demikian, maka manusia
Indonesia adalah manusia yang bermartabat. Bermartabatnya manusia Indonesia
tentunya akan melepas Indonesia dari berbagai belenggu yang menghalangi
pencapaian cita-cita berbangsa dan bernegara, khususnya cita-cita mencerdaskan.
Dalam
menyusun kurikulum pendidikan, hendaknya pemerintah baru harus mengacu pada
kebutuhan lingkungan internal dan eksternal. Yang dimaksud internal adalah dari
dalam negeri sendiri. Pancasila sebagai dasar negara wajib dijadikan landasan
utama dalam penyusunan kurikulum, supaya nilai-nilai di dalam sila Pancasila,
mulai dari ke-Tuhanan sampai keadilan sosial menjiwai seluruh mata pelajaran.
Selain itu, budaya lokal harus diperhatikan, supaya tidak seperti dewasa ini,
dimana generasinya lebih paham dengan budaya luar dibandingkan budaya sendiri.
Lingkungan
eksternal yang dimaksud adalah dari aras global, karena mau tidak mau, suka
tidak suka, akan ikut mempengaruhi iklim persaingan dalam berbagai hal. Yang
perlu dicatat disini, dalam mengambil acuan pada lingkungan eksternal tidak
boleh merusak lingkungan internal. Artinya, nilai-nilai positif pendidikan yang
sudah berakar di Republik ini tidak boleh tereleminasi dengan adanya nilai baru
yang berasal dari luar.
Kurikulum
ke depannya juga harus memiliki pilar yang kuat. Menurut UNESCO, ada empat
pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang perlu dikembangkan oleh lembaga
pendidikan formal, yaitu 1) learning to
know (belajar untuk mengetahui), 2) learning
to do (belajar untuk melakukan sesuatu), 3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan 4) learning to live together (belajar untuk
menjalani kehidupan bersama). Empat pilar pendidikan dari UNESCO ini harus
menjadi refrensi bagi pendidikan di Republik ini.
Pendidikan
masa depan tidak menciptakan manusia robot, tetapi menelurkan manusia-manusia
yang memiliki inovasi dan kreatifitas yang tinggi serta memiliki kapasitas dan integritas.
Dari manusia yang berinovasi, kreatif dan berintegritas, maka Republik yang kaya
nan subur ini bisa tumbuh dalam meraih cita-citanya sebagai negara welfare state yang dicita-citakan oleh
para founding father.
Pendidikan
Indonesia masa depan juga harus memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak
bangsa yang sedang menuntut ilmu. Tidak seperti dewasa ini, dimana tempat
pendidikan sangat rawan akan kejahatan. Pemerintah dan seluruh pihak harus
mampu bekerjasama dalam menciptakan suasana aman dan nyaman.
Desain
pendidikan (baca: kurikulum pendidikan) Indonesia harus dipersiapkan dengan
lebih matang, sehingga anak bangsa bisa berkarya dalam membangun bangsa dan
negara ini. Masa depan Republik ini akan menjadi sangat terang benderang ketika
desain pendidikan yang akan dilaksanakan jelas tujuan dan arahnya.
Pemerintahan
Jokowi-JK harus bisa melepas urusan pendidikan dari belenggu kepentingan
politik. Harus dibangun paradigma baru, yaitu politik dengan pendidikan
memiliki arah yang berbeda, sehingga apabila disatukan akan menghasilkan
pertentangan hasil yang tak akan berumur lama. Dengan lepasnya penyusunan
kurikulum pendidikan dari kepentingan politik yang bersifat sementara akan bisa
menghasilkan kurikulum abadi tanpa mengenal siapa pembuatnya dan siapa
berkuasa. Dengan demikian, maka akhirnya Indonesia akan keluar menjadi bangsa
dan negara yang terhormat dimuka bumi karena memiliki generasi emas yang
dihasilkan dari pendidikan yang memiliki landasan kokoh.
Thursday, 18 September 2014
QUO VADIS KEBUDAYAAN INDONESIA: STRATEGI PENYERBUKAN SILANG ANTARBUDAYA DI ERA GLOBALISAS
Oleh: Dedet Zelthauzallam
Di era
globalisasi dewasa ini, dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa
dilepaskan dari pengaruh lingkungan strategis yang melingkupinya, baik di tingkat
global, regional, nasional maupun lokal. Pengaruh lingkungan tersebut
disebabkan oleh kemajuan tehnologi yang berkembang pesat, sehingga menyebabkan dunia
seolah-olah tanpa batas (borderless
world). Keadaan seperti itulah yang menuntut bangsa dan negara di dunia
untuk selalu siap dan tanggap dalam menghadapi segala bentuk dinamika global
yang bisa berdampak langsung ke kehidupan sosial masyarakat.
Proses globalisasi telah mengakibatkan terjadinya
proses restrukturisasi kehidupan sehari-hari dalam sejumlah sektor dihampir
seluruh populasi dunia, serta mendefinisikan kembali gagasan mengenai ruang,
waktu, identitas dan agen pada tingkatan lokal.[1] Sebagai
konsekuensinya, globalisasi telah menghadirkan perbedaan-perbedaan yang
meruntuhkan totalitas dan kesatuan nilai-nilai individu dan kolektif. Budaya
global ditandai oleh integrasi budaya lokal ke dalam suatu tantanan global.[2] Oleh
karena itu, globalisasi mengandung elemen homogenisasi kultural. Meski
demikian, pada saat bersamaan mekanisme fragmentasi, heterogenisasi dan
hibridisasi juga beroperasi.
Hibridisasi budaya atau yang lebih populer disebut
sebagai penyerbukan silang antarbudaya[3]
sebenarnya sudah terjadi sebelum Republik Indonesia memperoleh legitimasi
kemerdekaan dari penjajah. Letaknya yang strategis membuat Indonesia menjadi
titik temu para penjelajah bahari yang membawa berbagai arus peradaban yang
beranekaragam. Pertemuan itulah yang meyebabkan budaya yang ada di Indonesia menjadi
sangat plural. Menurut Denys Lombard, tak ada satu pun tempat di dunia ini,
kecuali Asia Tengah, yaitu nusantara (baca: Indonesia) menjadi tempat kehadiran
hampir semua kebudayaan besar di dunia, berdampingan atau lebur menjadi satu.
Dia melukiskan adanya beberapa nebula sosial-budaya yang secara kuat
mempengaruhi peradaban Nusantara (khususnya Jawa), yaitu Indianisasi, jaringan
Asia (Islam dan Tiongkok) serta arus westernisasi.
Pengaruh Indianisasi (Hindu-Budha) bisa dilihat dari
bentuk candi kerajaan nusantara zaman dulu, seperti Candi Borobudur dan
Prambanan. Bentuknya mirip dengan bentuk candi yang ada di India. Selain itu
juga, struktur konsentris kosmologi India mempengaruhi mentalitas masyarakat
Indonesia, khususnya Jawa dan Bali. Hal itu tampak pada cara berfikir, sistem
tata susila, upacara-upacara dan seni. Sedangkan pengaruh Islam mulai dirasakan
kuat masuk di Indonesia pada abad ke-XIII dengan ditandai oleh berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam. Mulai dari kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samudera
Pasai kemudian menjalar secara cepat ke seluruh nusantara, baik di Jawa maupun
Indonesia bagian timur.
Penyerbukan silang antarbudaya yang telah berlangsung
lama itulah yang telah menelurkan kebudayaan yang ada di seluruh pelosok
nusantara, yang membentang dari Sabang-Merauke. Terdapat lebih dari 300 etnik
atau tepatnya 1.340 suku bangsa.[4] Kebudayaan
yang plural tersebut menjadi aset kekayaan yang berharga bagi Indonesia. Sebagai
aset kekayaan, kebudayaan yang dimiliki harus dilestarikan dan dikembangkan supaya
masyarakat Indonesia memiliki identitas kebudayaan yang kuat untuk menghadapi
segala bentuk perubahan yang diakibatkan dari dinamika globalisasi.
Untuk menjaga kemajemukan kebudayaan Indonesia, para
founding father Republik ini sudah mem-frame di dalam sebuah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, artinya berbeda-beda
namun satu jua. Lebih tepatnya adalah keanekaragaman budaya yang ada di seluruh
nusantara dibingkai menjadi satu di dalam kebudayaan nasional, baik itu bahasa,
adat istiadat, lagu daerah, pakaian adat, rumah adat dan lainnya. Dan selanjutnya
akan menjadi strategi dalam mempercepat pembangunan Indonesia.
Namun yang terjadi pasca hampir 69 tahun Republik
Indonesia merdeka adalah budaya yang plural nan kaya tidak mampu mengangkat
kualitas bangsa dan negara. Indonesia masih terbelenggu menjadi negara
konsumtif. Itu bisa dilihat dari produk luar negeri yang terus menerus membanjiri
pasar dalam negeri. Produk dari Tiongkok mendominisasi barang-barang elektronik
yang sudah tidak terhitung jumlah mereknya. Indonesia juga masih harus mengimpor
beras, daging sapi, kedelai, cabai dan sejenisnya dari negara lain yang
notabenenya jauh tidak subur dibandingkan kita, seperti Vietnam, Thailand,
India, Pakistan dan Myanmar. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS)
tahun 2013, Vietnam menjadi pemasok terbesar beras impor Indonesia yang
mencapai 171.286 ton dari total 472.000 ton beras yang dimpor.[5]
Hadirnya era reformasi yang membawa banyak perubahan
juga belum mampu menciptakan harapan menjadi kenyataan. Malah perubahan
tersebut menimbulkan benih-benih permasalahan baru yang membelenggu tujuan dari
pelaksanaannya. Seperti kasus korupsi yang dilakukan oleh elit semakin bersifat
masif. BPK RI mencatat sudah ada 311 kepala daerah atau sekitar 65% dari total
kepala daerah di Indonesia tersandung korupsi yang nilai potensi kerugian
negara mencapai 36,7 triliun rupiah.[6]
Korupsi sepertinya menjadi budaya baru dan mulai
mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Korupsi dewasa ini dilakukan
oleh lintas kalangan dengan berbagi macam modus. Budaya malu pun mulai
terdegradasi dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia pun sudah mulai
apatis dan semangat gotong royong sudah mulai luntur. Semua tindakan dan
kegiatan masyarakat Indonesia dewasa ini berorientasi pada rupiah. Sepertinya
pergeseran prilaku budaya Indonesia yang terjadi di era globalisasi ini lebih
mengarah ke arah yang negatif. Akselerasi pertukaran budaya yang berlangsung
dengan cepat tidak bisa dihadapi masyarakat kita. Masyarakat seharusnya
diedukasikan dan dilatih, supaya tidak hanya mendapatkan ampas dari budaya lain.
Ampas dalam artian hanya bisa mengambil hal-hal yang negatif dari suatu budaya.
Solusi dari problem tersebut adalah melalui penyerbukan
silang antarbudaya yang harus ditelurkan di era globalisasi, yaitu dengan mengambil aspek
positif budaya-budaya lain, baik di aras lokal maupun aras global, kerena menurut
Samuel P. Hutington, kebudayaan merupakan unsur determinan maju dan mundurnya
suatu bangsa. Sehingga sangat penting sekali bagi Indonesia memiliki kebudayaan
yang mampu menghadapi dinamika perubahan
di era globalisasi demi menata dan membangun bangsa ini.
Strategi Penyerbukan
Silang Antarbudaya di Era Globalisasi
Dalam melihat penyerbukan silang antarbudaya di era
globalisasi terlebih dahulu kita harus mengetahui karakteristik prosesnya.
Arjun Appadurai mengindentifikasikan karakteristik proses globalisasi harus melalui
lima aliran atau pergerakan dari sudut pandang etnik, finansial, teknologi,
media dan ideologi dalam aliran yang disjungtif.
Disebut disjungtif karena kecepatan,
cakupan dan akibat dari aliran-aliran ini tidak harmonis, melainkan aliran ini
terbelah-belah dan terputus-putus. Appadurai menggunakan akhiran “scape” pada kelima aliran itu untuk
menggambarkan lanskap tak menentu yang dihasilkannya. Kelima aliran tersebut
adalah 1) ethnoscapes, lanskap
orang-orang yang mendasari pergeseran dunia tempat kita bermukim, seperti
turis, imigran, pegungsi dan tenaga kerja asing, 2) finanscapes, lanskap pergerakan modal dan komoditas dalam kecepatan
yang mengagumkan, 3) technoscapes,
lanskap perubahan dan transformasi tehnologi global, 4) mediascapes, lanskap kapasitas media elektronik dalam memproduksi
dan mendiseminasi informasi, seperti surat kabar, stasiun televisi dan studio
produksi film berikut citraan dunia yang diciptakan oleh media-media tersebut,
dan 5) ideoscapes, lanskap diskursus
yang berkaitan dengan artikulasi identitas kolektif, nasional dan individual.[7]
Menurut Woodham, sejarah masyarakat kontemporer di
era globalisasi ini dibentuk secara signifikan oleh abad mesin dan tehnologi
baru industri kapitalis. Pada masa ini, kapitalisme menjadi kekuatan yang
paling penting yang tidak hanya mampu menata dunia menjadi satu tatanan global,
tetapi juga telah mengubah tatanan masyarakat yang bertumpu pada
perbedaan-perbedaan dan mengarahkan masyarakat dalam pembentukan status dan
identitas personal dan kolektif. Dalam era ini, media elektronik dan budaya
konsumer telah memainkan peranan penting di jantung kehidupan masyarakat
kontemporer. Proses tersebut telah menempatkan pasar ditahta tertinggi dalam
membangun tata nilai dan tantanan sosial. Pasar juga telah memperluas orientasi
masyarakat dan mobalitas sosial sampai titik nadir terakhir yang menyebabkan
batas-batas sosial kultural cenderung mengabur akibat berubahnya orientasi
ruang dan waktu.[8]
Dalam menjalankan strategi penyerbukaan di era
globalisasi, kita juga perlu mengubah persepsi kita tentang kebudayaan.
Kebudayaan bukan sekedar merupakan koleksi barang-barang budaya yang
disakralkan, melainkan kegiatan manusia untuk menciptakan alat-alat kerja yang
senantiasa memberi wujud baru pada pola-pola kebudayaan yang ada. Dengan
demikian, secara formal kebudayaan adalah realisasi kemampuan-kemampuan
manusia, yaitu sebagai pengembangan segala bakat dan kekuatan kodrat.
Kebudayaan terlihat dalam dinamika serta proses realisasinya menuju kedewasaan
hidup. Dengan kata lain, kebudayaan terwujud dalam learning process selama hidup.
Dengan kita mengetahui karakteristik globalisasi dan
perubahan persepsi tentang kebudayaan, maka penyerbukan silang antarbudaya di
era globalisasi bisa dilakukan dengan menyilangkan antara budaya lokal dengan
lokal, budaya asing dengan lokal maupun budaya nasional dengan asing yang di-frame menjadi budaya nasional dengan
tetap memperhatikan pergerakan dari sudut etnik, finansial, teknologi, media
dan ideologi yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa, sehingga kebudayaan
yang ditelurkan memang memiliki mutu yang berkualitas tinggi. Budaya akan menjadi spirit baru masyarakat
Indonesia dalam mengejar ketertinggalan, baik itu budaya yang berupa etos
kerja, kepribadian, kedisiplinan, keterampilan dan lainnya.
Banyak contoh penyerbukan silang antarbudaya yang sudah
dilakukan dan dinilai berhasil, seperti, Batik Tiga Negeri Tambal, batik ini
merupakan hasil silang antar budaya (antar kelompok agama dan etnik) dan
kerjasama teknis-ekonomis lintas daerah. Batik motif Tambal umumnya ditemukan
pada gaya batik pedalaman (Yogya dan Solo). Sedangkan batik Tiga Negeri umumnya
dikenal sebagai batik multikultural yang melibatkan pembuatan di tiga daerah,
yaitu Lasem, Pekalongan dan Solo. Batik Tiga Negeri bermotif Tambal dari Batang
merupakan gabungan desain pedalaman dan peisisiran yang menarik dikaji. Dengan
adanya penyerbukan silang antarbudaya tersebut, maka desain batik yang
disajikan lebih menarik, sehingga disukai oleh konsumen.
Dibalik keberhasilan tersebut masih ada pekerjaan
rumah yang belum terselesaikan dalam melakukan penyerbukan silang antarbudaya,
yaitu bangsa Indonesia masih diembargo dalam budaya lembek (soft culture), pasrah dan terlena oleh alam.[9] Mochtar
Lubis menyebut ciri-ciri manusia Indonesia, yaitu: hipokrit, tidak
bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri, memiliki jiwa feodal, masih
mempercayai takhyul, artistik, watak lemah, boros dan sifat buruk lainnya.[10] Sifat-sifat
seperti itu memang masih mematri pada mayoritas masyarakat Indonesia. Seharusnya
sifat tersebut sudah ditinggalkan oleh masyarakat, karena akan menjadi bumerang
bagi masa depan bangsa Indonesia.
Masyarakat Indonesia saatnya untuk berguru pada
Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan. Mereka bisa melangkah jauh lebih cepat
dibandingkan Indonesia, meskipun keadaan alamnya sangat memprihatinkan. Mereka dewasa
ini menjadi kekuatan baru dunia yang mampu bersaing dengan negara-negara Eropa
maupun dengan Amerika Serikat. Sejumlah lembaga internasional malah memprediksi
ekonomi Tiongkok akan segera melampaui Amerika Serikat, karena dalam satu
dekade terakhir pertumbuhan ekonominya sangat fantastis.[11] Mereka bisa demikian, karena memiliki budaya
kerja, semangat juang pantang menyerah dan kepercayaan diri yang tinggi. Namun
bangsa Indonesia sebaliknya, terlalu dininak bobokan dengan alam Indonesia nan
kaya. Masyarakat Indonesia masih mengadopsi sifat-sifat yang telah disebut oleh
Mochtar Lubis di atas, sehingga kekayaan alam yang luar biasa melimpahnya hanya
dikeruk asing dan dibawa mentahnya ke luar negeri. Padahal Ir. Sukarno pernah
mengatakan bahwa kita harus menjadi bangsa yang berdikari, baik di bidang
ekonomi, politik maupun budaya. Namun apa yang dikatakan Sukarno itu tidak
didengar oleh pemimpin setelahnya. Kekayaan alam bangsa ini malah digadaikan
kepada asing.
Sukarno juga dengan kepercayaan diri yang tinggi
mengatakan: “aku tinggalkan kekayaan alam
Indonesia, biar semua negara besar iri dengan Indonesia dan aku tinggalkan
sampai bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya”. Lalu kalau alam sudah
mengikis dan kebudayaan sudah terdegradasi, apa yang akan diwariskan kepada
anak bangsa ini? Warisan yang paling bisa diturunkan adalah dengan membangun
sebuah budaya nasional yang kuat dan inovatif, sehingga mampu membentuk
mental-mental baja dalam menghadapi gelombang globalisasi.
Wadah Penyerbukan Silang
Antarbudaya
Dalam mengimpelmentasikan penyerbukan silang
antarbudaya di Indonesia tentunya tidak mudah. Mengingat mayoritas masyarakat
Indonesia masih banyak memiliki sikap etnosentrisme. Etnosentrisme merupakan
sikap yang cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing dan
merasa budayanya sebagai budaya yang terbaik. Menurut Adorno, orang-orang
etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul dan pemeluk agama yang
fanatik. Ciri-ciri yang disebutkan oleh Andorno tersebut sepertinya masih
melekat di masyarakat kita, sehingga dalam mengimplementasi penyerbukan silang
antarbudaya harus dibuatkan sebuah formula untuk mengeliminasi konflik. Formula
yang dimaksud adalah strategi pendekatan yang bisa diterima oleh semua
masyarakat, sehingga etnosentrisme yang masih mematri dalam mayoritas
masyarakat bisa dilunakkan demi membangun budaya bangsa yang bermartabat.
Formula yang dimaksud bisa dilakukan melalui
pendekatan budaya. Pendekatan budaya mempertanyakan makna pembangunan nasional
dan berusaha mencari pemecahan terhadap masalah yang dihadapinya untuk menemukan
jalan yang bermakna. Untuk itu, pendekatan budaya menurut Johan Galtung harus bisa
melibatkan tiga unsur yang berbentuk segitiga, yaitu data, teori dan nilai.[12] Dari
pendapat Galtung tersebut, maka dalam melakukan penyerbukan silang antarbudaya
harus berpijak pada data objektif, sebab tanpa adanya data tersebut budaya hasil
penyerbukan akan hanya merupakan utopia yang tidak tahu ujung pangkalnya. Data
yang dimaksud merupakan pengetahuan tentang nilai-nilai positif yang dimiliki
oleh budaya yang akan diserbukkan.
Pendekatan tersebut bisa dilakukan melalui kurikulum
pendidikan. Kurikulum pendidikan harus bisa menyiapkan pelajaran-pelajaran yang
bisa mengambil segi positif dari beragam budaya yang ada di nusantara, mulai
dari Aceh-Papua, maupun budaya asing, seperti India, Tiongkok, Jepang dan Korea
Selatan. Budaya-budaya itu akan dijadikan sebagai budaya nasional yang akan
membentuk generasi yang mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi di era
globalisasi.
Strategi penyerbukan silang antarbudaya juga bisa dilakukan
dengan membangun sebuah instansi pendidikan yang bisa menampung seluruh
perwakilan suku bangsa atau daerah yang ada di Indonesia. Sekolah ini akan menjadi
wadah penyerbukan silang antar budaya yang memiliki tugas dan fungsi untuk
menginternalisasikan nilai-nilai positif masing-masing daerah (budaya) melalui
suatu interaksi. Dewasa ini yang bisa dijadikan rujukan adalah IPDN. Meskipun
konsentrasi pendidikannya adalah bidang pemerintahan, tetapi sekolah
kepamongprajaan ini dijuluki sebagai miniatur NKRI. Disebut demikian karena
praja (baca: mahasiswa) IPDN berasal dari seluruh pelosok nusantara. Hampir
setiap kabupaten/kota memiliki perwakilannya.
Tentunya konsep pendekatan kurikulum dan membentuk
wadah (sekolah/universitas) yang bertugas menginternalisasi nilai-nilai budaya
yang positif akan menjadi strategi baru dalam membangun kebudayaan Indonesia.
Kebudayaan Indonesia yang terbangun dari hasil penyerbukaan ini diarahkan untuk
membantu membangun identitas bangsa yang berbudaya dan beradab, yang menjunjung
nilai moral agama yang hidup di bangsa ini. Diharapkan ini akan menjadi langkah
baru dalam menyongsong masa depan bangsa yang mampu meraih cita-cita bangsa
yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alenia empat, yaitu mencerdaskan, melindungi
dan mensejahterakan serta ikut memelihara ketertiban dunia.
[1] Manuel A. Vasquez dan
Marie Friedmann Marquardt, Globalizing
the Sacred: Religion across the Americas (New Brunswick, New Jersey dan
London: Rutgers University Press, 2003), hal. 37.
[2] Irwan Abdullah, Konstruksi dan Reproduki Kebudayaan (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2006), hal. 107.
[3] Istilah Penyerbukan
Silang Antarbudaya (Cross Cultural
Fertilization) digagas oleh Aan Rukmana dan Eddie Lembong. Istilah ini
berbeda dengan artikulasi atau multikulturisme. Ide asimilasi budaya yang
secara politik digulirkan oleh Partai Tionghoa Indonesia (PTI) sejak tahun 1932
yang kemudian mendapat sambutan positif dari pemerintahan sejak tahun 1960 dan
dipraktekkan dengan masif pada era Orde Baru berangkat dari pandangan bahwa
budaya minor dalam hal ini budaya Tionghoa harus masuk ke dalam budaya mayor.
Maka sejak saat itu, banyak warga keturunan Tionghoa yang berubah nama menjadi
nama Jawa dan lain sebagainya sebagai
bagian dari implementasi gagasan asimilasi. Ide ini tidaklah buruk, akan tetapi
untuk konteks saat ini perlu ditinjau kembali sesuai dengan konteks kekinian.
Dalam konsep asimilasi masih ada anggapan budaya mayoritas dan budaya
minoritas, jadi sebuah budaya dilihat bukan dari sisi kualitasnya melainkan
dari kuantitasnya. Ini berbeda dengan ide penyerbukan silang antarbudaya yang
berangkat dari kualitas masing-masing budaya, sehingga tidak perlu dipersoalkan
apakah budaya itu minoritas asalkan ia memiliki keunggulan maka dapat kita
pelajari juga. Lihat di http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/sites/46/2013/10/aan-rukmana_warisan-dan-pewarisan-budaya_penyerbukan-silang-budaya_penyerbukan-silang-antarbudaya.pdf.
[4] Lihat Data BPS tahun 2010
[5] “Tahun Lalu,
Indonesia Impor Beras dari Lima Negara (05/02/2014)”, tempo.co, diakses tanggal
24 April 2014.
[6] “311 Kepala Daerah
Tersandung Korupsi (10/01/2014)”, Lihat di http://bareskrim.com/wp-content/uploads/2013/10/KEPALA-BARESKRIM.jpg, diakses tanggal 5
Mei 2014.
[7] Arjun Appadurai, Modernity at Large, Cultural Dimensions of
Globalization (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1996), hal.
33-37.
[8] Rahmat Hidayatullah, “Artikulasi Simbol-Simbol Islam dalam
Lanskap Budaya Populer Indonesia”, (Titik Temu Jurnal Dialog Peradaban,
2012), hal. 90-91.
[9] Menurut Arnold J. Toynbee (1889 – 1975) bangsa-bangsa yang mendiami
wilayah di sekitar garis khatulistiwa dikenal memiliki budaya yang lembek (soft
culture). Toynbee yang menelaah delapan pusat peradaban dunia, dan
kemudian menghasilkan teori Challenge
and Response itu, mengemukan
bahwa suatu kebudayaan akan tumbuh manakala ia mampu menghadapi tantangan yang
datang dari tempat dimana ia hidup. Hal serupa disampaikan juga oleh Tokuyama
Jiro, peneliti dari Nomura Institute, bahwa bangsa agraris biasanya lebih
subsisten, bersifat pasrah dibandingkan bangsa Barat yang lebih keras, karena
harus berburu untuk bertahan hidup. Disini alam agraris cenderung memanjakan manusia
yang hidup di atasnya. Mereka pun tidak memiliki daya saing yang kuat
sebagaimana bangsa yang memiliki empat musim. Lihat di http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3728-penyerbukan-silang-antarbudaya-1-bagian-kedua.
[10] Mochtar Lubis, Manusia
Indonesia (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012), hal. 18-34.
[11] “Sebentar Lagi, Ekonomi Cina Lampaui AS (04/05/2014)”, http://m.republika.co.id, diakses tanggal 6
Mei 2014.
Friday, 12 September 2014
MELAHIRKAN POLITISI (BUKAN) PENCARI KERJA
Oleh: Dedet Zelthauzallam
Dalam
kurun waktu satu dekade terakhir, politisi selalu menjadi penghias media cetak
dan elektronik. Politisi menjadi sorotan media, karena perilaku (oknum)
politisi yang amat tak etis. Tak etis dalam artian mayoritas tindakan yang dilakukannya
merugikan publik. Mereka sepertinya hanya menjual nama rakyat untuk memuluskan
kepentingan pribadi, golongan dan partainya.
Kasus
korupsi yang terjadi di Republik ini menjadi bukti nyata dari potret politisi
kita dewasa ini. Dimana para politisi masih memimpin diposisi atas daftar
tersangka kasus korupsi. Ini bisa dilihat dari data di KPK, dalam kurun waktu
2007-2014 ada 74 anggota DPR RI yang tersandung kasus korupsi. Belum lagi dihitung
anggota DPR dan DPRD yang kasusnya ditangani oleh Kepolisian dan Kejaksaan. Ini
baru dilihat dari lembaga legislatif, belum lagi dilihat dari politisi yang
duduk di lembaga ekskutif yang menduduki jabatan strategis, seperti menteri,
gubernur dan bupati/walikota, jumlahnya akan semakin banyak.
Model
korupsi para politisi pun beraneka ragam. Ada yang menerima fee proyek, gratifikasi, penggelembungan
anggaran, permainan proyek, lelang barang dan jasa serta kasus lainnya yang
tergolong korupsi. Korupsi ini pun dilakukan dengan berbagai alasan, mulai dari
memperkaya sanak saudara, pembiayaan kampanye partai politik, sampai pada alasan
politik balas budi.
Sepertinya
politisi dewasa ini memperaktikkan politik yang pernah dikatakan oleh Harold
Laswell yang menyatakan bahwa politik merupakan proses sosial yang menentukan
siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana. Politik seperti itu akan menghasilkan paradigma
berorientasi profit bukan benefit, yang hanya akan menghasilkan
politisi yang menjujung pragmatisme.
Menurut
Etty Indriati dalam bukunya Pola dan Akar Korupsi, korupsi merupakan problem
universal peradaban. Di era negara demokrasi modern, koruptor dan pejabat korup
membeku dalam waktu, ketinggalan jaman, karena hidup di jaman sekarang, tetapi
perilakunya masih sama dengan perilaku di abad pertengahan. Perilaku yang
dimaksud seperti: membangun kekuasaan berbasis kekerabatan, mengumpulkan upeti,
komisi dan gratifikasi.
Perilaku
membangun kekuasaan berbasis kekerabatan bisa dilihat dari beberapa daerah. Tentunya
yang paling populer adalah dinasti Atut di Banten. Sedangkan ditingkat pusat
juga masih terjadi dibeberapa partai politik. Dimana anak dan keluarganya
memegang jabatan strategis.
Masalah
korupsi merupakan maslaah yang akut di Republik ini, sehingga dibutuhkan sebuah
formula khusus. Formula yang kira-kira bisa memotong korupsi yang sudah membudaya
dan berakar dalam kehidupan sosial masyarakat.
Sebenarnya
dalam hal memberantas korupsi, Indonesia bisa belajar dari Singapura. Singapura
di bawah pimpinan Lee Kuan Yew mampu melepas diri dari jeratan korupsi yang membelenggu
negaranya. Ketegasan Lee yang tidak memberi ampun bagi koruptor kelas kakap
menjadi kunci keberhasilannya. Hasilnya bisa dilihat dewasa ini, Singapura
menjadi salah satu negara yang memiliki indeks pendapatan per kapita yang
tinggi. Jauh meninggalkan Indonesia yang katanya negeri yang subur nan kaya.
Lalu
yang menjadi pertanyaannya, korupsi di Indonesia harus dimulai dari siapa dan
darimana? Tentu jawabannya adalah mulai dari para pemimpinnya. Pemimpin yang
dimaksud adalah mereka yang memiliki power
full, sehingga bisa mempengaruhi bawahannya. Itulah yang dimaksud oleh Lee
Kuan Yew sebagai pemberantasan korupsi top
down.
Indonesia
pun berharap banyak pada presiden dan wakil presiden hasil Pilpres 2014, yaitu Jokowi-JK.
Diharapkan Jokowi dan Jusuf Kalla mampu menjadi pioner dalam memberantas
korupsi tanpa memandang bulu. Ini bisa dilakukan melalui berbagai cara. Salah
satunya adalah dengan lebih memperkuat KPK, baik dari segi kewenangannya maupun
sumber dayanya. Kepemimpinan Jokowi-JK juga diharapkan bisa membuat KPK dengan
dua lembaga penegak hukum lainnya, kejaksaan dan kepolisian bisa harmonis,
sehingga tidak ada lagi istilah cicak dan buaya dalam memberantas korupsi.
Politisi
harus menjadi target yang paling utama untuk bisa meminimalisir korupsi, karena
mau tidak mau, suka tidak suka, korupsi sering kali di era demokrasi langsung
dewasa ini bermula dari (oknum) politisi. Politisi di Republik Indonesia,
meminjam pikiran Weber, sebaiknya bukan pencari kerja, tetapi mereka yang sudah
mapan secara ekonomi. Mapan secara ekonomi pun menurut saya tidak cukup, tetapi
mereka yang sudah bebas dari dirinya. Artinya, politisi yang dibutuhkan adalah
mereka yang benar-benar mendedikasikan dirinya demi kepentingan bangsa dan
negara di atas kepentingan pribadi dan kroni-kroninya.
Untuk
menghasilkan politisi seperti itu, dibutuhkan peran partai politik dalam
melakukan kaderisasi. Jangan sampai rekrutmen yang dilakukan hanya pada mereka
yang berduit, tanpa melihat kapasitas dan integritas yang dimilikinya. Tentunya
konsistensi dari partai politik dibutuhkan untuk bisa menghasilkan politisi
bukan pencari kerja.
Diharapkan
Jokowi bisa membuat payung hukum dalam memperbaiki sistem kaderisasi parpol dan
persyaratan politisi yang bisa maju dalam pemilihan legislatif maupun ekskutif.
Dengan seperti itu, maka akan ada filterisasi
politisi yang masuk dalam ranah parlemen dan pemerintah. Apabila hal ini bisa
dilakukan, maka saya pribadi yakin dan percaya, korupsi akan bisa diminimalisir
dan para politisi akan bekerja dengan satu nafas, yaitu mencapai cita-cita
kemerdekaan Republik Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)







.jpg)

