hidup

  • Indonesia.
  • Perkampungan Sasak.
  • Kantor Gubernur.
  • Sukarno.
  • Lombok.

Saturday, 2 February 2013

MEMBANGUN WWP LEBIH BAIK


Oleh: Dedet Zelthauzallam
Setelah sekitar 15 bulan Angkatan XXII sebagai praja, kita sudah merasa bahwa IPDN sebagai pendidikan tinggi kepamongprajaan tidak lepas dari namanya kekuraangan. Kekurangan pasti ada dalam setiap organisasi apalagi seperti IPDN. Tetapi setidaknya kita sebagai bagian dari IPDN harus sama-sama memperbaiki kekurangan tersebut. Setidaknya mulai dari Wahana Wyata Praja (WWP) yang merupakan organisasi praja, kalau diluar Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM).
Apabila kita amati WWP ini tidak terlalu memberikan kinerja dan kontribusi yang kurang maksimal bagi praja, apalagi di kampus regional. Bisa kita katakan antar kampus pusat dengan tujuh kampus regional tidak ada pedoman dalam penyatuan tujuan dan visi organisasi WWP. WWP kampus pusat harus menjalin hubungan dengan WWP kampus regional karena kampus pusat berfungsi melakukan pembinaan dan pengarahan. Komunikasi dan koordinasi antar WWP perlu lebih ditingkatkan lagi, khususnya diangkatan XXII yang sedang pengkaderan.
WWP merupakan cerminan organisasi perangkat daerah. Ini berarti sistem organisasinya menyesuaikan dengan organisasi perangat daerah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh rekan-rekan angkatan XXII dalam struktur WWP yang masih keliru diantaranya:
1)    Gubernur dan Wagub Praja atau Bupati dan Wabup Praja harus dipilih langsung oleh masyarakat praja. Ini sebagai wujud adanya demokrasi di masyarakat praja.
2)    DPW (Dinas Peranan Wanita)
Kalau bisa kata peranan diubah menjadi pemberdayaan agar tupoksinya lebih luas dan jelas.
3)    Sekwan (Sekertaris Dewan)
Mungkin ada pemahaman yang kurang mengenai pengangkatan sekwan (kampus regional Manado). Sekwan bukan diangkat dari DPP tetapi dari perangkat daerah (PNS). Di organisasi perangkat daerah Sekwan bukan anggota DPR tetapi PNS karir yang ditunjuk oleh gubernur atau Bupati/walikota. Jadi di WWP sekwan bukan diangkat dari kader DPP.
Hal-hal yang perlu dilakukan WWP selanjutnya:
1.    WWP Jatinangor harus memberikan pedoman kepada seluruh WWP kampus regional dalam penyatuan tujuaan dan visi baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang maupun renstranya.
2.    Menambah Badan di WWP yaitu Badan Perencanaan WWP. Ini seperti Bapeda di daerah. Badan ini berfungsi untuk menyusun rencana-rencana yang akan dilaksanakan WWP sehingga anggaran yang dibutuhkan dalam jangka waktu tertentu bisa diketahui oleh lembaga.

Ini merupakan hal-hal yang perlu diperbaiki kedepan oleh kita akatan XXII, khususnya yang menjadi fungsionaris di angkatan kita. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan memperbaiki lembaga kita khusnya WWP. Mulailah dari angkatan kita agar kita bisa mewariskan hal yang baik kepada adek-adek kita, agar bukan hanya tali kur, pin dan mangkok saja kita tinggalkan tetapi yang lebih penting adalah panduan dalam meningkatkan kualitas WWP dan kapabilitas praja dalam berorganisasi.
…..Bhinneka Nara Eka Bhakti???

…..MARI JADIKAN ANGKATAN XXII SEBAGAI PIONER DALAM MEMPERBAIKI WWP...

Catatan:
Artikel ini tujuannya hanya untuk meberikan saran demi kebaikan WWP ke depan. Mohon masukan dari rekan-rekan semua mungkin masih ada hal-hal lain lagi.

Friday, 1 February 2013

3K SYARAT MENJADI PEMIMPIN POLITIK


Oleh : Dedet Zelthauzallam
Dalam Islam setiap manusia adalah pemimpin, paling tidak sebagai pemimpin dirinya sendiri dan keluarganya. Jadi dengan kata lain semua manusia adalah pemimpin. Tetapi dalam pertumbuhan dan perkembangan pemimpin (baca manusia) yang makin hari makin banyak jumlahnya membutuhkan seorang yang mampu mengkoordinir pemimpin-pemimpin (baca manusia) itu agar keadaan tetap aman dan kondusif. Manusia harus membuat pemimpin dari mereka sendiri atau menunjuk salah satu dari mereka. Inilah awal mula dari proses adanya pemimpin.
Di zaman sekarang ini yang disebut pemimpin itu adalah mereka yang duduk dalam posisi strategi atau tertinggi dalam lembaga organisasi/ pemerintahan, seperti Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden, Direktur, Menejar dan sebagainya. Di Indonesia yang menganut sistem demokrasi seorang pemimpin dalam pemerintahan harus dipilih secara langsung melalui suatu proses pemilu. Pemilu ini merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui siapa yang bisa menjadi pemimpin bagi pemimpin (baca masyarakat).
Setelah memperhatikan situasi dan kondisi proses pelaksanaan pemilu yang berlangsung di Indonesia baik di pusat dan daerah, maka untuk bisa menjadi pemimpin politik harus memenuhi syarat yaitu 3K. 3K yang dimaksud adalah kemauan, kapabalitas dan kepercayaan. Tiga hal ini, tidak bisa dipisahkan. Salah satu dari ketiga syarat tersebut harus dimiliki oleh calon pemimpin politik.
Kemauan merupakan hal dasar yang harus dimilki oleh setiap orang yang ingin maju sebagai calon. Setelah memilki kemauan maka hal yang kedua adalah kapabalitas yaitu kemampuan yang harus dimiliki setiap calon. Baik dari segi intelektual, sosial dan spritual serta paling penting adalah materiil (uang). Seorang calon harus memiliki kemampuan dalam bagaimana mendapatkan simpati rakyat sehingga mampu mendulang suara yang banyak. Uang juga sangat berperan penting, tanpa modal yang besar akan mengurangi calon tersebut tidak bisa membantu dan melakukan kegiatan di masyarakat.
Hal yang terakhir adalah kepercayaan. Kepercayaan ini kita bisa katakan berasal dari dua aspek yaitu kepercayaan vertikal dan horizontal. Kepercayaan vertikal maksudnya adalah calon tersebut memang benar sudah ditakdirkan menjadi pemimpin oleh Allah, Tuhan YME. Sedangkan kepercayaan horizontal adalah rakyat sudah mempercayakan calon ini menjadi pemimpinnya.

 

PANASNYA TENSI POLITIK MENUJU 2014


Oleh : Dedet Zelthauzallam
Tahun 2013 banyak kalangan menyebutnya sebagai tahun pencitraan politik. 10 parpol yang berhak mengikuti pemilu 2014 bersaing dalam mengambil hati rakyat. Sikut menyikut antar partai pasti akan terjadi demi memenangkan pemilu legeslatif baik di tingkat daerah kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Kemenangan parpol di pemilu legeslatif akan membuat parpol tersebut bisa mengusung RI- 1 tanpa melalui koalisi dengan partai lain.
Tensi politik menuju 2014 sudah sangat terasa. Lihat saja bagaimana 10 parpol ini mebangun kekuatan dalam menghadapi pemilu. Parpol sibuk menyiapkan kader-kader terbaiknya menuju pemilu legeslatif demi meraih suara terbanyak. Ditengah-tengah kesibukan parpol tersebut juga muncul berbagai masalah diinternal partai dari perpecahan sampai kasus yang melanda petinggi parpol. Itulah dunia politik yang banyak orang menyebutnya sebagai tempat yang sangat kejam. Cocok sekali dengan apa yang dikatakan oleh Sukarno : “ tidak ada teman yang abadi, tidak ada lawan yang abadi, yang abadi itu hanyalah kepentingan”.
Beberapa waktu lalu Partai Nasdem, yang notabennya adalah satu-satunya partai baru dilanda masalah dari mundurnya Hary Tanoesoedibjo yang diikuti oleh beberapa kader. Hary Tanoe mempuyai jabatan sebagai ketua pakar pembina partai Nasdem setara dengan Ketua Dewan Pembina di Partai Demokrat. Hary memiliki andil besar dalam membangun partai Nasdem. Bos MNC TV tersebut bisa dikatakan mengeluarkan banyak dana dalam mensosialisasikan Partai Nasdem. Keluarnya Hary dipicu oleh keinginan Surya Paloh mengambil alih menjadi ketua umum Partai Nasdem.
Dan yang paling terbaru adalah kasus yang dialami oleh presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq. Luthfi diduga menerima suap dari dua direktur PT Indoguna Utama, Arya Abdi Effendi dan Juard Effendi. Perusahaan itu bergerak di bidang impor daging. Diduga perusahaan ini meminta Luthfi untuk mengatur kuota daging impor. Luthfi sudah ditahan oleh KPK untuk menjalani pemeriksaan.
Selanjutnya, kita akan menunggu apa yang akan terjadi dalam proses menuju pemilu 2014. Apakah akan muncul lagi kasus lain yang akan menimpa para politisi di negeri ini. Bagaimana strategi politik yang akan dilakukan oleh parpol untuk mengubah citra di mata rakyat. Bisa dikatakan politisi di negeri ini tidak ada yang bersih dari namanya korupsi. Rakyat sudah sangat bosan dengan keadaan ini. Krisis kepercayaan rakyat terhadap politisi makin hari makin menipis.
  

RANGKUMAN KULIAH STATISTIKA SOSIAL “TEHNIK PENGAMBILAN SAMPEL”



Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan yaitu:
1.      Akurasi atau ketepatan
 yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolok ukur adanya “bias” atau kekeliruan  adalah populasi.
2.      Presisi
Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita  dengan karakteristik populasi. Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik populasi sepenuhnya. Oleh karena itu dalam setiap penarikan sampel senantiasa melekat keasalahan-kesalahan, yang dikenal dengan nama “sampling error” Presisi diukur oleh simpangan baku (standard error). Makin kecil perbedaan di antara simpangan baku yang diperoleh dari sampel (S) dengan simpangan baku dari populasi (s), makin tinggi pula tingkat presisinya. Walau tidak selamanya, tingkat presisi mungkin  bisa meningkat dengan cara menambahkan jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampelnya ditambah ( Kerlinger, 1973 ).
Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu sebagai berikut:
1)      sampel acak atau random sampling / probability sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Probability sampling adalah cara pengambilan sampel dengan memberikan kesempatan yang sama bagi anggota populasi untuk terambil sebagai sampel.Yang tergolong tehnik ini adalah sebagai berikut:
a.       Simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata/tingkatan anggota populasi tersebut.
b.      Proportionate stratified random sampling adalah pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara proporsional, teknik ini digunakan apabila anggota populasi tidak homogen berkaitan dengan karakteristik yang diteliti.
c.       Disproportionate random sampling adalah pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata tetapi sebagian ada yang kurang proporional.
d.      Area sampling (sampel kluster ) adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara mengambil wakil dari tiap wilayah gewografis yang ada.

2)      Sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling adalah setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sample atau teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada setiap anggota populasi untuk terambil sebagai sampel. Yang termasuk sampel ini adalah sebagai berikut:
a.       Sampling sistematis adalah pengambilan sampel yang didasarkan pada urutan anggota dalam populasi secara seragam. S
b.      Sampling kuota adalah teknik pengambilan sampel dengan menetapkan jumlah (jatah ) sesuai dengan pertimbanga peneliti. Selanjnya jatah itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil sampel.
c.       Sampling aksidental adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yangsecara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dijadikan sampel.
d.      Purposive sampling adalah pengambilan sampel dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti. Misalnya peneliti ingin mengetahui tentang jenis penyakit warga desa tambakmekar maka yang dipilih menjadi sampel adalah para dokter, bidan atau mantri di puskesmas desa.
e.       Sampling jenuh yaitu pengambilan sampel dengan cara menjadikan seluruh anggota populasi menjadi sampel.
f.       Snowball sampling (getuk tular) adalah teknik pengambilan sampel dengan cara mengambil jumlah sampel sedikit terlebih dahulu, lalu dari jumlah yang sedikit tersebut berkembang menjadi banyak. Misalnya peneliti ingin mengetahui latar belakang keluarga para pecandu narkoba di suatu tempat, maka peneliti dapat memulai dari satu atau dua orang responden dahulu, selanjutnya dari informasi responden tersebut peneliti dapat menambah jumlah respondennya.

Sumber :